Jumat, 29 Juni 2012


A. Latar Belakang


Muhammad Abduh memulai gerakan pembaruannya dengan mengingatkan kaum muslimin akan intervensi penguasa politik di dalam penulisan hadis. Ia menulis,


“Tidak pernah Islam ditimpah musibah yang lebih besar dari pada yang diada-adakan oleh para pemeluknya dan oleh kebohongan-kebohongan yang dibuat oleh orang orang ekstrim. Ini telah menimbulkan kerusakan dalam pikiran kaum muslimin dan prasangka buruk dari non islam terhadap tonggak-tonggak agama ini. Dusta telah menyebar berkenaan dengan agama Muhammad sejak abad-abad yang pertama, sudah diketahui sejak zaman Nabi saw”. [1]


Dari ungkapan yang di atas tergambar dengan jelas bahwa Islam pada dasarnya adalah murni ajarannya, namun oleh karena sebagian pemeluknya yang memeluk Islam secara tidak kaffah telah menodai kemurniannya, dan yang lebih parah karena itu dilakukan oleh pemeluknya sendiri yang mengaku juga Islam. Oleh karena itu menjadi tugas yang berat bagi generasi selanjutnya untuk menemukan kemurnian Islam itu kembali.
Kejayaan Islam terjadi pada masa Nabi Muhammad S.A.W di mana seluruh manusia mengakui kekhalifahannya, beliau adalah pembawa wahyu yang menjelaskan segala permasalahan umatnya, setelah wafatnya digantikan lagi oleh 4 khalifah yang memiliki ciri yang berbeda-beda serta situasi yang berbeda pula. Khalifah pertama setelah Rasulullah saw adalah Abu Bakar Assidiq, khalifah kedua adalah Umar bin Khattab yang terkenal sangat tegas dalam masa pemerintahannya, setelah itu Usman bin Affan yang memiliki sifat yang sangat berbeda dengan Umar bin Khattab namun karena kebaikannya itu justru menjadi kekuatan bagi keluarganya untuk memanfaatkan kebijakan-kebijakan beliau, serta ini pula yang menjadi faktor terjadinya pemberontakan terhadap beliau, khalifah ke empat Ali bin Abi Thalib tercatat dalam sejarah masa yang paling sulit yang dihadapi oleh beliau oleh karena ia menjadi khalifah ketika kondisi yang begitu sulit terkendali.

Di dalam makalah ini penulis hanya akan mengulas sedikit tentang kisah perjalanan Usman bin Affan khalifah ketiga setelah wafat Rasulullah saw, sebab ia menjadi bagian sejarah yang tak terlupakan. Selama pemerintahannya menjadi kontroversial oleh karena pertengahan akhir pemerintahannya mendapat kritik dari kalangan sahabat-sahabatnya atas kebijakan-kebijakannya yang dinilai nepotisme.

Beliau dikenal sebagai orang yang sangat pemalu, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW berkata:

“Umatku yang benar-benar pemalu adalah Usman”[2]

Kemurahan dan rasa malunya membawanya kepada kemudahan, kegembiraan dan keyakinan menuju majelis Rasulullah saw di mana ia membai’at beliau atas agama yang benar dan atas setiap yang ditetapkan oleh agama, barupa tanggung jawab dan kewajiban. Usman adalah salah satu dari lima atau tujuh orang yang pertama kali masuk Islam.

Dengan pertimbangan senioritas serta kepribadian beliau maka wajar jika dia terpilih sebagai khalifah ketiga setelah Umar bin Khattab, namun gambaran yang ada dalam pikiran banyak orang di antara kita tentang Usman dan pemerintahannya mengisyaratkan bahwa jalan menuju masa itu adalah sulit dan berat, sebagaimana disyaratkan bahwa masa itu penuh dengan pertentangan dan problem serta fitnah-fitnah.[3]

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis akan membahas pada dua aspek, sebagai pedoman dalam pembahasan, yaitu:

1. Bagaimana bentuk nepotisme pada masa Usman bin Affan?

2. Apa penyebab terjadinya pemberontakan pada masa Usman bin Affan?


USMAN BIN AFFAN NEPOTISME DAN PEMBERONTAKAN

1. Riwayat Hidup dan Kekhalifahan

Nama lengkap Usman bin Affan adalah Usman bin Affan bin Abi al-‘Ash bin Umayyah bin Abdus Syams bin Abd Manaf bin Qushayyi bin Kilab nasabnya dari keturunan Umayyah salah satu pembesar Quraish. Bapaknya bernama Affan dan ibunya bernama Urwah binti Kuraiz dari Bani Syams juga.[4] Usman dilahirkan pada tahun keenam tahun gajah. Ia lebih muda dari Nabi enam tahun. Di masa anak-anak dan masa remajanya, ia hidup boros, seperti orang-orang Quraish umumnya, terutama Bani Umayyah. Sesudah Rasulullah diutus oleh Allah ia termasuk yang mula-mula masuk dalam Islam. Dalam riwayat yang lain bahwa ia tumbuh dengan akhlak yang mulia, dan beografi kehidupan yang sangat baik, rendah hati, jujur. ia pemalu, dan sangat pemalu.[5] Sebab-sebabnya ia masuk Islam para sejarawan menyebutkan beberapa sumber, yang sebagian dapat kita catat di sini.

Sewaktu pertama kalai Nabi Muhammad menyerutkan Islam, Usman berusia 34 tahun. Pada suatu malam ia bermimpi mendengar seseorang memanggil-manggil dirinya, “bangunlah! Engkau tiduran saja, sedang Ahmad sibuk berdakwah di Makkah”. Setelah bangun dari tidurnya, jiwa dan pikiran Usman penuh dengan ilham ketuhanan. Maka ia segera menemui Nabi Muhammad dan menyatakan diri masuk Islam.[6]

Setelah Usman bin Affan masuk Islam dia menikahi Ruqayyah anak Rasulullah saw, ketika itu umur Ruqayyah belum mencapai 20 tahun kendati itu bukan putri Rasulullah saw yang tertua, sementara umur Usman ketika itu sudah hampir 40 tahun, dan di zaman jahiliah itu sudah pernah menikah dan mendapat julukan Abu Umar.

Setelah wafatnya Ruqayyah beliau menikahi Umi Kalsum, adik Ruqayyah. Tetapi Umi Kalsum juga meninggal ketika ayahnya masih hidup dan alangkah beratnya kesedihan yang harus diderita Usman. Rasulullah menghiburnya dengan mengatakan: “andaikata ada putri kami yang ketiga, niscaya kami kawinkan kepada engkau, “Karena pernikahan Usman dengan Ruqayyah dan kemudian dengan Umi Kalsum itulah, maka kaum muslimin kemudian memberinya gelar dengan Zun Nurain. [7]

Usman tidak ikut perang Badar karena sedang merawat Ruqayyah. Tetapi sesudah tahun berikutnya dan perang Uhud ia juga terjun bersama-sama dengan Muslimin yang lain. Kemudian peranannya dan peranan yang lain-lain waktu itu, tetapi Allah memaafkan mereka. Sebenarnya pihak muslimin pagi itu sudah mendapat kemenangan, tetapi kejadiannya kemudian berbalik menimpa mereka. Pihak Quraisy lalu mengumumkan bahwa Mahammad sudah terbunuh. Berita ini membuat pihak muslimin jadi porak-poranda dan sebagian mereka ada yang lari, tetapi tak lama kemudian pihak muslimin tahu bahwa nabi masih hidup. Mereka segera ke tempat Nabi dan berusaha melindunginya dari serangan Kuraisy.[8]

Menurut Khalid, Muhammad dalam perang Uhud ikut menyerang dan berperang. Akan tetapi ketika pasukan Quraish mengejutkan kaum muslimin dengan serangan yang tak terduga, terdengar suara keras, “Muhammad telah mati” dan suara itu membuat Usman kebingungan, sehingga menyebabkannya lari dari medan perang bersama orang-orang yang lari mundur terdorong oleh kebingungan serupa. Allah menghargai balasan mereka dan menerima permintaan maaf mereka serta turun wahyu mengenai urusan mereka yang mengatakan, bahwa Allah telah memaafkan mereka.[9]

Sesudah perang Uhud Usman juga ikut dalam perang Khandaq, perang Khaibar dan dalam pembebasan Mekkah. Kemudian ekpedisi Hunain, Ta’if dan Tabuk. Dalam semua tugasnya itu ia tidak berbeda dengan muslimin yang lain, tidak harus di depan atau di belakang, sebab dia memang bukan pahlawan perang seperti Hamzah bin Abdul Muthalib , Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqas dan Khalid bin Walid yang telah dapat menggerakkan semangat perang dalam hati mereka dan mendorong mereka terjun ke dalam barisan di medan laga menghadapi maut tanpa ada rasa gentar. Malah orang yang berhati cabar pun akan berangkat di waktu perang, yang dalam barisan demikian ia bukan berada di depan, juga bukan di belakang.[10]

Usman orang yang begitu cinta damai, juga sangat pemurah, dia mengeluarkan hartanya demi kebaikan kaum muslimin. Sesudah Rasulullah saw mengambil keputusan akan menghadapi Romawi di Tabuk dan sudah menyiapkan “Pasukan Usrah”, Usman menyediakan 300 unta lengkap dengan isinya dan 1000 dinar di tangan Rasulullah saw untuk dipergunakan dalam perang itu.[11]

Proses menjadinya khalifah adalah ketika Abu Bakar wafat dan kekhalifahannya diganti oleh Umar bin Khattab berdasarkan wasiat beliau kepada Umar bin Khattab. Dialah khalifah Rasyidah yang pembunuhnya menjadi penyebab kegoncangan Daulah Islam yang baru tumbuh.

Bersamaan dengan itu, sebelum peristiwa penyerangan terhadap dirinya, Umar telah memerintahkan dibentuknya majelis syura yang beranggotakan enam orang, yaitu Ali bin Abi Thalib r.a., Zubair bin al-Awwan r.a., dan Thalhah bin Ubaydillah r.a., Abdur Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Usman bin Affan kemudian ditambahkan kepada enam orang itu, putranya sendiri, Abdullah, agar pendapatnya cenderung pada pemilihan atau penolakan (agar tidak terjadi dead lock-peny). Setelah melalui pendekatan dan diskusi yang panjang, suara kaum muslim ditentukan melalui voting. Sebagian meminta penyerahan jabatan khalifah kepada Ali bin abi Thalib dan sebagian lain meminta diserahkan kepada Usman. Namun Ali, Sa’ad, dan Zubair memilih Usman. Pada hari keempat, setelah wafatnya Umar bin Khattab r.a., Abdurrahman bin Auf pun bergabung bersama mereka. Selanjutnya, penduduk Madinah keluar rumah umtuk membaiat Usman bin Affan r.a. dengan demikian, hari pertama kekhalifaan Usman bertepatan dengan hari pemakaman jenazah Umar. Hal itu terjadi pada awal Muharram 24 H.[12]

Abdur Rahman bin Auf mengundurkan diri dan melepaskan haknya dalam pencalonan supaya suaranya menguatkan apabila timbul perbedaan. Abdur Rahman memulai mengundurkan diri. Kemudian az-Zubair meninggalkan haknya bagi Ali diikuti Sa’ad bin Waqqash yang juga mengundurkan diri dari pencalonan. Dengan demikian pemilihan itu hanya memilih antara Usman dan Ali, sedangkan Abdur Rahman diserahi tugas untuk memilih menentukan salah satu dari keduanya Ali atau Usman.[13]

Setelah itu Abdur Rahman bin Auf naik mimbar Rasulullah lalu berdoa dengan doa yang panjang kemudian berkata, “Wahai orang-orang, aku telah bertanya kepada kalian secara diam-diam maupun terang-terangan, maka tidak kudapati bahwa kalian menyamakan seorangpun dengan Ali dan Usman. Datanglah kepadaku hai Ali. Ali berdiri dan pergi kepadanya, “Apakah engkau akan membaiatku berdasarkan kitab Allah dan sunah Nabinya serta perbuatan Abu Bakar dan Umar? Ali menjawab, “Berdasarkan Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya serta ijtihad pendapatku. Kemudian Abdur Rahman bin Auf berkata, datanglah hai Usman. “Maka Usman datang kepada Abdur Rahman dan tangannya dipegang seraya berkata, apakah engkau mau membai’atku berdasarkan Kitab Allah dan sunah rasul-Nya serta perbuatan Abu Bakar dan Umar? Usman menjawab “Ya”.

Tangan kanan yang pertama menjabat tangan kanan Usman untuk membai’at adalah tangan Ali bin Abi Thalib, baru kemudian diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Demikianlah Usman memikul beban-beban khalifah yang dipikulnya ketika ia hampir mencapai usia 70 tahun.[14]

Usman bin Affan seorang yang lemah lembut walaupun ia mempunyai beberapa kelebihan, tapi dalam hal pemikiran kreatif tidak muncul. Justru kelemah-lembutannya dipergunakan oleh keluarga bani Umayyah yang pernah memegang kekuatan politik sebelum Islam untuk meningkatkan dan mengembalikan kedudukannya sebagai pemimpin kaum Quraisy pada masa Islam. Karena peluang yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga bagi Umayyah untuk menduduki jabatan penting, namun itu pula yang menyebabkan timbulnya berbagai protes dan sikap oposisi yang datang hampir dari seluruh daerah. Gerakan itu berakhir dengan pembunuhan terhadap khalifahan ketiga, Usman bin Affan.[15]

Setelah Usman bin Affan resmi terangkat jadi Khalifah, maka ada beberapa hal yang dilakukan yang tercatat dalam sejarah yang menjadi prestasi dalam masa pemerintahannya antara lain, yaitu:

a. Pasukan Romawi Mendarat di Iskandariah

Pendaratan Romawi di Iskandariah itu jatuh pada bulan-bulan pertama tahun 25 H (664 M), yakni selang setahun dan beberapa bulan sesudah pelantikan Usman. Hampir semua sumber sepakat tentang tahun ini. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa terbunuhnya Umar telah membuat kota Konstantinopel berani cepat-cepat menyambut permintaan penduduk Romawi di Iskandariah itu, dengan perkiraan bahwa dengan kematian Umar, kaum muslimin sudah kehilangan sang guru dan menamatkan era pembebasan yang pada masanya telah membuat Romawi dan Persia mati akal.[16]

Rupanya pihak Arab dalam menghadapi situasi ini serba bingung dan tidak menentu. Mereka meminta pendapat dan bantuan Amirul mukminin di Madinah. Para pemuka di Madinah sependapat, begitu juga kaum muslimin di Mesir, bahwa orang yang akan menghadapi situasi yang begitu penting itu hanya Amr bin Ash. Namanya saja sudah dapat menggetarkan hati pihak Romawi. Kebijakannya memang sudah mendapat tempat dalam hati rakyat Mesir dan mendapat dukungan.[17]

Pasukan Romawi sedang menjelajah seluruh Mesir Hilir tanpa menemui perlawanan. Kendati begitu mereka tidak membiarkan orang-orang Mesir hidup damai. Kebalikannya, segala yang ada pada mereka dirampas paksa dan mereka diperlakukan dengan penghinaan yang sangat keji. Dalam pada itu Amr bin Ash sedang mengatur pasukan dan persiapan perangnya di Babilon. Setelah diketahui bahwa pasukan Romawi sudah mendekati Naqyus ia keluar dan sudah siap hendak menghadang mereka. Ia memimpin pasukan 15.000 orang dengan kepercayaan bahwa jika mereka tak dapat mengalahkan pasukan Romawi mereka akan terpukul mundur kembali ke Semenanjung Arab dengan membawa malu yang tercoreng di kening karena lari.

Tercatat dalam sejarah bahwa Amr bin Ash menang dan mampu membebaskan Mesir, dengan begitu Amr telah membebaskan kembali Iskandariah, dan selesailah sudah pengusiran pasukan Romawi dari mesir untuk kedua kalinya. Antara kedatangan mereka ke Iskandariah sampai kaburnya mereka dari kota itu, sekali ini hanya selang beberapa bulan. Dalam waktu yang begitu singkat Amr telah mampu mencapai tujuannya. Dengan kembalinya muslimin dan pemerintahannya itu, sekali lagi rakyat Mesir merasa lega. Sekarang mereka merasa senang dan tentram sekali setelah sebelum itu mereka melihat pihak Romawi menjarah harta mereka. Sebaliknya sekarang, yang mereka lihat justru pasukan Muslimin mengembalikan harta mereka yang dirampas itu kepada mereka, setelah berhasil merampas kembali harta itu dari pasukan Romawi.[18]

Sebagai catatan bahwa perluasan wilayah pemerintahan Islam bukan atas dasar menganiaya, merampas, memperbudak tetapi karena rasa kemanusian yang ingin membebaskan rakyat dari segala bentuk kezhaliman.

b. Pemecatan Amr bin Ash Sebagai Gubernur Mesir ( 25 H/644 M)

Tidak ada informasi yang jelas mengenai alasan khalifah Usman bin Affan r.a. memecat Amr bin Ash dari jabatan Gubernur. Namun yang jelas, Abdullah bin Abi as-Sarh yang ditunjuk Usman menjadi gubernur Mesir adalah saudara sepersusuannya.

Demikian pula, para komandan pasukan Islam lainnya yang ikut berperang bersama Amr bin al-Ash dalam setiap pertempurannya di mesir. Ketika Amr kembali ke Madinah, dan Ibn Abi as-Sarh tinggal di Mesir, pendapatan pajak meningkat dibandingkan dengan pada masa Amr. Oleh karena itu, Usman mencela Amr atas hal itu seraya menyebutkan bahwa pendapatan pajak meningkat dibandingkan dengan yang diterimanya pada waktu itu. Namun, Amr menjawab bahwa Ibn Abi as-Sarh menaikkan pajak atas setiap orang mesir sampai 50%. Oleh karena itu, kenaikan pajak tersebut hanya merupakan kerugian bagi rakyat mesir. Ibn Abi as-Sarh menjabat gubernur Mesir hingga wafat pada tahun 36 H.

c. Usman bin Affan r.a. Memerintahkan Penyalinan Alquran (25 H/646 M)

Mushaf yang telah dikompilasi pada zaman Abu Bakar r.a., setelah wafatnya, berpindah kepada Umar bin al Khattab r.a., lalu berpindah lagi ke tangan putrinya, Hafshah. Kemudian, khalifah Usman meminta mushaf tersebut hingga dilakukan penyalinannya setelah di beberapa wilayah taklukan tampak terjadi perbedaan dalam membaca teks ayat-ayat al Qur’an.

Usman menugaskan empat orang sahabat besar untuk mengedit teksnya. Mereka adalah Zaid bin Tsabit, Sabit bin al-Ash, Abdullah bin as-Zubair, dan Abdullah bin al-Harits bin Hisyam. Setelah dilakukan penyalinan mushaf dengan dialek Quraisy, ia mengembalikan naskah aslinya kepada Hafshah, lalu naskah salinan dikirimkan ke beberapa wilayah yang telah dikuasai Islam. Selanjutnya, penyalinannya kembali dan pendistribusiannya dilakukan oleh para fukaha dan para ulama.

Adapun, naskah-naskah yang ada sebelumya, yang didalamnya terdapat perbedaan, Usman memerintahkan agar dibakar. Dengan demikian, mushaf yang telah disalin itu dinamakan Mushaf Utsmani, dinisbahkan kepada Usman bin Affan r.a., sebagai penghormatan atas karya besarnya.[19] Masih banyak prestasi-prestasi yang dicapai pada masa Usman bin Affan yang bisa kita dapatkan dalam lembaran-lembaran sejarah Islam.

2. Nepotisme

Salah satu kebijakan Usman pada masa pemerintahannya, yaitu membebaskan para sahabat ke manapun mereka suka. Tindakan ini wajar sesuai dengan watak Usman yang lemah lembut, tak sampai hati, pemurah, dan toleran. Usman mungkin juga sedang memikat hati mereka karena kebijakan-kebijakannya tak jarang bertentangan yang para sahabat dipikirkan. Ia mungkin sudah merasa bahwa ia telah mengambil berbagai kebijakan yang tidak mesti diterima oleh para sahabat. Karena itu, adalah penting baginya untuk mengangkat harkat dan martabat mereka. Dengan begitu mereka diharapan untuk tidak melakukan revolusi atau sekedar marah.

Usman juga telah memberikan kepada orang dekatnya dari Bani Umayyah wewenang untuk mengelolah beberapa kawasan tertentu, sesuatu yang tidak diperkirakan para sahabat sebelumnya. Saat itulah para sahabat mulai terpikat untuk berbondong-bondong keluar ke berbagai kawasan baru Islam. Kontan, mereka terperangah manyaksikan bahwa dunia sangat menyambut kedatangan mereka dan mereka pun bersiap untuk menyambut indahnya dunia.

Renungkanlah jumlah kekayaan lima orang pemuka sahabat yang mempunyai nama besar dalam sejarah Islam. Mereka semua adalah sosok-sosok yang diberi kabar gembira akan memperoleh surga oleh Rasulullah, yaitu enam orang yang diwasiatkan Umar untuk dipilih menjadi penggantinya. Salah satunya adalah khalifah terpilih, yaitu Usman bin Affan. Ada juga az-Zubair bin Awwam Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, dan Abdur Rahman bin Auf, sebagaimana dikisahkan kitab Al-Tabaqat karangan Ibnu Sa’ad. Di situ dikatakan bahwa tatkala Usman terbunuh, di dalam berangkasnya terdapat 30 juta 500 ribu dirham, serta 100 ribu dinar. Semuanya dijarah dan hilang tak tersisa dalam pemberontakan yang mengakhiri hidupnya. Ia juga meninggalkan seribu ekor unta di Rabzah, dan sejumlah pemberian sedekah sekitar 200 ribu dinar untuk Beradis, Khaibar, dan Wadil Qura.

Menurut Maududi:

“Namun Usman bin Affan ketika mengganti kedudukan Umar, mulai menyimpan dari kebijasanaan ini. Sedikit demi sedikit ia mulai menunjuk sanak kerabatnya untuk menduduki jabatan-jabatan penting dan memberikan kepada mereka keistimewaan lain yang menimbulkan protes-protes dan kritikan-kritikan rakyat secara umum.”

Ketika Usman meninggalkan prinsip keadilan para sahabat yang saleh menyampaikan protes dengan berbagai cara. Ketika Sa’ad bin Waqqash, sahabat yang termasuk ashbiqun al-Awwlun diganti dengan Walid ibn Uqbah, Abdullah bin Mas’ud keberatan ia tahu Walid sama sekali tidak layak jadi Gubernur, Ibn Mas’ud mengundurkan diri sebagai bendahara ia menyerahkan kunci Baitulmal kepada Walid: “siapa yang mengubah, Allah akan mengubah apa yang ada pada dirinya. Siapa yang mengganti, Allah akan murka kepadanya. Aku melihat sahabatmu (Usman) telah mengubah dan mengganti, mengapa ia memakzulkan orang yang seperti Sa’ad bin Waqqash dan mengangkat Walid?”[20]

Di tengah kemewahan yang berlimpah seorang sahabat Rasulullah saw tidak suka melihat itu semua, Abu Dzar al Ghifari adalah orang yang selalu memberi peringatan beliau melihat itu semua sebagai bentuk kelalaian khalifah Usman bin Affan maka ia memberi peringatan kepada khalifah namun akibat dari itu Abu Dzar al-Ghifari di kirim ke Syam. Beliau tidak ragu-ragu untuk berangkat ke Syam ketika mendengar berita tentang kemewahan yang luar biasa, pendirian istana-istana, gedung-gedung, rumah-rumah, dan kebun-kebun yang dimiliki serta dinikmati oleh para amir di bawah pimpinan Mu’awiyah dan beberapa sahabat lain yang menurut pendapat Abu Dzar tidak diciptakan untuk kesenangan dan kenikmatan dunia yang fana. Di Syam ia mengibarkan panji oposisi yang hampir merobohkan kedudukan Mu’awiyah.

Muawiyah berusaha memenangkan kemarahannya. Sebenarnya, meskipun ia merasakan adanya bahaya dalam kritikan Abu Dzar al-Ghifari terhadapnya, namun sikapnya terhadap Abu Dzar tetap mengagungkan dan menghomatinya.

Ia cukup menulis kepada khalifah sepucuk surat yang berbunyi, “Abu Dzar telah merusak orang-orang di Syam,” maka datang balasan khalifah dengan segera kepadanya, “kirimkanlah dia kepadaku.”

Abu Dzar kembali ke Madinah dan berlangsung percakapan antara dia dan khalifah di mana masing-masing tidak bisa menerima pandangan yang berbeda. Di sini ada dua riwayat sejarah. Yang satu berkata bahwa khalifah memutuskan untuk mengasingkannya ke Rabdzah, sebuah tempat yang jauh dari Madinah. Yang lain berkata bahwa Abu Dzar sendiri yang meminta kepada khalifah agar mengizinkannya keluar menuju Rabdazah, di mana ia menghabiskan sisa hari-hari di situ.[21] Walaupun berbeda pendapat dengan khalifah namun Abu Dzar tetap sangat menghormati khalifah tanpa ada niat mau melakukan pemberontakan segala keputusan khalifah beliau taati.
Sahabat lain yang melakukan kritik terhadap kebijakan beliau adalah Ammar bin Yasir. Ia adalah seorang sahabat besar, kedua orang tuanya mati syahid di kayu siksaan, di mana Quraisy ingin memadamkan cahaya Allah swt dan Ammar ikut merasakan siksaan yang mengerikan itu. Bersama kedua orang tuanya pula Ammar diberitahu Rasul saw, tentang kabar gembira yang cemerlang ketika mereka sedang mengalami siksaan yaitu. “bersabarlah keluarga Yasir, karena tempat kalian kelak adalah surga.”

Ammar telah berselisih dengan khalifah mengenai beberapa masalah. Barangkali ia menangani perselisihan itu dengan cara yang mengejutkan khalifah, terutama di akhir pemerintahan Usman, di mana sebagian gubernur-gubernur Bani Umayyah telah berlebihan dalam kekerasan terhadap para penentang mereka, tanpa membedakan antara sahabat besar yang menyatakan kebenaran dengan orang yang tendensius dan pura-pura. Mungkin perselisihan antara khalifah dan Ammar diputuskan dengan hak-hak persahabatan yang mahal, yang menggabungkan keduanya dari hari-hari kesulitan dan kemenangan. Bahkan tetap begitu kenyataannya kendati makin hari makin meningkat dengan bergejolaknya jiwa-jiwa yang semakin dipanasi oleh peristiwa-peristiwa dan persekongkolan-persekongkolan.

Telah kita lihat khalifah tidak melupakan Ammar ketika ia memilih di antara sahabat-sahabat utama untuk membentuk panitia pencari fakta. Bahwa ia memilih Ammar, kendati oposisi terhadap khalifah dan mengizinkannnya ke Mesir. Tatkala utusan-utusan khalifah datang kecuali Ammar yang tinggal lama di Mesir, dan kebetulan pada waktu itu di sana ada Abdullah bin Saba, maka para pengadu domba mendapat kesempatan untuk menimbulkan kemarahan khalifah terhadap Ammar dengan menganggap bahwa ia bertemu dengan Abdullah bin Saba dan mengikuti omongannya.

Namun perselisihan yang banyak dicampuri kebencian di luar kebiasaanya di mana khalifah mengandalkan tindakan keras adalah perselisihan yang terjadi antara khalifah dan Abdullah bin Mas’ud, sedangkan Abdullah bin Mas’ud adalah seorang sahabat yang cemerlang pengorbanannya, keberaniaan, serta persahabatannya dengan Rasulullah saw. Perselisihan antara khalifah dan Ibnu Mas’ud menghebat sehingga khalifah menghentikan tunjangannya dari Baitul Maal.[22]

Berbagai cara, bentuk protes yang di lakukan sahabat-sahabat Rasulullah terhadap khalifah, namun tidak ada yang melakukan perlawanan apalagi ingin merusak sistem kekhalifahan semua itu dilakukan agar mereka tidak terlena dalam kemehawan dunia.

3. Sebab-sebab Pemberontakan

Sebab-sebab terjadinya pemberontakan yang berakhir dengan terbunuhnya Khalifah Usman dapat diteliti dari beberapa segi. Pertama, bahwa di tengah-tengah masyarakat terdapat sejumlah kelompok yang memeluk Islam tidak dengan sepenuh kesadaran tetapi melainkan untuk kepentingan tertentu seperti Abudullah ibn Saba’, orang Yaman yang semula pemeluk agama Yahudi. Mereka ini menyebarkan hasutan terhadap Usman. Keberhasilan propaganda jahat Abdullah ibn Saba’ membuat jumlah kekuatan pemberontak bertambah banyak.

Kedua, persaingan dan permusuhan antara keluarga Hasyim dan keluarga Umayyah turut memperlemah kekuatan Usman. Sebelum Nabi Muhammad lahir telah berlangsung persaingan kedua keturunan yang masih bersaudari ini. Pada masa pemerintahan Usman benih kebencian ini tumbuh kembali.

Ketiga, lemahnya karakter kepemimpinan Usman turut pula menyokongnya, khususnya dalam menghadapi gejolak pemberontakan. Bahwa Usman adalah pribadi yang yang sederhana dan sikap lemah lembut sangat tidak sesuai dalam urusan politik dan pemerinthan, lebih-lebih lagi dalam kondisi yang kritis. Pada kondisi yang demikian dibutuhkan sikap yang tegas untuk menegakkan stabilitas pemerintahan. Sikap seperti ini tidak dimiliki oleh Usman. Pada beberapa kasus ia terlalu mudah untuk memaafkan orang lain sekalipun musuhnya sendiri yang membahayakan. Sikap lemah-lembut ini mendorong pihak-pihak yang bermaksud jahat melancarkan maksudnya. Dengan sikapnya karakter Usman yang seperti itulah akhirnya pada tanggal 17 Juni 656 M Usman dibunuh dengan cara ditikam oleh gerombolan pemberontak yang tiba-tiba datang mengepung rumah khalifah Usman pada saat ketiak beliau sedang membaca Alquran. Pembunuhan yang bermotif politik atas diri Khalifah Usman membawa dampak yang panjang terhadap sejarah Islam sesudahnya.

PENUTUP


A. Kesimpulan

1. Usman bin Affan dituduh nepotisme oleh karena telah memberI keistimewaan-keistimewaan kepada keluarganya yang menurut sahabat yang lain telah melanggar aturan pemerintahan, oleh karena banyak sahabat yang lebih pantas dari pada yang diangkat oleh khalifah. Khalifah telah menyalahi bait bahwa dia akan mengikuti sunnah Rasul, Abu Bakar maupun Umar bin Khattab karena telah melenceng dari dua khalifah sebelumnya.

2. Pemberontakan terhadap Usman terjadi oleh banyak faktor yang melatarbelakanginya, namun puncak dari pemberontakan itu terjadi ketika ada surat yang di duga ditulis oleh Usman untuk membunuh Muhammad bin Abu Bakar, yang ternyata yang menjadi pelaku adalah Marwan, namun kekecewaan itu bertambah lagi ketika para sahabat meminta kepada khalifah untuk menyerahkan Marwan tapi tidak dipenuhi oleh khalifah.

Indikator yang kuat tentang pembunuhan Usman adalah karena ada rekayasa terhadap diri beliau untuk menjatuhkan kekhalifahannya, dan itu menjadi sangat jelas ketika dilihat setelah wafatnya beliau di mana Muawiyah menjadikan itu sebagai alasan untuk menuntut darah pembunuh khalifah, namun setelah dia jadi khalifah persoalan siapa pembunuhnya itu tidak dipermasalahkan.

DAFTAR PUSTAKA


Al-Amri, Akram Dhiy. ‘Ashra al-Khila>fah Ar-Ra>syidah, Maktabah al-‘Abikan, tth.


Ali K, Sejarah Islam (Tarikh Pramodern), Cet.4, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003.

Amin, Husain Ahmad. Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam, Cet. IX; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006.


Al-‘Afifi, Abdul Halim. Mausu’ah Alf Hudu>ts Isla>mi diterjemahkan oleh Irwan Kurniawan dengan judul 1000 Peristiwa Dalam Islam, Cet. I; Bandung: Pustaka Hidayah, 2002.


Fouda, Faraq. al-Haqiqah Gyaibah diterjemahkan oleh Novriantoni dengan judul Kebenaran Yang Hilang Sisi Kelam Praktik Politik Dan Kekuasaan Dalam Sejarah Kaum Muslimin, Cet. II; Jakarta: Paramadina, 2008.


al-Ghabba>n, Muhammad bin Abd al-Allah. Fitnah Maqtal Usma>n bin Affa>n, Jilid I Maktabah al-‘Abi>ka>n, tth.

Haekal, Muhammad Husain. Usman bin Affan, Cet. V; Bogor: Pustaka litera Antarnusa, 2007.

Khalid, Khalid Muhammad. Khulafa ar- Rasu>l, Cet. I; Jakarta: Pustaka Amani, 1995.

Pulungan, Suyuti. Fiqh Siyasah Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Cet. V; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002.

Rakhmat, Jalaluddin. Islam Dan Pluralisme, Cet. II; Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006.

As-Suyuthi, Imam. Tarikh Khulafah di terjemahkan oleh Samsun Rahman dengan judul Sejara Para Penguasa Islam, Cet. I; Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar, 2001.

Syariati, Ali. A Glance At Tomorrom’s History diterjemahkan oleh Satrio Pinandito dengan judul Menyambut Sang “Juru Selamat” Sekilas Tentang Sejarah Hari Esok, Cet. I; Bandung: Pustaka Hidayah, 2006.

[1]Lihat Jalaluddin Rakhmat, Al Mustafa Pangantar Studi Kritis Tarikh Nabi Saw (Cet. I; Bandung: Muthahhari Press, 2005), h. 7-8.

[2]Lihat Muhammad Husain Haekal, Usman bin Affan (Cet. V; Bogor: Pustaka litera Antarnusa, 2007), h. 33-34

[3] Ibid., h. 207

[4]Lihat Akram Dhiy al-Amri, ‘Ashra al-Khila>fah Ar-Ra>syidah (Maktabah al-‘Abi>ka>n, tth), h. 80. Lihat pula Muhammad bin Abd al-Allah al-Ghabba>n, Fitnah Maqtal Usma>n bin Affa>n, Jilid I (Maktabah al-‘Abi>ka>n, tth), h. 35.

[5]Ibid., h.

[6]Prof. K. Ali, Sejarah Islam (Tarikh Pramodern) (Cet.4, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003) h. 178

[7]Ibid., h. 38

[8]Ibid., h. 39

[9]Lihat Khalid Muhammad Khalid, Khulafaur Rasul., op.cit., h. 235-236.

[10]Lihat Muhammad Husain Haekal, Usman bin Affan, op.cit., h. 40

[11]Ibid., h. 41

[12]Lihat Abdul Halim al-‘Afifi, Mausu’ah Alf huduts Islami diterjemahkan oleh Irwan Kurniawan dengan judul 1000 Peristiwa Dalam Islam (Cet. I; Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), h. 85-86. Lihat Akram Dhiy al-Amri, ‘Ashra al-Khila>fah, op.cit., h. 56.

[13]Lihat Khalid Muhammad Khalid, Khulafaur Rasul., op.cit., h. 243

[14]Ibid., h. 244-245. Dalam riwayat lain orang yang pertama membai’atnya adalah Ali, ada juga yang mengatakan Ali orang yang terakhir membai’tnya. Lihat Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Sirah Nabawiyah Analisis Ilmiah Mahhajiah…,op.cit., h. 487

[15]Lihat Masyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik (Cet. I; Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 31-32.

[16]Lihat Muhammad Husain Haekal, Usman bin Affan, op.cit., h. 69.

[17]Ibid., h.

[18]Ibid., h. 75

[19]Lihat Abdul Halim al-‘Afifi, Mausu’ah Alf Huduts Islami.., op.cit., h. 86-87. Lihat pula Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Sirah Nabawiyah Analisis….op.cit., h. 491

[20]Lihat Jalaluddin Rakhmat, Islam Dan Pluralisme (Cet. II; Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006), h. 245-246

[21]Lihat pula Khalid Muhammad Khalid, Khulafaur Rasul., op.cit., h.

[22]Ibid., h.

2 komentar:

Poskan Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!