Selasa, 11 Desember 2012

A. Latar Belakang

Adalah Haji Zamzam pendiri Persatuan Islam Kiai Hasyim Ashari pendiri Nahdlatul Ulama dan Kiai Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah serta Ahmad Surkati Pendiri Al – Irsyad. Mereka adalah pejuang agama dan negara. Yang tak hanya membaktikan dirinya pada pengembangan agama yang dibawa Rasulullah SAW akan tetapi turut juga menyuburkan semangat nasionalisme yang mengantarkan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Bila Haji Zamzam, Kiai Hasyim Ashari atau Kiai Ahmad Dahlan hingga kini dibicarakan dan dikenang dengan penuh hormat, tidak demikian dengan Ahmad Surkati, pendiri Al – Irsyad yang bahkan dikenal sebagai guru Haji Zamzam, Ahmad Dahlan dan Al – Hasan ini bagai “anak hilang” dalam sejarah pergerakan sejarah di negeri ini. Mungkin ketak populeran Ahmad Surkati berkaitan dengan sifat dan dasar berdirinya Al – Irsyad yang berbasis masa keturunan Arab, konsentrasi garapan organisasi ini di bidang sosial dan pendidikan. Mungkin pula surkati hanyalah imigran asal Sudan, dan bukan tokoh asli pribumi, factor lain barang kali ketidak sukaan Ahmad Surkati dan Al – Irsyad sendiri terhadap kultus individu, sebagaimana yang apa yang telah diperjuangkannya sejak berdiri organisasi ini sejak tahun 1913.Surkati dilahirkan dipulau Arqu dekat Dongola pada tahun 1875 atau 1876. Dia berasal dari keluarga berpendidikan, ayah dan kakeknya menempuh pendidian di mesir dan ayahnya lulusan Al – Azhar. Surkati menerima pendidikan awal dari ayahnya serta menghafal Al – Qur’an pada usia belia. Ahmad Surkati dengan nama lengkapnya adalah Ahmad Bin Ahmad Surkari Al – Ashari, banyak belajar agama dari ayahnya, Muhammad seorang terpelajar lulusan Al – Azhar Kairo Mesir. Belajar dan menetap di Hejaz selama 15 tahun, untuk menimba ilmu – ulmu hadist. Dan karena kecerdasannya ia di minta mengajar di Mekkah.

Melihat sukses yang dicapainya di Mekkah, wajar bila orang merasa keheranan Surkati menerima undangan suatu organisasi kecil (jamiat khair), berpindah dari kota suci islam kedaerah jajahan yang jauh. Kepindahan ini di bicarakan luas oleh kalangan muslim melalui dunia pers arab internasional. Surkati sendiri menyatakan bahwa ia berpindah ke hindia karena ia merasa dapat lebih menyumbang dan lebih bermanfaat bagi islam di sini. Ia berkata,”antara kematianku mengejar iman di jawa dan kematianku tanpa mengejar iman di makkah, aku memilih jawa”.Dan pahlawan ahmad surkati adalah terhadap praktek – praktek beragama yang menyimpang serta heterodoks (yang di pengaruhi animism, hindu, dan budha). Maka dari itu surkarti memandang perlu praktek – praktek agama tersebut dikembalikan pada ajaran yang benar.

B. Bigrafi dan Pendidikannya

Ahmad Surkati lahir di desa Udfu, Jazirah Arqu, daerah Dongula, Sudan, 1292 H atau 1875 M. ayahnya bernama Muhammad dan diyakini masih mempunyai hubungan keturunan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari. Karena masuh keturunan Jabir bin Abdullah al-Anshari maka Muhammad memakai nama tambahan al-Anshari. Mengacu dari nama ayahnya, secara lengkap nama Ahmad Surkati adalah Syekh Ahmad Muhammad Surkati al-Anshari.

Sebutan “Surkati” yang berarti “banyak kitab” (Sur menurut bahasa setempat artinya “kitab”, dan katti menunjukkan pengertian “banyak”) dibelakang nama Syekh Ahmad, diambil dari sebutan yang dilekatkatkan pada neneknya yang memperoleh sebutan itu karena sepulangnya dari menuntut ilmu di Mesir ia membawa banyak kitab.

Ayah Ahmad Surkati yang keluaran Al-Azhar juga mewarisi sebutan yang sama. Dan seperti neneknya, ayah Ahmad Surkati memiliki pila banyak kitab. Dengan kata lain, Ahmad Surkati lahir dari keluarga terpelajar dalam ilmu agama Islam. Menurut penuturan saudara kandungnya, sejak kanak-kanak Ahmad Surkati telah ditandai kelebihan berupa kejernihan pikiran dan kecerdasan. Hal ini mendorong ayahnya cenderung memperlakukan di lebih istimewa disbanding saudara-saudara kandungnya yang lain.

Semenjak kecil ia pula sering diajak bepergian menghadiri pengajian-pengajian atau majelis yang bersifat ilmiyah, yang dihadiri para guru agama. Dengan begitu Ahmad Surkati ikut mendengarkan diskusi-diskusi agama, karena kecerdasannya dalam menghafal al-Quran dia tidak menemui kesulitan seperti teman-temannya, kebiasaan menghafal itu berlanjut di usia yang tua. Ini terjadi di Masjid al-Qulid, suatu lembaga al-Quran yang terkenal dimasa itu. Menghafal al-Quran sendiri adalah bentuk permulaan dari pendidikan agama Islam. dalam waktu relatif singkat Ahmad Surkati ternyata bisa menamatkan pelajaran menghafal Al-Quran di masjid al-Qulid.

Tamat dari Masjid al-Qaulid sang ayah mengirimkan dia ke Ma’had Sharqi Nawi, pesantren yang dipimpin oleh seorang ulama besar dan terkenal di Dongula. Semenjak peristiwa itu Ahmad Surkati belajar lebih tekun dan berusaha mengikuti peraturan serta disiplin Ma’had hingga dia bias menamatkan pelajarn di Ma’had Sharqi Nawi.
Sehabis dari Ma’had Sarqi Nawi di Dongola, ayahnya menginginkan Surkati juga menimba ilmu dimana ayahnya dulu pernah belajar, yakni Al – Azhar Mesir, namun hal itu tidak terlaksana dikarenakan pemimpin mesir ketika itu Abdullah Al – Ta’ayishi, tidak memperkenankan siapa saja orang sudan pergi ke Mesir. Dan Sudan saat itu (abad 19) di bawah kekuasaan Mesir, akan halnya Ahmad Surkati, dia ternyata tak lama bermukim di Mekkah. Dari keterangan kawannya yang berada di Mekkah pada Sati Muhammad, diketahu Ahmad Surkati berada di Mekkah hanya sementara karena dia meneruskan perjalanan ke Madinah.

A. Di Madinah

Ahmad Surkati bermukim di Madinah sekitar empat setengah abad untuk memperdalam ilmu agama islam dan bahasa Arab. Guru – guru Ahmad Surkati di Madinah antaranya adalah dua ulama besar ahli hadist di Maroko, syeh Salih dan syeh Umar Hamdan. Ia juga belajar Al-Qur’an pada ulama ahli qira’at, yakni Syekh Muhammad Al-Khuyari Al-Maghribi ; belajar fikih dari ahli fikih yang tergolong wara’, yaitu Syekh Ahmad bin Al-Haji Ali Al-Mahjub dan Syekh Mubarak Al-Nismat; serta berguru bahasa Arab dari ahli bahasa bernama Syekh Muhammad al-Barzanji.
Setelah merasa memperoleh bekal ilmu di Madinah, selama empat setengah tahun, ia meneruskan meuntut ilmu lebih lanjt dan tidak ada niat pulang ke Sudan. Demikianlah hingga dalam suratnya kepada saudaranya Sati Muhammad, kendati tidak memberi alasan, Ahmad Surkati menyatakan bertekad menuntut ilmu dan bermukim di Mekkah.

B. Di Mekkah

Ahmad Surkati Setelah menetap di Madinah maka ia kembali menetap di Mekkah pada tahun 1314 H/1896 M selama 11 tahun untuk belajar dan memperdalam ilmunya, terutama fiqh madzhab syafi’i. Hingga ia sempat memperoleh gelar al-Allamah dari Majlis Ulama Makkah. Menurut Sati Muhammad, Ahmad Surkati adalah satu – satunya orang Sudan yang pertama kali namanya terdaftar sebagai ulama Makkah. Sesudah menamatkan pelajaran dari guru-gurunya dan memperoleh gelar al-Allamah pada tahun 1326 H, Ahmad Surkati mendirikan Madrasah swasta di Mekkah dan mendapat sambutan baik, disamping mengajar di madrasahnya ia juga mengajar secara tetap di Masjid Haram.

Dalam upaya memperluas pandangannya, lebih khusus ilmu agama, selama di Mekkah ia banyak berhubungan surat menyurat dengan ulama Al-Azhar, hingga pada waktu datang utusan dari Jam’iat Khair untuk mecari guru ulama Al-Azhar menunjuk namanya dan menganjurkan utusan itu berhubungan langsung dengan Ahmad Surkati di Mekkah.
Setelah utusan Jam’iat Khair itu menemuinya, menurut Sati Muhammad, Ahmad Surkati bias menerima tawaran itu dan bermaksud segera meninggalkan Mekkah menuju Hindia Timur (nama Indonesia ketika itu) dan ketika suratnya dikirim pada Ahmad Surkati, ternyata ia sudah menyiapkan diri untuk berangkat ke Jawa ditemani dua orang kawan dekatnya Syekh Muhammad Abd al-hamid al-Sudani dan Syekh Muhammad Tayyib al-Maghribi.

C. Di Indonesia

Sejarahnya tiba di Indonesia adalah ketika didatangkan Pengurus Jamiat Khair, suatu perguruan yang pengurus dan anggotanya terdiri dari orang-orang Indonesia keturunan Arab. Dikatakan Ahmad Surkati datang ke Indonesia di tahun 1329 H atau 1911 M. Maksud pengurus Jamiat Khair mendatangkan Ahmad Surkati ialah dalam rangka memenuhi kebutuhan guru. Menurut Deliar Noer, sekolah Jamiat Khair bukan lembaga pendidikan yang semata-mata bersifat agama, tetapi juga mengajarkan berhitung, sejarah, dan pengetahuan umum lainnya.

Kedatangan Surkati di Jakarta di sambut gembira dan penuh hormat oleh pengurus dan warga Jami’at khair, bahkan salah seorang pemukanya, syekh Muhammad bin Abd al-Rahman Shihab menyerukan kepada masyarakat Arab untuk menghormati Ahmad Surkati. Penghormatan itu bukan saja karena ia mempunyai ilmu yang mendalam, tapi juga kesabaran, ketekunan dan keikhlasannya mengajar murid-muridnya, dan dalam usaha mengembangkan perguruan Jamiat Khair.

Namun sambutan baik itu dan gembira keluarga besar Jamiat Khair itu tidak berlangsung lama. Menjelang tahun ajaran ke tiga, saat berkembang pesatnya usaha-uaha memajukan sekolah-sekolah itu, telah terjadi pereselisihan antara Ahmad Surkati dengan pengurus Jamiat Khair disebabkan ketersinggungan kaum Alawiyin terhadap “fatwa solo” Ahmad Surkati yang menegaskan bahwa perkawinan antara keturunan Alawi dengan non Alawi adalah boleh menurut syara’. Sehingga dengan semua ini berakhir kepada tidak dipakainya lagi Ahmad Surkati di lembaga tersebut dan ia mengundurkan diri pada tanggal 15 Syawwal 1332 H, bertepatan dengan 6 September 1914.

Pada saat itu, para pemuka masyarakat Arab Jakarta dari golongan non -Alawi , Umar Manggusy dan kawan – kawan menemui Ahmad Surkati dan memintanya untuk tidak kembali ke Makkah dan mengajaknya pindah untuk memimpin sebuah madrasah di Jati Petamburan. Dan Ahmad Surkati menerima ajakan dan permintaan tersebut tepat pada hari dimana ia mengundurkan diri dari Jamiat Khair. Dan pada saat itu juga madrasah yang baru ia terima untuk dikelola dinamainya dengan Madrasah Al-Irsyad al-Islamiyyah. Bersamaan dengan itu dia juga menyetujui didirikannya Jam’iyat Al-Islah wa Al-Irsyad Al-Arabiyah. Bagi pemuka – pemuka Arab yang bukan dari golongan Alawi, keluarnya Ahmad Surkati dari Jamiat Khair dipandang sebagai awal kebangkitan dan perjuangan memperoleh persamaan derajat serta keadilan.

Tampilnya Ahmad Surkati sebagai pimpinan Madrasah Al-Irsyad maka ia mengangkat gerakan Al-Irsyad makin terkenal dan berkembang pesat, bukan hanya di Jawa, tapi juga diluar jawa, di Lampung dan Palembang. Dan murid Al-Irsyad makin bertambah banyak, demikian pula ruang lingkup pengaruhnya di daerah-daerah.

2. Pembaharuan Islam di Indonesia

Ahmad Surkati bukan hanya dikenal sebagai seorang pemimpin terkemuka masyarakat Indonesia keturunan Arab tapi juga seorang tokoh penting dalam gerakan reformasi Islam. Ahmad Surkati berpisah dengan Al-Jam’iyat al-Khairiyah dan mendirikan gerakan Al-Irsyad pada 1913. Gerakan inilah yang kemudian mencoba mengembangkan ide pembaharuan Islam di Indonesia, tak terbatas hanya di kalangan warga keturunan Arab. . Ketika mendirikan Al-Irsyad Ahmad Surkati beruntung dengan bergabungnya teman-temannya, sesama guru dari Sudan, yang sebelumnya sudah mengenal karya – karya Mohammad Abduh dan Rasyid Ridha. Guru – guru asing ini, walaupu berjumlah kecil, ternyata menjadi pusat jaringan komunikasi yang secara sinambung menyalurkan pemikiran Islam modern dari Timur Tengah ke Jawa. Ahmad Surkati memberikan kontribusi yang besar pada lahir dan berkembangnya pembaruan Islam di Jawa secara keseluruhan.

4. Pemikiran, Pemurnian Ajaran Islam

Perubahan lewat pikiran-pikiran yang dilontarkan Ahmad Surkati ke tengah masyarakat Hadrami di Indonesia mengarah pada dua hal: pertama, tak lepas dari pendiriannya tentang kemanusiaan. Dan keduan, peningkatan kualitas manusia melalui proses pendidikan.

Apa yang dilakukan Ahmad Surkati sesungguhnya dilatar belakangi adanya pelapisan sosial masyarakat Hadrami dimana kaum Alawi yang dipercayai sebagai keturunan Ali-Fatimah (menantu dan anak Rasulullah) dianggap mempunyai kemuliaan (tafadul) tersendiri. Dengan kemuliaaan itu mereka mendapatkan kedudukan istimewa. Namun, bersamaan dengan keistimewaan itu, ada kebodohan yang berkembang subur, yakni kaum Alawi memandang rendah para ilmuwan non Alawi. Bahkan lebih jauh lagi, ada keyakinan bahwa orang sharif atau sayyid berhubungan dengan masalah nasib dan keselamatan dunia akhirat, yakni sebagai wali (wasilah) antara manusia dan Tuhan. Yang demikian ini mendapat sambutan positif warga keturunan Arab non Alawi. Dan pemikirannya dianggap sebagai tonggak musawah , yakni persamaan derajat dan egaliter. Yang ketika itu bahkan sampai saat ini sikap diskriminatif kaum Alawi kepada non Alawi masih terjadi. Konsep gerakan pembaharuan yang digali Ahmad Surkati, bersama guru-guru yang datang dari timur tengah, telah dirumuskan dalam bentuk Mabadi Al-Irsyad, yaitu:

1. Mengesakan Allah dengan sebersih-besihnya, pengesaan dari segala hal yang
   berbau syirik, mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan meminta pertolongan 
   kepada-Nya dalam segala hal

2. Mewujudkan kemerdekaan dan persamaan di kalangan kaum muslimin dan
    berpedoman kepada Al-Qur’an, Assunnah, perbuatan para imam yang syah dan 
    perilaku ulama salaf dalam persoalan khilafiyah.

3. Memberantas taqlid buta tanpa sandaran akal dan dalil naqli

4. Menyebarkan ilmu pengetahuan, kebudayaan Arab-Islam dan budi pekerti luhur
    yang diridloi Allah.

5. Berusaha mempersatukan kaum Muslimin dan bangsa Arab sesuai dengan     
    kehendak dan ridlo Allah

DAFTAR PUSTAKA

Affandi, B. 1999. Syaikh Akhmad Syurkati (1874-1943) Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia. Jakarta: Al-Kautsar.

Al-Irsyad, Dewan PP. 1981. Pedoman Dasar AD/ART Program Perjuangan Ikhtisar Sejarah Al-Irsyad. Jakarta: tanpa penerbit.

Azra, A. 2004. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana

Wahid, Achmadi, Drs. 2008, Sejarah Kebudayaan Islam, Menjelajahi Peradapan Islam, Jakarta:

0 komentar:

Poskan Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!