Friday, 10 May 2013

DILEMA GELAR ARUNG PALAKKA


Perjanjian perdamaian yang berulang-ulang 

Sangat sulit untuk memulai tulisan ini dengan kisah perdamaian Arung Palakka dan Sultan Hasanuddin, yang menandakan berdamainya kerajaan Bone-Gowa pada tahun 1669. Karena, jauh sebelum itu kedua kerajaan besar ini sempat berkali-kali mengadakan perdamaian, dimulai dari perjanjian Tamalate, diikrarkan antara Raja bone VI La Ulio BotoE dan Raja Gowa IX Dg. Matanre To Maparrisi Kallonna (diikrarkan kira-kira pada pertengahan abad ke XVI)[1] isinya: 
  1. Narekko engka perri’na Bone, maddaungi tasie naola mangkasae, narekko engka perri’na Gowa makkumpelle’ bulue naola To bone 
  2. Tessi nawa-nawa majakki, tessi patingarai kanna Bone-Gowa, tessi acinnaiyangngi ulaweng matasa, patola malampe 
  3.  Iyasi somperengngi Bone iyasi mania ada to riyoloe lettu ri to rimunrinna 
  4. Nigi-nigi temmarengngerrang ri ada to riyoloe, mareppai urikkurinna, lowa-lowana, padai ittello riaddampessangnge ri batuwe Tanana 
Artinya: 
  1. Sekiranya orang Bone mengalami kesukaran maka membentang luaslah lautan itu diarungi orang Makassar menuju ke Bone untuk membantu, dan sekiranya orang Makassar mengalami kesukaran, maka meratalah gunung itu dilalui orang Bone menuju ke Makassar untuk membantu 
  2. Tak akan saling berprasangka jelek satu dengan yang lain, tak akan saling mendatangkan peperangan antara Bone dengan Gowa, tak akan saling mengingini sesuatu yang tinggi nilainya, yang sukar dicari taranya bila salah satu sedang memilikinya 
  3. Siapa yang mengendalikan Gowa, ia lagi memusakai perkataan (janji) orang dahulu, siapa yang mengendalikan Bone, ia lagi memusakai perkataaan (janji) orang dahulu 
  4. Siapa-siapa yang tidak ingat (tidak mengindahkan akan perkataan (janji) orang dahulu, pecah berantakanlah periuk-belanganya, negerinya mengalami kehancuran bagaikan sebutir telur dihempaskan ke atas Batu.
Perjanjian ini menjadi pengikat antara kedua kerajaan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya, pada pemerintahan raja Bone ke VI La Tenri Rawe Bongkange, menerima kunjungan dari Raja Gowa ke X, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung yang bergelar Tunipallangga. Sebagaimana lazimnya perkunjungan Raja-raja tetangga itu senantiasa disambut meriah dengan berbagai acara, dengan permainan rakyat; yang tidak dapat dilupakan dalam penerimaan tamu agung itu ialah sabung ayam.[2] Acara sabung ayam menjadi momen tak terlupakan bagi Tunipallangga, karena ayam sabungan kebanggaanya kalah dan terbunuh oleh ayam milik La BotoE, kejadian ini merupakan pukulan bagi Tunipallangga karena ia terkenal sebagai seorang raja pemberani dan belum pernah terkalahkan dalam pertempuran yang dipimpinnya. 

Rupanya peristiwa kekalahan orang Gowa dalam permainan sabung ayam itu tersebar di kalangan raja-raja kecil yang terletak di sekitar kerajaan Bone yang saat itu mulai melebarkan kekuasaannya. Akhirnya sebagian besar raja-raja kecil itu memutuskan untuk menggabungkan kerajaannya menjadi bawahan dari kerajaan Bone antara lain segenap raja-raja kecil di daerah Ajang Ale (sebelah barat hutan), turut bergabung juga daerah Tellu Limpoe yang saat itu diakui Gowa sebagai daerah kekuasaannya, kesemua itu dijadikan daerah bawahan (lili) dari kerajaan Bone.[3] 

Kejadian beruntun di atas menyulut kemarahan Gowa, mereka lalu mengadakan penyerangan, penyerangan pertama berlangsung tiga hari dan menghasilkan perjanjian perbatasan Jori’ Dewata, penyerangan ke dua berlangsung lima hari dan terpaksa diberhentikan karena Raja Gowa mendapat luka senjata[4], dua tahun kemudian Tunipallangga menyerang kembali, namun setelah tujuh hari ia harus kembali ke Gowa dan meninggal tidak lama setelah itu.[5] Penerusnya, Tunibatta, berjalan ke Bone untuk melanjutkan peperangan hanya dua puluh lima hari setelah dilantik. Tentaranya dipukul mundur ke Bukaka, dia kemudian tertangkap dan dipenggal di Cempa. 

Setelah kematian Tunibatta, kedua pihak kembali bertemu dan menyepakati perjanjian Ulu-Kanaya ri Caleppa (dalam tahun 1565), yang isinya: 
  1. Bone menuntut agar kepadanya diserahkan seluruh daerah yang membentang ke Barat dan daerah-daerah yang membentang sampai ke daerah Ulaweng, di sebelah utara 
  2. Sungai Tangka agar dijadikan perbatasan daerah kekuasaan Bone dan Gowa. Di sebelah utara masuk kekuasaan kerajaan Bone dan di sebelah selatan termasuk kekuasaan kerajaan Gowa 
  3. Bone menuntut pula agar negeri Cenrana dimasukkan ke dalam kekuasaan kerajaan Bone, karena sejak dahulu di zaman pemerintahan Raja Bone ke V La Tenri Sukki MappajungngE, negeri itu telah menjadi daerah kerajaan Bone. 
Perjanjian ini sempat melahirkan perdamaian antara kedua Negara selama kurang lebih satu dasawarsa. Banyaknya perang dan perjanjian perdamaian yang pernah terjadi antara kerajaan Bone-Gowa memberikan kesan hubungan mereka mengalami pasang surut yang cukup sering, ini karena kedua kerajaan ini memang merupakan dua kerajaan besar yang pada abad ke-16 masih getol-getolnya melakukan perluasan wilayah kekuasaan dan penanaman pengaruh politik terhadap kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Sulawesi Selatan, sehingga kejadian seperti bergabungnya Tellu Limpoe di bawah Bone merupakan sesuatu yang tidak bisa ditolerir oleh Gowa dan perang menjadi harga mati untuk mempertahankan kedaulatan dan kewibaawaan, meskipun pada akhirnya lagi-lagi mereka berdamai. 


Bosowa bersekutu 


Bone-Soppeng-Wajo pada 1582 M mengadakan perjanjian persaudaran yang isinya menjamin terbinanya persaudaraaan antara tiga kerajaan, menghindari gangguan keamanan dari masing-masing pihak, dan menciptakan kesatuan gabungan yang memungkinan bagi setiap anggota persaudaraan untuk senantiasa mempertahankan diri terhadap serangan kerajaan-kerajaan lokal lainnya. 

Perjanjian ini lahir karena kekesalan Arung Matoa Wajo terhadap Raja Gowa Manggorai Daeng Mametta Karaeng Bonto Langkasa putra Karaeng Tunibatta yang memberi perintah kepadanya sebagai abdi Kerajaan Gowa untuk mengangkut kayu dari pegunungan Barru ke pinggir laut untuk dipergunakan mendirikan istana di Tamalate sebagai ibukota kerajaan Gowa. Perintah Raja Gowa ini dirasakan oleh Arung Matoa Wajo sebagai tindakan sewenang-wenang, maka hal tersebut disampaikannya kepada Raja Bone La Tenri Rawe, yang merasa tidak senang pada tindakan dan perintah Raja Gowa, maka Mangkue Bone mengajak Arung Matoa dan Datu Soppeng untuk bersama-sama ke Barru.[6] 

Setelah mereka tiba di Barru, Raja Gowa heran dan bertanya-tanya mengapa Raja Bone, dan Datu Soppeng juga ikut datang ke Barru, sedangkan yang dipanggil hanyalah Arung Matowa Wajo, kedatangan Raja Bone dan Datu Soppeng dan rakyat-rakyatnya adalah untuk membantu Wajo mengangkut kayu-kayu tersebut, saat mereka beristirahat, para Raja ini bermusyawarah dan bersepakat akan mengadakan penyerangan terhadap Cenrana selama tujuh hari. Pada hari yang ditentukan mereka berkumpul dan sama-sama melakukan penyerangan terhadap Cenrana, rencana mereka berhasil dan setelah Cenrana ditaklukkan mereka bersepakat untuk bertemu kembali di Timurung dalam usaha untuk mempererat dan memperkokoh persaudaraan mereka, dalam menghadapi serangan—serangan dari kerajaan Gowa. Di Timurung mereka bertemu kembali dan diadakanlah perjanjian persaudaraan Tellumpoccoe.[7] 

Meskipun pada hakikatnya perjanjian ini adalah untuk menentang politik ekspansi dari kerajaan Gowa yang sudah lama senantiasa berusaha untuk menanamkan pengaruhnya di daerah-daerah Bugis khususnya dan di Sulawesi Selatan pada umumnya, namun perjanjian ini mempunyai implikasi bagi pembinaan stabilitas politik untuk setiap negara anggotanya, Wajo yang saat itu merupakan abdi Kerajaan Gowa akhirnya dapat melepaskan diri dari penghambaan kerajaan Gowa, sedangkan Soppeng sebagai kerajaan kecil dapat menjadi kuat dengan bergabung bersama kerajaan besar Bone, di samping itu Bone sudah terhindar dari gangguan Kerajaan Wajo dan Soppeng. 

Negara Tellumpoccoe ini kemudian secara berturut-turut menerima Islam dimulai oleh Soppeng pada tahun 1609, Wajo tahun 1610, dan akhirnya Bone pada tahun 1611. Diterimanya Islam sebagai agama resmi ketiga Kerajaan ini berawal dari Kerajaan Gowa yang menerima Islam pada 9 November 1607 (1926 Rajab 1016 H), berdasarkan pada perjanjian yang disepakati antara raja Gowa dengan raja-raja Bugis yang maksudnya barangsiapa yang menemukan jalan yang terbaik berjanji untuk memberitahukan hal yang baik itu kepada Negara-negara lainnya. Tatkala seruan itu sampai kepada daerah-daerah Bugis, Bone, Soppeng, Wajo, dan Ajatappareng, kesemuanya menolak ajakan ini secara tegas sehingga Gowa memaklumkan perang yang oleh orang Bugis menyebutnya musu’ asellengeng (perang pengislaman). Peperangan yang akhirnya terjadi dimenangkan oleh Kerajaan Gowa, maka praktis raja-raja yang ditaklukkan tersebut menerima Islam sebagai agama. 


Dijajahnya Bone atas Gowa, pengasingan keluarga bangsawan, dan munculnya Arung Palakka 


Sebelum terjadinya musu asellengeng, Raja Bone ke XI La Tenru Ruwa yang baru tiga bulan menjabat sebagai arumpone didatangi oleh Raja Gowa yang memperkenalkan Islam, La Tenri Ruwa yang diceritakan sebagai seorang yang berpandangan ke depan secara lapang dada menerima Islam, namun saat ia menyerukan agama Islam pada rakyatnya ia di tolak bahkan rakyat bersepakat memakzulkannya dan menggantinya dengan La Tenri Pale yang juga menolak Islam, begitulah hingga akhirnya Kerajaan Gowa melaksanakan musu’ asellengeng, dan karena kekalahan Bone pada perang ini berubahlah status Bone menjadi ‘kerajaan palili’ di bawah kerajaan Gowa.[8] 

Setelah La Tenri Pale wafat 1631 ia digantikan oleh La Maddaremmeng, yang sangat fanatik terhadap ajaran Islam, dan memerintahkan agar agama Islam dijalankan dengan semurni-murninya di kerajaannya. Namun usahanya ini mendapat banyak rintangan bahkan ibunya sendiri, Datu Pattiro, menentang usaha anaknya, ia secara pribadi bersama para pembesar dan kaum bangsawan meminta perlindungan pada Sultan Malikussaid raja Gowa. Mula-mula raja Gowa mengajak La Maddaremmeng berdamai dengan ibunya dan para pemberontak, namun ditolak, akhirnya 1643 Gowa dibantu dengan sekutu-sekutunya, Wajo, Sidenreng, dll menyerang Bone, pada serangan ini Bone menerima kekalahan, sehingga La Maddaremmeng dan saudaranya La Tenriaji menyingkir ke Larompong (Luwu). Namun tertangkap oleh pasukan Gowa di Cimpu dan diasingkan ke Gowa. Bone akhirnya resmi menjadi jajahan Gowa. 

Karena kekosongan jabatan Raja di Bone maka atas izin Sultan Malikussaid diangkatlah Tobala’ menjadi Jennang (Gubernur) di Bone.[9] La Tenriaji yang sebelumnya lari bersama kakaknya ke Luwu berhasil meloloskan diri dari kepungan tentara Gowa diam-diam kembali ke Bone, mengumpulkan simpatisan hingga akhirnya 1646 mereka menobatkan La Tenriaji sebagai Raja Bone. Raja Gowa yang mendengar berita ini segera mengerahkan pasukan untuk menghukum sang ‘pemberontak’. La Tenriaji diserang dari tiga pihak, pasukan Wajo dan Luwu dari utara, pasukan Gowa dari Selatan, sedangkan armada Gowa mengancam dari laut.[10] Peperangan yang dikenal sebagai perang Passempe ini berlangsung sengit, banyak sekali tentara yang gugur dan luka-luka dari ke dua belah pihak. Banyaknya pasukan Gowa yang menyerang membuat pertarungan berjalan tidak seimbang meskipun pasukan Bone mati-matian berperang pada akhirnya mereka terpaksa menyerah. La Tenriaji ditawan lalu diasingkan ke Siang (Pangkajene sekarang), dan akhirnya wafat di sana. Selain La Tenriaji, bangsawan-bangsawan Bone dan Soppeng yang sebelumnya ikut membantu pemberontakan La Tenriaji juga turut diasingkan. Bahkan seusai perang Raja Gowa, Arung Matoa Wajo, dan Datu Luwu bersepakat untuk membagi tawanan Bone, namun Wajo menolak bagiannya karena masih memegang perjanjian di Timurung, bahwa Bone dan Wajo adalah saudara.[11] 

Diantara bangsawan-bangsawan Bone dan Soppeng yang diasingkan, terdapat Arung Tana Tennga La Pottobune, ayahnya Arung Tana Tennga Tua, istrinya We Tenrisui Datu Mario Riwawo (cucu dari La Tenru Ruwa) dan putranya Arung Palakka La Tenritata, yang waktu itu berusia sebelas tahun. Empat putrinya tidak dibawa serta dan dititipkan pada sanak keluarganya di Soppeng karena ditakutkan jika mereka cedera dalam pengasingan. Arung Palakka dan keluarganya jatuh ke dalam tangan Karaeng Pattingalloang, Mangkubumi Kerajaan Gowa yang terkenal budiman, dan berpengetahuan luas. Disinilah Arung Palakka menghabiskan masa mudanya dan menimba ilmu banyak-banyak dari Karaeng Pattingalloang, adapun selama berada di pengasingan ia dikenal dengan nama Daeng Serang. Saat Karaeng Pattingalloang wafat 1654, ia digantikan anaknya, Karaeng Karunrung menjadi Mangkubumi kerajaan Gowa, keluarga Arung Palakka pun berganti tuan. 


Sultan Hasanuddin, Arung Palakka, dan Belanda 


Setelah di awal-awal tulisan penulis memaparkan bagaimana hubungan kerajaan Bone-Gowa ini mengalami pasang surut yang cukup sering dalam skala lokal, dengan tokoh-tokoh utama lokal--meskipun sebelum diasingkannya keluarga Arung Palakka pedagang-pedagang dari Portugis, Inggris, dan Belanda telah banyak berada di Makassar, namun mereka tidak turut campur dalam setiap perang-damai yang berlangsung di dua kerajaan ini hingga memasuki tahun 1663 saat Arung Palakka memutuskan menerima tawaran dari Kompeni Belanda untuk bersembunyi di Batavia--sekarang kita akan melihat bagaimana babak baru hubungan Bone-Gowa ini setelah mendapat pemeran tambahan tokoh-tokoh internasional sebagai pihak ketiga dalam kisahnya. 

Tahun 1601 menjadi awal kedatangan perwakilan dagang Belanda ke Makassar atas undangan dari Sultan Alauddin, selama berada di Makassar mereka menjalankan politik dagang monopoli atas rempah-rempah Maluku, mereka menginginkan bagian terbesar dari perdagangan rempah-rempah Maluku, sedangkan pada waktu itu perdagangan ini ada di tangan orang-orang Makassar, hal ini menimbulkan perselisihan, karena politik dagang monopoli mereka tidak sejalan dengan prinsip Raja Gowa “Tuhan menciptakan tanah dan laut; tanah dibagikanNya untuk umat manusia, dan laut adalah milik bersama”[12] selain itu kebijakan perdagangan bebas yang diterapkan di Makassaar adalah berpatokan pada prinsip laut bebas (mare liberium). Tahun 1634, Belanda mengadakan blockade laut terhadap perahu-perahu Makassar yang berdagang lada, namun mereka menemui kegagalan karena rencana blockade mereka lebih dulu diketahui oleh Raja Gowa, selain itu armada milik kompeni tidak pernah bisa menangkap perahu-perahu Makassar.[13]Kondisi ini membuat kompeni memikirkan jalan untuk mendekati Gowa dengan jalan damai, dikirimlah utusan Belanda untuk berdamai dan diterima dengan baik oleh raja. Perjanjian perdamaian ini kemudian berlangsung sejak 1637 hingga 1654, meskipun tidak dapat dihindari selama rentang waktu itu ini banyak kejadian-kejadian yang sering membawa keduanya ke jurang permusuhan.[14] 

Tahun 1653 Sultan Hasanuddin diangkat menjadi Raja Gowa menggantikan ayahnya Sultan Malikussaid, dengan didampingi oleh mangkubumi Karaeng Karunrung menggantikan ayahnya Karaeng Pattinganlloang mewarisi kerajaan kuat dengan perdagangan internasional yang sedang berkembang. Sama seperti pendahulunya, Sultan Hasanuddin juga tidak pernah memberi angin segar pada politik dagang monopoli Belanda, bahkan dalam rancangan perjanjian perdamaian yang dikirim oleh pihak Belanda dibalas oleh Sultan Hasanuddin dengan kata-kata keras yang memperlihatkan tekad Gowa dalam mempertahankan darah kehidupan kerajaan: perdagangan Internasional di pelabuhan Makassar.[15] 

Setelah membalas surat tersebut, Sultan Hasanuddin sadar bahwa ada kemungkinan akan terjadi konfrontasi senjata dengan pihak Belanda, sehingga ia segera mengumpulkan 3.200 tentara Bugis dan Turatea di bawah berbagai pemipin Makassar untuk membangun kubu pertahanan, diantaranya 700 tentara Bone yang dipimpin oleh Karaeng Cenrana. Benar dugaan Sultan Hasanuddin, karena pada tahun itu, 1660 Belanda menyerang Gowa dan berhasil menduduki Benteng Panakukang. Belanda menduduki Benteng Panakukang, menempatkan persediaan makanan selama lima bulan, dan melabuhkan empat kapal perang bersenjata lengkap dan dua sekoci di pelabuhan Makassar untuk menjaga benteng ini.[16] Karena kekalahan ini Karaeng Karunrung memerintahakan 10.000 orang Bone untuk menggali parit yang memisahkan Benteng Panakukang dari daratan Gowa.[17] 

Parit yang digali ternyata dirasakan sangat berat oleh orang-orang Bone, belum lagi pengawasan yang ketat dari mandor-mandor yang memantau pekerjaan mereka karena bangunan parit itu harus segera selesai. Tidak sedikit orang Bone yang diberikan sanksi badan jika kedapatan melakukan pelanggaran atau malas, selain itu makanan yang diberikan sangat sedikit dibandingkan rasa lelah mereka bekerja seharian, makanan mereka hanya berupa nasi dengan remah ikan yang diberi garam namun lebih banyak garamnya daripada ikannya. Arung Palakka dan beberapa bangsawan Bone lainnya yang ditahan oleh Sultan sehubungan dengan peristiwa La Maddaremmeng merasa tidak tahan dengan kesewenang-wenangan Raja Gowa ini merencanakan pelarian diri besar-besaran pada suatu malam di bulan September 1660 saat Sultan Hasanuddin dan pembesar-pembesar kerajaan Gowa sedang berpesta di Tallo. Arung Palakka menggerakkan semua pekerja parit yang jumlahnya hampir 10.000 bersama dengan tawanan perang Bone dan Soppeng melarikan diri dari Gowa. Pada hari keempat mereka akhirnya tiba di Lamuru. 

Setibanya di Lamuru, Arung Palakka mengatur pertemuan dengan Datu Soppeng dan Raja Bone Tobala’ di Attapang. Dalam pertemuan di Attapang, Soppeng menyepakati tawaran Tobala’ untuk mempersatukan Bone dan Soppeng melawan Gowa. Perundingan ini berlangsung di atas rakit di Sungai Attapang, oleh sebab itu persetujuan Bone Soppeng ini dinamai Pincara Lopie ri Attapang (rakit perahu di Attapang). Setelah perjanjian ini disepakati, kedua kerajaan, Bone dan Soppeng membujuk Wajo untuk bergabung demi mempertahankan persekutuan Tellumpoccoe yang hamper mati, namun di tolak oleh Arung Matoa Wajo La Tenrilai Tosenngeng karena Wajo tidak dapat meninggalkan perjanjiannya dengan Gowa karena Wajo adalah “abdi Karaeng” yang sejati. 

Dimulailah perang antara Bone-Sopeng dan Gowa dengan sekutunya Wajo, perang berlangsung sengit dan Tobala’ menjadi salah satu korban dalam perang ini, tapi lagi-lagi perang ini berakhir dengan kekalahan Bone. 

Arung Palakka mengakui kekalahannya pada Gowa dan mendekati Karaeng Sumanna, melafalkan sompa-warani : “Baiklah, Karaeng. Peperangan kita telah selesai, akan tetapi peperangan hamba dengan Wajo belumlah usai. Izinkanlah hamba menyelesaikannya dahulu, setelah itu hamba akan menyusul ke Gowa”. Sekali lagi Bone tetap menjadi jajahan Gowa. 

Setelah kekalahan ini, Arung Palakka mengumpulkan sukarelawan-sukarelawan Bone dan Soppeng untuk menyerang Wajo. Pertempuran terjadi di Sarasa, Wajo kalah mereka mundur ke Kera, dimana mereka terpaksa menyerah kepada Arung Palakka. Sesudah itu Arung Palakka dan pasukannya yang tersisa berangkat menuju Gowa, di Lisu ia bertemu dengan pasukan Gowa yang diperintahkan menangkapnya, akhirnya kembali terjadi pertempuran. Karena lawannya lebih banyak, Arung Palakka menyingkir dan bersembunyi di bukit-bukit batu di Maruwala, tapi keberadaannya di ketahui sehingga ia berpindah lagi ke Umpungeng, di sini ia bernadzar akan menyembelih kerbau apabila ia dan kawan-kawannya selamat dari pengejaran tentara Gowa. 

Dari sini perjalanan Arung Palakka dan kawan-kawannya berlanjut ke Buton. Tidak lama setelah Arung Palakka tiba di Buton, banyak orang Bugis yang datang menyusulnya. Selain Arung Palakka sendiri yang menjadi pemimpin dari pengungsi itu, terdapat Sembilan Mattola dari Soppeng dan Bone, diantaranya yang terkenal adalah: Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo, Arung Pattojo, dan Arung Kaju. Adapun selain di Buton, Ternate juga menjadi tempat orang Bugis menyingkir. 

Setelah mengetahui keberadaan Arung Palakka di Buton, Sultan Gowa menuntut Sultan Buton untuk menyerahkan Arung Palakka, namun Sultan Buton berhasil menyembunyikan Arung Palakka dari Tentara Gowa. Selama di Buton Arung Palakka sering berdialog dengan Sultan Buton tentang strategi yang bagus untuk melawan dan merebut kekuasaan di kawasan timur, ia juga mengingat pembicaraannya dahulu dengan Karaeng Pattingalloang dan Karaeng Karunrung bahwa hanya Kompeni Belanda yang mampu melawan kekuatan Kerajaan Gowa, ia juga menjadi semakin yakin setelah melihat sendiri kekalahan Gowa atas Kompeni pada serangan 1660. 

Tahun 1663 Arung Pattojo berangkat ke Batavia bersama seorang pembesar Kompeni Belanda bernama Nieuland. Bersama dengan pembesar tersebut ia menghadap pemerintah tertinggi Kompeni Belanda, ia menawarkan untuk bekerja sama memerangi Gowa, pemerintah Belanda menyetujuinya dan menawarkan pada pangeran-pangeran Bugis pelarian itu untuk datang bermukim ke Batavia. November 1663 Arung Palakka beserta 50 orang lainnya berangkat ke Batavia, dan menyusul pengikutnya yang berjumlah sekitar 700 orang, mereka diberi tempat bermukim di perkampungan Angke, dan menamakan diri mereka dengan sebutan To angke. 

Kemunculan Belanda dalam hubungan rumit Bone Gowa bukanlah sebagai pihak netral, kemunculannya benar-benar sarat kepentingan, mengingat buruknya hubungan Belanda dengan Gowa yang menolak mati-matian politik dagangnya, tentunya bertambahnya sekutu di pihak Belanda akan sedikit menjadi kabar gembira bagi mereka. Begitu juga dengan Bone, yang melihat harapan akan berakhirnya masa penindasan oleh Kerajaan Gowa atas Kerajaannya. 


Perang Makassar, merdekanya Bone, dan perdamaian Bone dengan Gowa


Agustus 1666 menjadi awal bagi Arung Palakka untuk membuktikan pada Kompeni bahwa ia bukanlah orang sembarangan, Kompeni meminta bantuan militer pada Arung Palakka untuk menyerang “pemberontak’ Minangkabau di pantai barat Sumatera, dia langsung setuju, dan pihak Belanda juga telah berjanji bahwa jika misi ini berhasil maka mereka akan membantu Bone mengadakan perang terhadap Gowa. Misi ini sukses, karena dari 350 jiwa pasukan Minangkabau 200 jiwa menjadi korban. Dan ia sekaligus mendapat kepercayaan untuk memimpin pasukannya pada perang melawan Makassar. 

Pagi 24 November 1666, ekspedisi Kompeni berlayar di bawah Laksamana Cornelis Janszoon Speelman, dengan pasukan sekitar 1870 orang, 17 Desember mereka tiba di pelabuhan dekat Tana Keke, keesokan harinya Speelman langsung mengirim beberapa tuntutan kepada Raja Gowa, yang jika tuntutan mereka tidak dipenuhi maka “dengan kasih Tuhan akan membalas dengan kekerasan”, jawaban dari Sultan Hasanuddin tiba pada 21 Desember, jawaban sultan Hasanuddin menunjukkan kesiapannya dengan tantangan dari Speelman, mulailah Armada Kompeni menembakkan tiga meriam ke kota Makassar yang menandakan dimulainya Perang Makassar. Selanjutnya mereka menuju Bantaeng dan menghancurkan kota ini, tanggal 31 mereka bergerak menuju Buton yang telah diduduki tentara Gowa, tapi mengetahui bahwa ternyata Arung Palakka ada bersama armada Kompeni, sekitar 300 tentara Gowa yang ternyata orang Bone bersumpah setia dan bergabung pada tentara Arung Palakka, keesokan harinya datang utusan Sultan Buton menemui Speelman dan menyampaikan bahwa Sultan Buton akan datang menemui mereka di malam hari, pada pertemuan itu Sultan Buton menyatakan bergabung dengan Arung Palakka, Karaeng Bontomarannu yang memimpin pendudukan di Gowa akhirnya menyatakan damai pada Arung Palakka dan sekutunya, karena sebagaian besar tentaranya telah bergabung di bawah Arung Palakka, bahkan dua wakilnya Sultan Bima dan Datu Luwu telah menunjukkan gelagat akan berbelot, hasil perjanjian damai menyebutkan bahwa Karaeng Bontomarannu harus menyerahkan semua kapal, persediaan makanan, perhiasan, emas, bahkan budak-budak dan wanita pada Arung Palakka dan sekutu. Pertempuran Buton akhirnya dimenangkan oleh Arung Palakka dan sekutu (Belanda dan Sultan Buton). 

Awal Juli, Arung Palakka berangkat ke Bone untuk mengumpulkan tentara bantuan dari Bone dan Soppeng, dengan bantuan tiga pangeran Soppeng, Arung Appanang, Arung Bila, dan Arung Belo. Setelah pasukan terkumpul, mereka menuju Lamatti dan Bulo-bulo yang menolak bergabung dengan pasukan Arung Palakka, saat pasukan Arung Palakka terdesak oleh pasukan gabungan Lamatti-Bulo-bulo-Gowa, muncul Poleman, kapten yang ditugaskan untuk mencari Arung Palakka karena disangka hilang saat berlayar menuju Bone, maka bergabunglah pasukan Poleman dan Arung Palakka sehingga mereka berhasil menduduki Lamatti dan Bulo-Bulo. Pasukan sekutu yang dipimpin Speelman berangkat dari Bantaeng menuju Makassar, sebelum Arung Palakka kembali dari Bone, dan pasukan Makassar memulai penyerangan tanggal 19 Juli, banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak, tanggal 21 Juli armada Speelman mundur ke Buton dan datang kembali pada tanggal 22 dengan tambahan armada dari Buton. Tanggal 24 pasukan Speelman berlabuh di Barombong. 

Sementara itu, setelah dari Lamatti dan Bulo-Bulo Arung Palakka melanjutkan perjalanan ke Bantaeng,di bantaeng ia lagi-lagi mendapatkan sekutu baru yaitu Bulukumba dan Tanakongkong, dari sini mereka melanjutkan perjalanan ke Binamu, di Binamu mereka dicegat oleh Tentara Gowa yang dipimpin oleh Karaeng Langkese, Karaeng Karunrung dan Mara’dia Mandar, di tengah pertempuran ini Arung Palakka mendapatkan bantuan dari Arung Bila dan Arung Belo. Setelah melewati peperangan ini pasukan Arung Palakka bergabung dengan pasukan Speelman di Galesong. 

Selanjutnya satu-persatu sekutu-sekutu lokal Gowa membelot kepada Arung Palakka, bahkan Luwu yang sebelumnya selalu menjadi sekutu Gowa juga turut membelot dan memberikan bantuan militer kepada Arung Palakka. Tanggal 26 Oktober menjadi hari paling menyedihkan bagi Gowa selama perang berlangsung, karena benteng pertahanan Barombong akhirnya berhasil diduduki oleh Arung Palakka beserta sekutunya. Setelah penaklukan benteng Barombong diadakan gencatan senjata antara kedua belah pihak, selama gencatan senjata Sultan Hasanuddin mengirimkan surat kepada pihak sekutu yang memberitahukan bahwa segala tuntutan Belanda terhadap kapal karam mereka Leuwin dan Hilversum telah dipenuhi oleh Sultan, namun pihak Sekutu tidak puas dengan hal ini mereka lalu mengajukan tuntutan-tuntutan baru dan memberi waktu satu hari untuk menjawab tuntutan itu, selama tenggat waktu yang diberikan Sultan Hasanuddin tidak memberi jawaban pada sekutu, akhirnya pihak sekutu memutuskan bahwa gencatan senjata berakhir, bersamaan dengan itu sekutu Gowa, Binamu dan Bangkalan bergabung dengan Arung Palakka, dan Wajo telah dikuasai juga oleh tentara Bone. Sultan Hasanuddin semakin tidak melihat harapan dalam peperangan ini. Ditambah lagi pada 7 November benteng di dekat Bungaya di hancurkan oleh pasukan sekutu, akhirnya pada 8 November Sultan Hasanuddin mengirimkan utusan damai ke markas Arung Palakka dan Speelman dengan membawa bendera putih. 

Pada 10 November Sultan Hasanuddin kembali mengirimkan utusannya untuk menghadap pada Arung Palakka dan mengingatkannya pada perjanjian Tamalate antara Bone dan Gowa. Akhirnya pada 13 November 1667 diadakan pertemuan perdamaian di Bungaya antara pihak kerajaan Gowa dan Arunga Palakka beserta sekutunya, pertemuan ini menghasilkan naskah perjanjian Bongaya yang disepakati bersama isinya pada tanggal 18 November 1667. Poin pertama perjanjian ini membebaskan Bone sepenuhnya dari jajahan Gowa, sehingga tidak ada lagi alasan bagi Bone untuk terus melanjutkan peperangan dengan Gowa. 

Secara keseluruhan banyak pasal-pasal perjanjian yang dirasa memberatkan bagi Gowa-sebagaimana lazimnya perjanjian perdamaian setelah perang yang memberatkan pihak yang kalah-sehingga hanya dalam waktu kurang lebih sembilan bulan, peperangan kembali meletus di Gowa, tentara Gowa lebih dulu menyerang markas Speelman. Karena telah terikat perjanjian sebelumnya dengan Kompeni Belanda, maka terpaksa tentara Arung Palakka ikut kembali dalam peperangan itu, peperangan ini benar-benar berakhir setelah Benteng Somba Opu jatuh ke tangan Belanda pada 12 April 1669. 

Setelah segala urusan perdamaian Arung Palakka dengan Sultan Hasanuddin selesai, Arung Palakka memulai babak baru hubungan personalnya dengan Gowa, ia menikahi puteri Karaeng Bontomarannu, dan menjadikannya permaisuri kedua. Urusan Gowa dengan Wajo kemudian diselesaikan Arung Palakka pada 1670. Bone kemudian resmi menjadi kerajaan terkuat di SulSel di bawah pimpinan Arung Palakka. 


Dilema Gelar Arung Palakka


Perkembangan selanjutnya Arung Palakka dalam sejarah Indonesia disebut-sebut sebagai pemberontak karena mengadakan kerja sama dengan Belanda selama Perang Makassar berlangsung, dan Sultan Hasanuddin kemudian disebut-sebut sebagai pahlawan karena melawan tentara Belanda. Namun, perlukah hal itu? Mengingat saat Perang Makassar berlangsung kerajaan-kerajaan di Nusantara belum lagi menjadi satu dalam kesatuan Negara Indonesia, dan lagipula usaha yang dilakukan oleh Arung Palakka dalam bekerja sama dengan Kompeni Belanda hanya dalam rangka melawan kesewenang-wenangan Kerajaan Gowa terhadap Kerajaan Bone. 
Gelar pemberontak atau pahlawan pada dasarnya bergantung dari posisi mana kita memandangnya. Jika yang menilai adalah orang-orang yang berseberangan dengan garis perjuangan sang tokoh maka ia adalah pemberontak dan jika yang menilai berada pada posisi yang dan kepentingan yang sama dengan sang tokoh, maka tokoh tersebut adalah pejuang. Apapun gelarnya, baik Arung Palakka maupun Sultan Hasanuddin telah mengerahkan tenaga ekstra dalam membela kepentingan masing-masing rakyatnya. 


DAFTAR PUSTAKA 


Abidin, Andi Zainal,. Capita Selecta: Sejarah Sulawesi Selatan, Hasanuddin University Press Ujung Pandang, Ujung Pandang, 1999 
Andaya, Leonard. Y., Warisan Arung Paalakka, Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17, Ininnawa, Makassar, 2004 
Kartodirjo, Sartono, dkk., Sejarah Nasional Indonesia III, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975 
Nur, Azhar. Trialianci Tellmpocoe, Kerajaan Bone-Soppeng-Wajo, Cakrawala Publishing Yogyakarta, cet 2, 2010 
(ed) Poelinggomang, Edward, Suriadi Mappangara, Sejarah Sulawesi Selatan jilid 1, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Propinsi Sulawesi Selatan, 2004 
Patunru, Abdurrazak Daeng, dkk., Sejarah Bone, Percetakan Walanae, Ujung Pandang, 1989 
Sutherland, Heather, Edward L. Poelinggomang, dkk, Kontinuitas dan Perubahan dalam Sejarah Sulawesi Selatan, Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2004 
[1]Abdurrazak dg. Patunru, dkk, Sejarah Bone, (Percetakan Walanae, Ujung Pandang, 1989), h. 39-40 
[2] Ibid, h.44
[3]Ibid, h.45-46 
[4]Ibid, h. 46 
[5]Leonard Y. Andaya., Warisan Arung Palakka,Sejarah Sulawesi-Selatan Abad ke-17, (Ininnawa, Makassar, 2004), h. 37
[6]H. Azhar Nur, Trialianci Tellumpoccoe, (Cakrawala Publishing Yogyakarta, Yogyakarta 
, 2010) cet 2, h. 64 
[7]Ibid, h. 65-68 
[8]Abdurrazak dg. Patunru, dkk, op.cit, h. 116 
[9]Ibid, h.120 
[10]Ibid, h. 121 
[11]Ibid, h. 122 
[12]Leonard Y. Andaya, op.cit, h.58 
[13]Sartono Kartodirdjo, dkk., Sejarah Nasional Indonesia III, (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1975), h. 374 
[14]Ibid, h. 375 
[15]Leonard Y. Andaaya, op. cit. h. 60
[16]Ibid, h. 62 
[17](ed) Edward L. Poelinggomang, dkk., Sejarah Sulawesi Selatan Jilid I, (Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Prov Sulawesi Selatan, 2004), h. 112


Penulis: Nur Fadilla Fajri Rahman





0 komentar:

HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html