Islam Di Domba Hitamkan

Ditengah kekacauan,Fitnah, teror dan kekerasan,umat Islam tetap tabah berdiri mempertahankan keyakinannya, dengan memperkenalkan agamanya dengan cara-cara damai dan menyejukkan.

Akhirnya Sunni dan Syiah Bersatu

Bukankah mereka mengimani tuhan yang sama, Mencintai Nabi dan Rosul yang sama, memiliki Kitab suci yang sama, Mempunyai Syahadah yang sama ?, Kemudian mereka saling fitnah dan menumpahkan darah.

Pengaruh Peradaban Islam Terhadap dunia Modern

Pada masa lampau, peradaba Islam memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan dunia Barat, kini Islam dan Barat saling menghunus pedang, Islam sebagai Tokoh Kegelapan, sedangkan Barat sebagai Tokoh Peradaban.

Jihad Dan Terorisme dalam Prespektif Islam

Siapa mereka yang mengatakan terorisme merupakan bagian dari jihad fi sabilillah ?? sedangkan teror sangat ditentang oleh teks rujukan utama umat Islam.

Lagenda Assasin "Penebar Maut Lembah Alamut"

Asyhasin(assassin) Antara Lagenda dan Mitos, Siapa Sangka Assassin yang terkenal sebagai Game, adalah Kisah Nyata Pasukan Khusus sekte pecahan Syiah Ismailiyah.

Friday, 10 May 2013

DILEMA GELAR ARUNG PALAKKA


Perjanjian perdamaian yang berulang-ulang 

Sangat sulit untuk memulai tulisan ini dengan kisah perdamaian Arung Palakka dan Sultan Hasanuddin, yang menandakan berdamainya kerajaan Bone-Gowa pada tahun 1669. Karena, jauh sebelum itu kedua kerajaan besar ini sempat berkali-kali mengadakan perdamaian, dimulai dari perjanjian Tamalate, diikrarkan antara Raja bone VI La Ulio BotoE dan Raja Gowa IX Dg. Matanre To Maparrisi Kallonna (diikrarkan kira-kira pada pertengahan abad ke XVI)[1] isinya: 
  1. Narekko engka perri’na Bone, maddaungi tasie naola mangkasae, narekko engka perri’na Gowa makkumpelle’ bulue naola To bone 
  2. Tessi nawa-nawa majakki, tessi patingarai kanna Bone-Gowa, tessi acinnaiyangngi ulaweng matasa, patola malampe 
  3.  Iyasi somperengngi Bone iyasi mania ada to riyoloe lettu ri to rimunrinna 
  4. Nigi-nigi temmarengngerrang ri ada to riyoloe, mareppai urikkurinna, lowa-lowana, padai ittello riaddampessangnge ri batuwe Tanana 
Artinya: 
  1. Sekiranya orang Bone mengalami kesukaran maka membentang luaslah lautan itu diarungi orang Makassar menuju ke Bone untuk membantu, dan sekiranya orang Makassar mengalami kesukaran, maka meratalah gunung itu dilalui orang Bone menuju ke Makassar untuk membantu 
  2. Tak akan saling berprasangka jelek satu dengan yang lain, tak akan saling mendatangkan peperangan antara Bone dengan Gowa, tak akan saling mengingini sesuatu yang tinggi nilainya, yang sukar dicari taranya bila salah satu sedang memilikinya 
  3. Siapa yang mengendalikan Gowa, ia lagi memusakai perkataan (janji) orang dahulu, siapa yang mengendalikan Bone, ia lagi memusakai perkataaan (janji) orang dahulu 
  4. Siapa-siapa yang tidak ingat (tidak mengindahkan akan perkataan (janji) orang dahulu, pecah berantakanlah periuk-belanganya, negerinya mengalami kehancuran bagaikan sebutir telur dihempaskan ke atas Batu.
Perjanjian ini menjadi pengikat antara kedua kerajaan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya, pada pemerintahan raja Bone ke VI La Tenri Rawe Bongkange, menerima kunjungan dari Raja Gowa ke X, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung yang bergelar Tunipallangga. Sebagaimana lazimnya perkunjungan Raja-raja tetangga itu senantiasa disambut meriah dengan berbagai acara, dengan permainan rakyat; yang tidak dapat dilupakan dalam penerimaan tamu agung itu ialah sabung ayam.[2] Acara sabung ayam menjadi momen tak terlupakan bagi Tunipallangga, karena ayam sabungan kebanggaanya kalah dan terbunuh oleh ayam milik La BotoE, kejadian ini merupakan pukulan bagi Tunipallangga karena ia terkenal sebagai seorang raja pemberani dan belum pernah terkalahkan dalam pertempuran yang dipimpinnya. 

Rupanya peristiwa kekalahan orang Gowa dalam permainan sabung ayam itu tersebar di kalangan raja-raja kecil yang terletak di sekitar kerajaan Bone yang saat itu mulai melebarkan kekuasaannya. Akhirnya sebagian besar raja-raja kecil itu memutuskan untuk menggabungkan kerajaannya menjadi bawahan dari kerajaan Bone antara lain segenap raja-raja kecil di daerah Ajang Ale (sebelah barat hutan), turut bergabung juga daerah Tellu Limpoe yang saat itu diakui Gowa sebagai daerah kekuasaannya, kesemua itu dijadikan daerah bawahan (lili) dari kerajaan Bone.[3] 

Kejadian beruntun di atas menyulut kemarahan Gowa, mereka lalu mengadakan penyerangan, penyerangan pertama berlangsung tiga hari dan menghasilkan perjanjian perbatasan Jori’ Dewata, penyerangan ke dua berlangsung lima hari dan terpaksa diberhentikan karena Raja Gowa mendapat luka senjata[4], dua tahun kemudian Tunipallangga menyerang kembali, namun setelah tujuh hari ia harus kembali ke Gowa dan meninggal tidak lama setelah itu.[5] Penerusnya, Tunibatta, berjalan ke Bone untuk melanjutkan peperangan hanya dua puluh lima hari setelah dilantik. Tentaranya dipukul mundur ke Bukaka, dia kemudian tertangkap dan dipenggal di Cempa. 

Setelah kematian Tunibatta, kedua pihak kembali bertemu dan menyepakati perjanjian Ulu-Kanaya ri Caleppa (dalam tahun 1565), yang isinya: 
  1. Bone menuntut agar kepadanya diserahkan seluruh daerah yang membentang ke Barat dan daerah-daerah yang membentang sampai ke daerah Ulaweng, di sebelah utara 
  2. Sungai Tangka agar dijadikan perbatasan daerah kekuasaan Bone dan Gowa. Di sebelah utara masuk kekuasaan kerajaan Bone dan di sebelah selatan termasuk kekuasaan kerajaan Gowa 
  3. Bone menuntut pula agar negeri Cenrana dimasukkan ke dalam kekuasaan kerajaan Bone, karena sejak dahulu di zaman pemerintahan Raja Bone ke V La Tenri Sukki MappajungngE, negeri itu telah menjadi daerah kerajaan Bone. 
Perjanjian ini sempat melahirkan perdamaian antara kedua Negara selama kurang lebih satu dasawarsa. Banyaknya perang dan perjanjian perdamaian yang pernah terjadi antara kerajaan Bone-Gowa memberikan kesan hubungan mereka mengalami pasang surut yang cukup sering, ini karena kedua kerajaan ini memang merupakan dua kerajaan besar yang pada abad ke-16 masih getol-getolnya melakukan perluasan wilayah kekuasaan dan penanaman pengaruh politik terhadap kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Sulawesi Selatan, sehingga kejadian seperti bergabungnya Tellu Limpoe di bawah Bone merupakan sesuatu yang tidak bisa ditolerir oleh Gowa dan perang menjadi harga mati untuk mempertahankan kedaulatan dan kewibaawaan, meskipun pada akhirnya lagi-lagi mereka berdamai. 


Bosowa bersekutu 


Bone-Soppeng-Wajo pada 1582 M mengadakan perjanjian persaudaran yang isinya menjamin terbinanya persaudaraaan antara tiga kerajaan, menghindari gangguan keamanan dari masing-masing pihak, dan menciptakan kesatuan gabungan yang memungkinan bagi setiap anggota persaudaraan untuk senantiasa mempertahankan diri terhadap serangan kerajaan-kerajaan lokal lainnya. 

Perjanjian ini lahir karena kekesalan Arung Matoa Wajo terhadap Raja Gowa Manggorai Daeng Mametta Karaeng Bonto Langkasa putra Karaeng Tunibatta yang memberi perintah kepadanya sebagai abdi Kerajaan Gowa untuk mengangkut kayu dari pegunungan Barru ke pinggir laut untuk dipergunakan mendirikan istana di Tamalate sebagai ibukota kerajaan Gowa. Perintah Raja Gowa ini dirasakan oleh Arung Matoa Wajo sebagai tindakan sewenang-wenang, maka hal tersebut disampaikannya kepada Raja Bone La Tenri Rawe, yang merasa tidak senang pada tindakan dan perintah Raja Gowa, maka Mangkue Bone mengajak Arung Matoa dan Datu Soppeng untuk bersama-sama ke Barru.[6] 

Setelah mereka tiba di Barru, Raja Gowa heran dan bertanya-tanya mengapa Raja Bone, dan Datu Soppeng juga ikut datang ke Barru, sedangkan yang dipanggil hanyalah Arung Matowa Wajo, kedatangan Raja Bone dan Datu Soppeng dan rakyat-rakyatnya adalah untuk membantu Wajo mengangkut kayu-kayu tersebut, saat mereka beristirahat, para Raja ini bermusyawarah dan bersepakat akan mengadakan penyerangan terhadap Cenrana selama tujuh hari. Pada hari yang ditentukan mereka berkumpul dan sama-sama melakukan penyerangan terhadap Cenrana, rencana mereka berhasil dan setelah Cenrana ditaklukkan mereka bersepakat untuk bertemu kembali di Timurung dalam usaha untuk mempererat dan memperkokoh persaudaraan mereka, dalam menghadapi serangan—serangan dari kerajaan Gowa. Di Timurung mereka bertemu kembali dan diadakanlah perjanjian persaudaraan Tellumpoccoe.[7] 

Meskipun pada hakikatnya perjanjian ini adalah untuk menentang politik ekspansi dari kerajaan Gowa yang sudah lama senantiasa berusaha untuk menanamkan pengaruhnya di daerah-daerah Bugis khususnya dan di Sulawesi Selatan pada umumnya, namun perjanjian ini mempunyai implikasi bagi pembinaan stabilitas politik untuk setiap negara anggotanya, Wajo yang saat itu merupakan abdi Kerajaan Gowa akhirnya dapat melepaskan diri dari penghambaan kerajaan Gowa, sedangkan Soppeng sebagai kerajaan kecil dapat menjadi kuat dengan bergabung bersama kerajaan besar Bone, di samping itu Bone sudah terhindar dari gangguan Kerajaan Wajo dan Soppeng. 

Negara Tellumpoccoe ini kemudian secara berturut-turut menerima Islam dimulai oleh Soppeng pada tahun 1609, Wajo tahun 1610, dan akhirnya Bone pada tahun 1611. Diterimanya Islam sebagai agama resmi ketiga Kerajaan ini berawal dari Kerajaan Gowa yang menerima Islam pada 9 November 1607 (1926 Rajab 1016 H), berdasarkan pada perjanjian yang disepakati antara raja Gowa dengan raja-raja Bugis yang maksudnya barangsiapa yang menemukan jalan yang terbaik berjanji untuk memberitahukan hal yang baik itu kepada Negara-negara lainnya. Tatkala seruan itu sampai kepada daerah-daerah Bugis, Bone, Soppeng, Wajo, dan Ajatappareng, kesemuanya menolak ajakan ini secara tegas sehingga Gowa memaklumkan perang yang oleh orang Bugis menyebutnya musu’ asellengeng (perang pengislaman). Peperangan yang akhirnya terjadi dimenangkan oleh Kerajaan Gowa, maka praktis raja-raja yang ditaklukkan tersebut menerima Islam sebagai agama. 


Dijajahnya Bone atas Gowa, pengasingan keluarga bangsawan, dan munculnya Arung Palakka 


Sebelum terjadinya musu asellengeng, Raja Bone ke XI La Tenru Ruwa yang baru tiga bulan menjabat sebagai arumpone didatangi oleh Raja Gowa yang memperkenalkan Islam, La Tenri Ruwa yang diceritakan sebagai seorang yang berpandangan ke depan secara lapang dada menerima Islam, namun saat ia menyerukan agama Islam pada rakyatnya ia di tolak bahkan rakyat bersepakat memakzulkannya dan menggantinya dengan La Tenri Pale yang juga menolak Islam, begitulah hingga akhirnya Kerajaan Gowa melaksanakan musu’ asellengeng, dan karena kekalahan Bone pada perang ini berubahlah status Bone menjadi ‘kerajaan palili’ di bawah kerajaan Gowa.[8] 

Setelah La Tenri Pale wafat 1631 ia digantikan oleh La Maddaremmeng, yang sangat fanatik terhadap ajaran Islam, dan memerintahkan agar agama Islam dijalankan dengan semurni-murninya di kerajaannya. Namun usahanya ini mendapat banyak rintangan bahkan ibunya sendiri, Datu Pattiro, menentang usaha anaknya, ia secara pribadi bersama para pembesar dan kaum bangsawan meminta perlindungan pada Sultan Malikussaid raja Gowa. Mula-mula raja Gowa mengajak La Maddaremmeng berdamai dengan ibunya dan para pemberontak, namun ditolak, akhirnya 1643 Gowa dibantu dengan sekutu-sekutunya, Wajo, Sidenreng, dll menyerang Bone, pada serangan ini Bone menerima kekalahan, sehingga La Maddaremmeng dan saudaranya La Tenriaji menyingkir ke Larompong (Luwu). Namun tertangkap oleh pasukan Gowa di Cimpu dan diasingkan ke Gowa. Bone akhirnya resmi menjadi jajahan Gowa. 

Karena kekosongan jabatan Raja di Bone maka atas izin Sultan Malikussaid diangkatlah Tobala’ menjadi Jennang (Gubernur) di Bone.[9] La Tenriaji yang sebelumnya lari bersama kakaknya ke Luwu berhasil meloloskan diri dari kepungan tentara Gowa diam-diam kembali ke Bone, mengumpulkan simpatisan hingga akhirnya 1646 mereka menobatkan La Tenriaji sebagai Raja Bone. Raja Gowa yang mendengar berita ini segera mengerahkan pasukan untuk menghukum sang ‘pemberontak’. La Tenriaji diserang dari tiga pihak, pasukan Wajo dan Luwu dari utara, pasukan Gowa dari Selatan, sedangkan armada Gowa mengancam dari laut.[10] Peperangan yang dikenal sebagai perang Passempe ini berlangsung sengit, banyak sekali tentara yang gugur dan luka-luka dari ke dua belah pihak. Banyaknya pasukan Gowa yang menyerang membuat pertarungan berjalan tidak seimbang meskipun pasukan Bone mati-matian berperang pada akhirnya mereka terpaksa menyerah. La Tenriaji ditawan lalu diasingkan ke Siang (Pangkajene sekarang), dan akhirnya wafat di sana. Selain La Tenriaji, bangsawan-bangsawan Bone dan Soppeng yang sebelumnya ikut membantu pemberontakan La Tenriaji juga turut diasingkan. Bahkan seusai perang Raja Gowa, Arung Matoa Wajo, dan Datu Luwu bersepakat untuk membagi tawanan Bone, namun Wajo menolak bagiannya karena masih memegang perjanjian di Timurung, bahwa Bone dan Wajo adalah saudara.[11] 

Diantara bangsawan-bangsawan Bone dan Soppeng yang diasingkan, terdapat Arung Tana Tennga La Pottobune, ayahnya Arung Tana Tennga Tua, istrinya We Tenrisui Datu Mario Riwawo (cucu dari La Tenru Ruwa) dan putranya Arung Palakka La Tenritata, yang waktu itu berusia sebelas tahun. Empat putrinya tidak dibawa serta dan dititipkan pada sanak keluarganya di Soppeng karena ditakutkan jika mereka cedera dalam pengasingan. Arung Palakka dan keluarganya jatuh ke dalam tangan Karaeng Pattingalloang, Mangkubumi Kerajaan Gowa yang terkenal budiman, dan berpengetahuan luas. Disinilah Arung Palakka menghabiskan masa mudanya dan menimba ilmu banyak-banyak dari Karaeng Pattingalloang, adapun selama berada di pengasingan ia dikenal dengan nama Daeng Serang. Saat Karaeng Pattingalloang wafat 1654, ia digantikan anaknya, Karaeng Karunrung menjadi Mangkubumi kerajaan Gowa, keluarga Arung Palakka pun berganti tuan. 


Sultan Hasanuddin, Arung Palakka, dan Belanda 


Setelah di awal-awal tulisan penulis memaparkan bagaimana hubungan kerajaan Bone-Gowa ini mengalami pasang surut yang cukup sering dalam skala lokal, dengan tokoh-tokoh utama lokal--meskipun sebelum diasingkannya keluarga Arung Palakka pedagang-pedagang dari Portugis, Inggris, dan Belanda telah banyak berada di Makassar, namun mereka tidak turut campur dalam setiap perang-damai yang berlangsung di dua kerajaan ini hingga memasuki tahun 1663 saat Arung Palakka memutuskan menerima tawaran dari Kompeni Belanda untuk bersembunyi di Batavia--sekarang kita akan melihat bagaimana babak baru hubungan Bone-Gowa ini setelah mendapat pemeran tambahan tokoh-tokoh internasional sebagai pihak ketiga dalam kisahnya. 

Tahun 1601 menjadi awal kedatangan perwakilan dagang Belanda ke Makassar atas undangan dari Sultan Alauddin, selama berada di Makassar mereka menjalankan politik dagang monopoli atas rempah-rempah Maluku, mereka menginginkan bagian terbesar dari perdagangan rempah-rempah Maluku, sedangkan pada waktu itu perdagangan ini ada di tangan orang-orang Makassar, hal ini menimbulkan perselisihan, karena politik dagang monopoli mereka tidak sejalan dengan prinsip Raja Gowa “Tuhan menciptakan tanah dan laut; tanah dibagikanNya untuk umat manusia, dan laut adalah milik bersama”[12] selain itu kebijakan perdagangan bebas yang diterapkan di Makassaar adalah berpatokan pada prinsip laut bebas (mare liberium). Tahun 1634, Belanda mengadakan blockade laut terhadap perahu-perahu Makassar yang berdagang lada, namun mereka menemui kegagalan karena rencana blockade mereka lebih dulu diketahui oleh Raja Gowa, selain itu armada milik kompeni tidak pernah bisa menangkap perahu-perahu Makassar.[13]Kondisi ini membuat kompeni memikirkan jalan untuk mendekati Gowa dengan jalan damai, dikirimlah utusan Belanda untuk berdamai dan diterima dengan baik oleh raja. Perjanjian perdamaian ini kemudian berlangsung sejak 1637 hingga 1654, meskipun tidak dapat dihindari selama rentang waktu itu ini banyak kejadian-kejadian yang sering membawa keduanya ke jurang permusuhan.[14] 

Tahun 1653 Sultan Hasanuddin diangkat menjadi Raja Gowa menggantikan ayahnya Sultan Malikussaid, dengan didampingi oleh mangkubumi Karaeng Karunrung menggantikan ayahnya Karaeng Pattinganlloang mewarisi kerajaan kuat dengan perdagangan internasional yang sedang berkembang. Sama seperti pendahulunya, Sultan Hasanuddin juga tidak pernah memberi angin segar pada politik dagang monopoli Belanda, bahkan dalam rancangan perjanjian perdamaian yang dikirim oleh pihak Belanda dibalas oleh Sultan Hasanuddin dengan kata-kata keras yang memperlihatkan tekad Gowa dalam mempertahankan darah kehidupan kerajaan: perdagangan Internasional di pelabuhan Makassar.[15] 

Setelah membalas surat tersebut, Sultan Hasanuddin sadar bahwa ada kemungkinan akan terjadi konfrontasi senjata dengan pihak Belanda, sehingga ia segera mengumpulkan 3.200 tentara Bugis dan Turatea di bawah berbagai pemipin Makassar untuk membangun kubu pertahanan, diantaranya 700 tentara Bone yang dipimpin oleh Karaeng Cenrana. Benar dugaan Sultan Hasanuddin, karena pada tahun itu, 1660 Belanda menyerang Gowa dan berhasil menduduki Benteng Panakukang. Belanda menduduki Benteng Panakukang, menempatkan persediaan makanan selama lima bulan, dan melabuhkan empat kapal perang bersenjata lengkap dan dua sekoci di pelabuhan Makassar untuk menjaga benteng ini.[16] Karena kekalahan ini Karaeng Karunrung memerintahakan 10.000 orang Bone untuk menggali parit yang memisahkan Benteng Panakukang dari daratan Gowa.[17] 

Parit yang digali ternyata dirasakan sangat berat oleh orang-orang Bone, belum lagi pengawasan yang ketat dari mandor-mandor yang memantau pekerjaan mereka karena bangunan parit itu harus segera selesai. Tidak sedikit orang Bone yang diberikan sanksi badan jika kedapatan melakukan pelanggaran atau malas, selain itu makanan yang diberikan sangat sedikit dibandingkan rasa lelah mereka bekerja seharian, makanan mereka hanya berupa nasi dengan remah ikan yang diberi garam namun lebih banyak garamnya daripada ikannya. Arung Palakka dan beberapa bangsawan Bone lainnya yang ditahan oleh Sultan sehubungan dengan peristiwa La Maddaremmeng merasa tidak tahan dengan kesewenang-wenangan Raja Gowa ini merencanakan pelarian diri besar-besaran pada suatu malam di bulan September 1660 saat Sultan Hasanuddin dan pembesar-pembesar kerajaan Gowa sedang berpesta di Tallo. Arung Palakka menggerakkan semua pekerja parit yang jumlahnya hampir 10.000 bersama dengan tawanan perang Bone dan Soppeng melarikan diri dari Gowa. Pada hari keempat mereka akhirnya tiba di Lamuru. 

Setibanya di Lamuru, Arung Palakka mengatur pertemuan dengan Datu Soppeng dan Raja Bone Tobala’ di Attapang. Dalam pertemuan di Attapang, Soppeng menyepakati tawaran Tobala’ untuk mempersatukan Bone dan Soppeng melawan Gowa. Perundingan ini berlangsung di atas rakit di Sungai Attapang, oleh sebab itu persetujuan Bone Soppeng ini dinamai Pincara Lopie ri Attapang (rakit perahu di Attapang). Setelah perjanjian ini disepakati, kedua kerajaan, Bone dan Soppeng membujuk Wajo untuk bergabung demi mempertahankan persekutuan Tellumpoccoe yang hamper mati, namun di tolak oleh Arung Matoa Wajo La Tenrilai Tosenngeng karena Wajo tidak dapat meninggalkan perjanjiannya dengan Gowa karena Wajo adalah “abdi Karaeng” yang sejati. 

Dimulailah perang antara Bone-Sopeng dan Gowa dengan sekutunya Wajo, perang berlangsung sengit dan Tobala’ menjadi salah satu korban dalam perang ini, tapi lagi-lagi perang ini berakhir dengan kekalahan Bone. 

Arung Palakka mengakui kekalahannya pada Gowa dan mendekati Karaeng Sumanna, melafalkan sompa-warani : “Baiklah, Karaeng. Peperangan kita telah selesai, akan tetapi peperangan hamba dengan Wajo belumlah usai. Izinkanlah hamba menyelesaikannya dahulu, setelah itu hamba akan menyusul ke Gowa”. Sekali lagi Bone tetap menjadi jajahan Gowa. 

Setelah kekalahan ini, Arung Palakka mengumpulkan sukarelawan-sukarelawan Bone dan Soppeng untuk menyerang Wajo. Pertempuran terjadi di Sarasa, Wajo kalah mereka mundur ke Kera, dimana mereka terpaksa menyerah kepada Arung Palakka. Sesudah itu Arung Palakka dan pasukannya yang tersisa berangkat menuju Gowa, di Lisu ia bertemu dengan pasukan Gowa yang diperintahkan menangkapnya, akhirnya kembali terjadi pertempuran. Karena lawannya lebih banyak, Arung Palakka menyingkir dan bersembunyi di bukit-bukit batu di Maruwala, tapi keberadaannya di ketahui sehingga ia berpindah lagi ke Umpungeng, di sini ia bernadzar akan menyembelih kerbau apabila ia dan kawan-kawannya selamat dari pengejaran tentara Gowa. 

Dari sini perjalanan Arung Palakka dan kawan-kawannya berlanjut ke Buton. Tidak lama setelah Arung Palakka tiba di Buton, banyak orang Bugis yang datang menyusulnya. Selain Arung Palakka sendiri yang menjadi pemimpin dari pengungsi itu, terdapat Sembilan Mattola dari Soppeng dan Bone, diantaranya yang terkenal adalah: Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo, Arung Pattojo, dan Arung Kaju. Adapun selain di Buton, Ternate juga menjadi tempat orang Bugis menyingkir. 

Setelah mengetahui keberadaan Arung Palakka di Buton, Sultan Gowa menuntut Sultan Buton untuk menyerahkan Arung Palakka, namun Sultan Buton berhasil menyembunyikan Arung Palakka dari Tentara Gowa. Selama di Buton Arung Palakka sering berdialog dengan Sultan Buton tentang strategi yang bagus untuk melawan dan merebut kekuasaan di kawasan timur, ia juga mengingat pembicaraannya dahulu dengan Karaeng Pattingalloang dan Karaeng Karunrung bahwa hanya Kompeni Belanda yang mampu melawan kekuatan Kerajaan Gowa, ia juga menjadi semakin yakin setelah melihat sendiri kekalahan Gowa atas Kompeni pada serangan 1660. 

Tahun 1663 Arung Pattojo berangkat ke Batavia bersama seorang pembesar Kompeni Belanda bernama Nieuland. Bersama dengan pembesar tersebut ia menghadap pemerintah tertinggi Kompeni Belanda, ia menawarkan untuk bekerja sama memerangi Gowa, pemerintah Belanda menyetujuinya dan menawarkan pada pangeran-pangeran Bugis pelarian itu untuk datang bermukim ke Batavia. November 1663 Arung Palakka beserta 50 orang lainnya berangkat ke Batavia, dan menyusul pengikutnya yang berjumlah sekitar 700 orang, mereka diberi tempat bermukim di perkampungan Angke, dan menamakan diri mereka dengan sebutan To angke. 

Kemunculan Belanda dalam hubungan rumit Bone Gowa bukanlah sebagai pihak netral, kemunculannya benar-benar sarat kepentingan, mengingat buruknya hubungan Belanda dengan Gowa yang menolak mati-matian politik dagangnya, tentunya bertambahnya sekutu di pihak Belanda akan sedikit menjadi kabar gembira bagi mereka. Begitu juga dengan Bone, yang melihat harapan akan berakhirnya masa penindasan oleh Kerajaan Gowa atas Kerajaannya. 


Perang Makassar, merdekanya Bone, dan perdamaian Bone dengan Gowa


Agustus 1666 menjadi awal bagi Arung Palakka untuk membuktikan pada Kompeni bahwa ia bukanlah orang sembarangan, Kompeni meminta bantuan militer pada Arung Palakka untuk menyerang “pemberontak’ Minangkabau di pantai barat Sumatera, dia langsung setuju, dan pihak Belanda juga telah berjanji bahwa jika misi ini berhasil maka mereka akan membantu Bone mengadakan perang terhadap Gowa. Misi ini sukses, karena dari 350 jiwa pasukan Minangkabau 200 jiwa menjadi korban. Dan ia sekaligus mendapat kepercayaan untuk memimpin pasukannya pada perang melawan Makassar. 

Pagi 24 November 1666, ekspedisi Kompeni berlayar di bawah Laksamana Cornelis Janszoon Speelman, dengan pasukan sekitar 1870 orang, 17 Desember mereka tiba di pelabuhan dekat Tana Keke, keesokan harinya Speelman langsung mengirim beberapa tuntutan kepada Raja Gowa, yang jika tuntutan mereka tidak dipenuhi maka “dengan kasih Tuhan akan membalas dengan kekerasan”, jawaban dari Sultan Hasanuddin tiba pada 21 Desember, jawaban sultan Hasanuddin menunjukkan kesiapannya dengan tantangan dari Speelman, mulailah Armada Kompeni menembakkan tiga meriam ke kota Makassar yang menandakan dimulainya Perang Makassar. Selanjutnya mereka menuju Bantaeng dan menghancurkan kota ini, tanggal 31 mereka bergerak menuju Buton yang telah diduduki tentara Gowa, tapi mengetahui bahwa ternyata Arung Palakka ada bersama armada Kompeni, sekitar 300 tentara Gowa yang ternyata orang Bone bersumpah setia dan bergabung pada tentara Arung Palakka, keesokan harinya datang utusan Sultan Buton menemui Speelman dan menyampaikan bahwa Sultan Buton akan datang menemui mereka di malam hari, pada pertemuan itu Sultan Buton menyatakan bergabung dengan Arung Palakka, Karaeng Bontomarannu yang memimpin pendudukan di Gowa akhirnya menyatakan damai pada Arung Palakka dan sekutunya, karena sebagaian besar tentaranya telah bergabung di bawah Arung Palakka, bahkan dua wakilnya Sultan Bima dan Datu Luwu telah menunjukkan gelagat akan berbelot, hasil perjanjian damai menyebutkan bahwa Karaeng Bontomarannu harus menyerahkan semua kapal, persediaan makanan, perhiasan, emas, bahkan budak-budak dan wanita pada Arung Palakka dan sekutu. Pertempuran Buton akhirnya dimenangkan oleh Arung Palakka dan sekutu (Belanda dan Sultan Buton). 

Awal Juli, Arung Palakka berangkat ke Bone untuk mengumpulkan tentara bantuan dari Bone dan Soppeng, dengan bantuan tiga pangeran Soppeng, Arung Appanang, Arung Bila, dan Arung Belo. Setelah pasukan terkumpul, mereka menuju Lamatti dan Bulo-bulo yang menolak bergabung dengan pasukan Arung Palakka, saat pasukan Arung Palakka terdesak oleh pasukan gabungan Lamatti-Bulo-bulo-Gowa, muncul Poleman, kapten yang ditugaskan untuk mencari Arung Palakka karena disangka hilang saat berlayar menuju Bone, maka bergabunglah pasukan Poleman dan Arung Palakka sehingga mereka berhasil menduduki Lamatti dan Bulo-Bulo. Pasukan sekutu yang dipimpin Speelman berangkat dari Bantaeng menuju Makassar, sebelum Arung Palakka kembali dari Bone, dan pasukan Makassar memulai penyerangan tanggal 19 Juli, banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak, tanggal 21 Juli armada Speelman mundur ke Buton dan datang kembali pada tanggal 22 dengan tambahan armada dari Buton. Tanggal 24 pasukan Speelman berlabuh di Barombong. 

Sementara itu, setelah dari Lamatti dan Bulo-Bulo Arung Palakka melanjutkan perjalanan ke Bantaeng,di bantaeng ia lagi-lagi mendapatkan sekutu baru yaitu Bulukumba dan Tanakongkong, dari sini mereka melanjutkan perjalanan ke Binamu, di Binamu mereka dicegat oleh Tentara Gowa yang dipimpin oleh Karaeng Langkese, Karaeng Karunrung dan Mara’dia Mandar, di tengah pertempuran ini Arung Palakka mendapatkan bantuan dari Arung Bila dan Arung Belo. Setelah melewati peperangan ini pasukan Arung Palakka bergabung dengan pasukan Speelman di Galesong. 

Selanjutnya satu-persatu sekutu-sekutu lokal Gowa membelot kepada Arung Palakka, bahkan Luwu yang sebelumnya selalu menjadi sekutu Gowa juga turut membelot dan memberikan bantuan militer kepada Arung Palakka. Tanggal 26 Oktober menjadi hari paling menyedihkan bagi Gowa selama perang berlangsung, karena benteng pertahanan Barombong akhirnya berhasil diduduki oleh Arung Palakka beserta sekutunya. Setelah penaklukan benteng Barombong diadakan gencatan senjata antara kedua belah pihak, selama gencatan senjata Sultan Hasanuddin mengirimkan surat kepada pihak sekutu yang memberitahukan bahwa segala tuntutan Belanda terhadap kapal karam mereka Leuwin dan Hilversum telah dipenuhi oleh Sultan, namun pihak Sekutu tidak puas dengan hal ini mereka lalu mengajukan tuntutan-tuntutan baru dan memberi waktu satu hari untuk menjawab tuntutan itu, selama tenggat waktu yang diberikan Sultan Hasanuddin tidak memberi jawaban pada sekutu, akhirnya pihak sekutu memutuskan bahwa gencatan senjata berakhir, bersamaan dengan itu sekutu Gowa, Binamu dan Bangkalan bergabung dengan Arung Palakka, dan Wajo telah dikuasai juga oleh tentara Bone. Sultan Hasanuddin semakin tidak melihat harapan dalam peperangan ini. Ditambah lagi pada 7 November benteng di dekat Bungaya di hancurkan oleh pasukan sekutu, akhirnya pada 8 November Sultan Hasanuddin mengirimkan utusan damai ke markas Arung Palakka dan Speelman dengan membawa bendera putih. 

Pada 10 November Sultan Hasanuddin kembali mengirimkan utusannya untuk menghadap pada Arung Palakka dan mengingatkannya pada perjanjian Tamalate antara Bone dan Gowa. Akhirnya pada 13 November 1667 diadakan pertemuan perdamaian di Bungaya antara pihak kerajaan Gowa dan Arunga Palakka beserta sekutunya, pertemuan ini menghasilkan naskah perjanjian Bongaya yang disepakati bersama isinya pada tanggal 18 November 1667. Poin pertama perjanjian ini membebaskan Bone sepenuhnya dari jajahan Gowa, sehingga tidak ada lagi alasan bagi Bone untuk terus melanjutkan peperangan dengan Gowa. 

Secara keseluruhan banyak pasal-pasal perjanjian yang dirasa memberatkan bagi Gowa-sebagaimana lazimnya perjanjian perdamaian setelah perang yang memberatkan pihak yang kalah-sehingga hanya dalam waktu kurang lebih sembilan bulan, peperangan kembali meletus di Gowa, tentara Gowa lebih dulu menyerang markas Speelman. Karena telah terikat perjanjian sebelumnya dengan Kompeni Belanda, maka terpaksa tentara Arung Palakka ikut kembali dalam peperangan itu, peperangan ini benar-benar berakhir setelah Benteng Somba Opu jatuh ke tangan Belanda pada 12 April 1669. 

Setelah segala urusan perdamaian Arung Palakka dengan Sultan Hasanuddin selesai, Arung Palakka memulai babak baru hubungan personalnya dengan Gowa, ia menikahi puteri Karaeng Bontomarannu, dan menjadikannya permaisuri kedua. Urusan Gowa dengan Wajo kemudian diselesaikan Arung Palakka pada 1670. Bone kemudian resmi menjadi kerajaan terkuat di SulSel di bawah pimpinan Arung Palakka. 


Dilema Gelar Arung Palakka


Perkembangan selanjutnya Arung Palakka dalam sejarah Indonesia disebut-sebut sebagai pemberontak karena mengadakan kerja sama dengan Belanda selama Perang Makassar berlangsung, dan Sultan Hasanuddin kemudian disebut-sebut sebagai pahlawan karena melawan tentara Belanda. Namun, perlukah hal itu? Mengingat saat Perang Makassar berlangsung kerajaan-kerajaan di Nusantara belum lagi menjadi satu dalam kesatuan Negara Indonesia, dan lagipula usaha yang dilakukan oleh Arung Palakka dalam bekerja sama dengan Kompeni Belanda hanya dalam rangka melawan kesewenang-wenangan Kerajaan Gowa terhadap Kerajaan Bone. 
Gelar pemberontak atau pahlawan pada dasarnya bergantung dari posisi mana kita memandangnya. Jika yang menilai adalah orang-orang yang berseberangan dengan garis perjuangan sang tokoh maka ia adalah pemberontak dan jika yang menilai berada pada posisi yang dan kepentingan yang sama dengan sang tokoh, maka tokoh tersebut adalah pejuang. Apapun gelarnya, baik Arung Palakka maupun Sultan Hasanuddin telah mengerahkan tenaga ekstra dalam membela kepentingan masing-masing rakyatnya. 


DAFTAR PUSTAKA 


Abidin, Andi Zainal,. Capita Selecta: Sejarah Sulawesi Selatan, Hasanuddin University Press Ujung Pandang, Ujung Pandang, 1999 
Andaya, Leonard. Y., Warisan Arung Paalakka, Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17, Ininnawa, Makassar, 2004 
Kartodirjo, Sartono, dkk., Sejarah Nasional Indonesia III, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975 
Nur, Azhar. Trialianci Tellmpocoe, Kerajaan Bone-Soppeng-Wajo, Cakrawala Publishing Yogyakarta, cet 2, 2010 
(ed) Poelinggomang, Edward, Suriadi Mappangara, Sejarah Sulawesi Selatan jilid 1, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Propinsi Sulawesi Selatan, 2004 
Patunru, Abdurrazak Daeng, dkk., Sejarah Bone, Percetakan Walanae, Ujung Pandang, 1989 
Sutherland, Heather, Edward L. Poelinggomang, dkk, Kontinuitas dan Perubahan dalam Sejarah Sulawesi Selatan, Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2004 
[1]Abdurrazak dg. Patunru, dkk, Sejarah Bone, (Percetakan Walanae, Ujung Pandang, 1989), h. 39-40 
[2] Ibid, h.44
[3]Ibid, h.45-46 
[4]Ibid, h. 46 
[5]Leonard Y. Andaya., Warisan Arung Palakka,Sejarah Sulawesi-Selatan Abad ke-17, (Ininnawa, Makassar, 2004), h. 37
[6]H. Azhar Nur, Trialianci Tellumpoccoe, (Cakrawala Publishing Yogyakarta, Yogyakarta 
, 2010) cet 2, h. 64 
[7]Ibid, h. 65-68 
[8]Abdurrazak dg. Patunru, dkk, op.cit, h. 116 
[9]Ibid, h.120 
[10]Ibid, h. 121 
[11]Ibid, h. 122 
[12]Leonard Y. Andaya, op.cit, h.58 
[13]Sartono Kartodirdjo, dkk., Sejarah Nasional Indonesia III, (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1975), h. 374 
[14]Ibid, h. 375 
[15]Leonard Y. Andaaya, op. cit. h. 60
[16]Ibid, h. 62 
[17](ed) Edward L. Poelinggomang, dkk., Sejarah Sulawesi Selatan Jilid I, (Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Prov Sulawesi Selatan, 2004), h. 112


Penulis: Nur Fadilla Fajri Rahman





Monday, 11 March 2013

Sedikit Telaah tentang Kesultanan Sulu dalam Konflik Sabah

Banyak orang Indonesia yang kebingungan dalam memahami konflik sabah, hal tersebut terjadi dikarenakan karena kurangnya perhatian kita akan wilayah timur dan utara Kalimantan dimana konflik selama ini berlangsung. Tentu saja sangat nihil catatan sejarah yang diinformasikan melalui buku-buku pelajaran sekolah mengenai wilayah ini, wilayah yang sunyi dan jauh dari perhatian kita sampai saat ini.

Banyak yang terkejut dan bertanya-tanya, sebuah misal ada saja yang langsung menyamakan antara kesultanan sulu dengan Kerato Solo di Jawa, mereka juga tidak tahu dimana letak kesultanan Sulu karena peta besar Indonesia yang biasanya kita dapati di buku-buku pelajaran tidak menyertakan kepulaan kecil diatas perbatasan kita di utara Kalimantan tersebut, meski berbatasan langsung dengan kepulauan itu, banyak yang tidak tahu bahwa kesultanan sulu merupakan salah satu kesultanan Islam paling tua di Nusantara dan masih tetap eksis sampai saat ini. Letaknya yang jauh di utara dan selama dua abad terakhir terputus hubungan dagang dan politik dengan kepulauan Nusantara dibawahnya, selain itu adanya perbedaan dominasi politik kolonial yang berbeda menyebabkan perhatian kita hampir tidak pernah kita arahkan ke kesultanan ini.

Kritik harus kita arahkan kepada buku-buku pelajaran sejarah di Indonesia agar sudah saatnya memberikan paparan yang lebih konfreheinsep terhadap sejarah Nusantara agar wawasan nusantara kita tidak hanya terpaku dalam garis-garis besar yang kaku. Lihat saja betapa pentingnya pengetahuan akan peta sangat membantu dalam wawasannya kita.

Hal yang paling sering kita dengar di media tentang Filipina selatan hanya lah tentang para pemberontak pembebasan moro dan kelompok Abu sayyap yang melawan Filipina serta beberapa pentolan Teroris Indonesia yang melarikan diri atau berlatih militer di wilayah ini. Banyak orang hanya mengingat pulau besar mindanau sebagai basis mereka.

Perbedaan tata negara masing-masing Negara di wilayah Asia tenggara ini juga agak rumit dan unik dan jauh berbeda dengan konsep bernegara kita. Banyak orang Indonesia kebingungan dengan tentara kerajaan sulu, siapa kah mereka, jika mereka bagian dari Filipina kenapa mereka mempunyai tentara dan persenjataan sendiri, mengapa mereka bisa menyerang sabah yang menjadi Negara bagian Malaysia, dimana posisi Filipina, hal-hal ini seperti ini lah yang sangat membingungkan banyak orang.

Kerajaan sulu terletak diantara pulau Kalimantan dan kepulauan Filipina, tepatnya diantara sabah dan pulau besar Mindanau, ada berjejer ratusan kepulauan, ada tiga pulau utama disana, pulau basilian paling utara , jolo (sulu) ditengah-tengah dan tawi-tawi paling barat. di pulau jolo (sulu) lah pusat utama kesultanan sulu. Disinilah sebenarnya pusat perlawan para pemberontak Muslim Filipina. Bangsa Filipina sendiri dalam beberapa tulisan yang saya baca dimasukkan kedalam bangsa melayu. Secara fisik kita tidak ada perbedaan, secara bahasa meski agak berbeda tapi tidak terlalu jauh.

Filipina merupakan bagian dari kepulauan Nusantara dan sedari dahulu menjadi bagian penting dari perdagangan dan politik Nusantara, sebuah prasasti beraksara kawi Jawa kuno pernah ditemukan di dekat Manila. Kepulauan sulu dan Filipina sendiri pernah di kuasai majapahit.

Menurut Wikipedia, kerajaan sulu merupakan salah satu kesultanan paling tua di Nusantara dan tetap eksis hingga saat ini, orang Sulu biasanya menyebut diri mereka dengan tausug, asal usul orang sulu sendiri merupakan gabungan beberapa suku bangsa, yaitu pertama suku Buranun yang dipercaya pertama kali mendiami wilayah kepulauan sulu , mereka berasal dari Sub etnik dayak di sabah, kemudian yang kedua sukuTagimaha yang berasal dari pulau besar mindanau, yang ketiga adlaah orang-orang dari Champa melayu dari Vietnam, yang keempat orang Baklaya yang berasal dari pulau Sulawesi, dan kelima orang suku Banjar yang berasal dari wilayah selatan Kalimantan. Orang banjar sendiri diperkirakan datang untuk berdagang dikepulauan sulu dan melebur menjadi orang-orang sulu. Kepulauan sulu hingga hari masih di kenal sebagai Banjar Kulan atau little banjar atau banjar kecil di karenakan banyak dari mereka keturunan orang banjar. Orang banjar sendiri sampai saat ini masih bisa kita temui di beberapa wilayah di sabah yang sudah ratusan tahun menempati daerah itu.

Pertama kali wilayah ini diislam kan oleh seorang ulama Arab bernama Syarif karim Makdum pada tahun 1380 M, kemudian seorang ulama dari Minangkabau Sumatera barat yang bernama Raja bagindo datang meneruskan pengislaman pada tahun 1390 M, dan sekitar tahun seorang Arab dari Johor Malaysia yang bernama Syarif Hasyim Sayyid Abu Bakar datang dan menikah dengan putri Raja Bagindo. Setelah kematian Raja Bagindo, Syarif Abu bakar pada tahun 1457 mendirikan sebuah kesultanan sulu.

Ada tiga kesultanan yang diperintah oleh para Syarif (keturunan Nabi Muhammad) di wilayah utara Kalimantan dan selatan Filipina, yaitu kesultanan brunei, kesultanan mindanau yang didirikan oleh Syarif Kebungsuan dari johor malaysia, dan kesultanan Sulu.

Kepulauan Sulu terletak di jalur strategis, dari jalur mereka lah rempah-rempah dari Maluku di bawa ke china, dan dari China di bawa ke Barat melalui Jalur Sutra.

Yang perlu kita ketahui terlebih dahulu disini adalah bahwa wilayah Filipina selatan merupakan salah satu wilayah di dunia dimana senjata api bebas di gunakan dan tidak dapat dikontrol oleh pemerintah Filipina. Beberapa kelompok bersenjata tetap eksis sehingga hari ini, baik sebagai pasukan pemberontak kepada Negara Filipina sendiri maupun kelompok bersenjata yang dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Sudah lumrah jika seorang tokoh baik tokoh politik atau tokoh masyarakat atau seorang yang kaya raya mempunyai pasukan bersenjatanya sendiri. Dua atau tiga tahun yang lalu televise Al-jazerra berbahasa inggris pernah menayangkan liputan dokumentasi khusus tentang hal ini.

Dari hal diatas maka akan kita pahami bahwa kesultanan Sulu yang masih berpengaruh di Filipina selatan mempunyai banyak penduduk yang mempunyai senjata serta mempunyai keterampilan militer karena aktivitas mereka sebagai pemberontak kepada Filipina masih berlangsung sampai saat ini. Nah merekah kelompok bersenjata yang kemudian menyeberang ke Sabah dan mengaku sebagai tentara kerajaan sulu.

Sabah selama sekian lama merupakan wilayah yang damai dan penuh kemakmuran, wilayah yang selama ini juga menjadi tempat berlindung dan mencari nafkah banyak orang Indonesia dan juga orang Filipina sendiri.

Sejarah yang kuat dan Posisi unik

Penyerangan pasukan Sulu ke Sabah seolah tanpa pernah di duga sebelumnya, seperti berlangsung tiba-tiba, dan langsung saja menggemparkan seluruh regional. Namun sebenarnya permasalahan dan tuntutan sabah bukan lah hal baru, hal ini telah lama menjadi masalah hubungan Malysia dan Filipina sejak Malaysia berdiri, ketika Indonesia berkronfrontasi dengan Malaysia, Filipina bahkan sempat ingin ikut campur terhadap sabah, Namun menlihat Inggris dan Negara persemakmuran di Kawasan mendukung Malaysia maka Niat tersebut di urungkan.

Kesultanan Sulu sesungguhnya telah Runtuh kekuasaannya seratus tahun yang lalu ketika Amerika serikat mulai mengambil alih Kekuasaan dan kemudian dimasukkan kedalam bagian Filipina. Hal yang serupa banyak terjadi di beberapa Kesultanan lain di Nusantara ini. Saat ini ada sembilan orang yang mengaku sebagai sultan Sulu.

Posisi kerajaan sulu sangat strategis, kuat dan unik dalam permasalahan ini. North boerneo atau Sabah merupakan wilayah mereka pada saat masa-masa Kolonial yang disewakan kepada Inggris, sehingga legitimasi mereka terasa sangat kuat apalagi dalam hati sanubari suku tausug atau orang-orang sulu. Tidak mengherankan jika banyak orang-orang sulu yang telah lama tingga di sabah mendukung gerakan dari kesultanan sulu ini.

Malaysia sebenarnya sangat berperan penting dalam konflik di Filipina selatan, sebagai sesama muslim, Malaysia merasa mempunyai kewajiban moral untuk membantu penduduk Filipina selatan yang mayoritas muslim. Malaysia sering sekali menjadi mediator antara pemberontak dan pemerintah Filipina untuk bisa mencapai kesepakatan damai, terakhir terjadi kesepatakan antara pemerintah pemberontak di mindanau dengan pemerintah Filipina berkat mediasi Malaysia. Sayangnya pihak kesultanan Sulu yang masih sangat berpengaruh malah tidak di ikutkan. Tidak diikut sertakannya kesultanan sulu disinyalir juga salah satu pemicu konfilk sabah ini. Pihak kesultanan sulu menganggap ada kesepakatan antara pemerintah Malaysia dan Filipina untuk tidak menuntut sabah sebagai bagian dari Negara Filipina.

Kesultanan Sulu sendiri dengan lantang menantang pemerintah Filipina datang kepada mereka untuk membicarakan masalah sabah serta menuntu pemerintah Filipina untuk mendukung mereka, kesultanan Sulu malah melihat kecil pemerintah Malaysia. Hal ini tampak membingungkan bagi sebagian orang apa yang sebenarnya terjadi.

Kesultanan sulu sebenarnya sedang bermain cantik dengan mengajak pemerintah Filipina untuk turun tangan membantu mereka mengklaim Sabah sebagai bagian dari kesultanan Sulu yang otomatis akan menjadi bagian Dari Negara Filipina juga. Malaysia sendiri seolah sangat terpojokan dengan klaim kesultanan sulu ini. Dan menjadikan mereka bertindak sangat keras dan tanpa krompomi, permintaan genjatan senjatapun ditolak mentah-mentah.

Orang-orang tausug atau suluk dikenal dengan karakter mereka yang keras, berhati besi dan pantang menyerah, mereka berbangga diri sebagai sebuah bangsa yang tidak pernah di taklukan oleh para penjajah. Cerita-cerita mereka dapat kita temukan dalam berbagai blog dan web yang bisa telusuri di Google, sebagian besar berbahasa melayu.

Tentu saja cerita-cerita tentang suku orang Sulu yang penuh kegemilangan itu juga sangat berlebih-lebihan, seperti bahwa bangsa Sulu lah mantan penguasa Nusantara, dengan mengatakan bahwa banyak tempat di Nusantara merupakan berasal dari keturunan mereka. menurut saya hal itu hanya sebagai sebuah pembangkit semangat saja. Orang-orang sulu tidak lah jauh berbeda dengan suku-suku besar lain di Nusantara, hanya saja mereka mendapati musuh penjajah yang berbeda dengan kita di Indonesia atau Malaysia yang dijajah Belanda dan inggris. Sedangkan mereka ( kesultanan Sulu ) itu menghadapi kerajaan Spanyol dan Amerika serikat.

Jika melihat sejarah, wilayah kalimantan utara yang dahulu dikuasai Kesultanan Tidung dan kesultanan Bulungan pernah diakui mendapat pengaruh Kesultanan Sulu. Memang Wilayah kalimantan Utara berbatasan langsung dan sangat berdekatan dengan kesultanan Sulu, tetapi ternyata Kesultanan Tidung dan kesultanan Bulungan malah diKuasai oleh Kesultanan Banjar yang jauh berada di selatan Kalimantan. Pada akhir abad 18 Masehi, kesultanan Tidung dan Kesultanan Bulungan diserahkan oleh Kesultanan Banjar kepada Belanda. Maka cerita tentang kehebatan kesultanan Sulu jaman dahulu di laman web dan blog berbahasa melayu diatas sangat lemah secara sejarah.

Tapi bukan berarti Kesultanan Sulu tidak pernah menaruh pengaruh dan warisan besar bagi Nusantara kita ini. Kesultanan Sulu harus kita akui sebagai salah satu kesultanan Islam yang berhasil mempertahankan eksestensi Islam di kepulauan Filipina. Kesultanan Manila di pulau Lozun di utara telah di hancurkan Spayol tanpa sisa dan mengganti Islam dengan Katholik hingga saat ini.

Salah satu keturunan dari Kesultanan Sulu yang masih berpengaruh hingga saat ini di Nusantara adalah Syekh Arsyad Al-banjari yang diyakini keturunan Sultan Sulu yang terdampat ke tanah Banjar tepatnya di Martapura. Syekh Arsyad Al-banjari salah satu Ulama terbesar Nusantara yang sangat berpengaruh, Syekh Arsyad memiliki keturunan yang banyak menjadi ulama yang tersebar diseluruh Asia tenggara dan tetap berpengaruh hingga saat ini.

Selain hal diatas, kebebasan senjata api dan kemiskinan yang banyak melanda wilayah selatan Filipina selatan juga mempengaruhi karakter mereka. Seseorang yang mempunyai senjata dan keterampilan menggunakannya serta berpengalaman dalam pertempuran tentu akan mempunya jiwa petualangan dan keberanian, apalagi hal tersebut sudah menjadi bagian keseharian mereka, itu lah yang menjadikan terlihat sangat beraninya pasukan-pasukan kesultanan Sulu berani memasuki Sabah. akan sangat berbeda dengan kita di Indonesia atau Malaysia yang terlarang mempunyai senjata api, jangankan keberanian dan melakukan petualangan, mendengar suara senjata api saja sudah membuat kita ketakutan. Tidak usah lah senjata api, di daerah saya masih menjadi adat membawa senjata tajam dengan berbagai bentuk, membuat kepercayaan diri serta keberanian seseorang menjadi naik, tidak jarang terjadi perkelahian bersenjata tajam. Kepercayaan diri orang-orang Sulu sangat tinggi, selama memberontak terhadap Filipina mereka menganggap diri mereka tidak terkalahkan.

Jika saja Pulau Sipadan dan Ligitan masih di tangan Indonesia maka kepulauan sulu dan sabah hanya selepas pandang mata karena saking dekatnya. Dalam keadaan yang tidak pasti seperti saat ini, alangkah baiknya kita menunggu dan tidak ikut campur dalam permasalahan orang lain, namun kewaspadaan semua pihak sudah seharusnya ditingkatkan. TNI dan POLRI sudah meningkatkan pengamanan.

Banyak sekali TKI yang bekerja dan mencari nafkah di Sabah, selain itu , masih banyak suku-suku yang berasal dari Indonesia yang tinggal di sabah selama ratusan tahun seperti bugis, jawa, Banjar dan tidung yang masih mempunyai ikatan keluarga dengan Indonesia.

Dalam keadaan seperti ini yang paling dipusingkan adalah pemerintah Filipina, mereka memang sangat mengkawatirkan berkonflik dengan Malaysia karena akan membuat kawasan menjadi tidak stabil dan berimbas sangat banyak ke berbagai sektor, Filipina yang juga sedang berkonflik dengan China dan Taiwan di Laut china selatan juga tidak akan mau menambah masalah dengan bertikai dan membuang banyak tenaga menghadapi tetangganya sendiri, selain itu Filipina juga berhutang jasa kepada Malaysia dalam masalah mindanau.

Di lain sisi, konflik sabah ini bisa membuat perhatian para petualang Sulu mengubah arah perhatian mereka ke sabah dan merapatkan rasa kesatuan mereka kepada Filipina, Hal ini tidak bisa di pungkiri.

Tidak ada yang bisa memprediksi kapan konflik sabah akan berakhir, yang bisa dilihat konflik ini akan berlangsung lama. Ketidakstabilan di sabah akan berdampak buruk kepada keamanan dan ekonomi perbatasan yang selama ini di tupang dengan hubungan dagang yang baik dengan Malaysia yang mempunyai infrastuktur dan ekonomi yang jauh lebih baik dari wilayah Indonesia di perbatasan.

Harus kita akui bahwa masalah Sabah akan berpotensi membuat kawasan Asia tenggara dan Timur semakin panas dan tidak stabil yang tentu saja akan sangat menggangu. Sabah menjadi Spot baru. Harus ada langkah-langkah cepat dari semua negara agar membuat masalah ini bisa diredam secepat mungkin.

Indonesia sebenarnya tidak bisa selamanya berdiam diri, selain malaysia yang bukan hanya negara tetangga terdekat, malaysia juga adalah negara serumpun kita, permasalan sabah juga merupakan persoalan sesama bangsa Islam yang berbudaya melayu. Maka jika saatnya tiba dan tepat Indonesia berkewajiban untuk membantu perdamaian dan mencari jalan penyelesaian.

Oleh: Alfigenk Ansyarullah
Sumber :
http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/03/08/sedikit-telaah-tentang-kesultanan-sulu-dalam-konflik-sabah-535300.html

Wednesday, 9 January 2013

Masuknya Islam Di Labala Leworaja

Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang masuk kedalam negara kepulauan terbesar di dunia diperkirakan lebih dari 3000 pulau , panjang wilayah kepulauaan Indonesia dari barat ke timur yaitu dari titik terbarat Sumatra sampai keperbatasan dengan Papua New Guinea adalah 5500 km. Lebarnya dari titik terutama sampai titik terselatan yaitu dari pulau Miangas ( kepulauan Talud ) ke pulau Roti ( Nusa Tenggara Timur ) adalah 1770 km, kepulauan Indonesia mempunyai area tanah sekitar 1904569 km2 ( 36.79 % dari luas area tanah dan lautan yang mencapai sekitar 5176800 km2 itu )[1].

Selain memiliki wilayah yang begitu luas Indonesia juga mempunyai begitu banyak ragam budaya, suku bangsa, dan bahasa yang menjadikan Negara ini kaya dengan segala ragam budaya, selain ragam budaya, Negara ini juga kaya akan sumber daya alam yang melimpah ruah akan tetapi sangat disayangkan dengan luasnya wilayah dan kurangnya sumber daya manusia yang menyebabkan masih banyak kekayaan yang belum dimanfaatkan dengan baik.

Berkaitan dengan Labala, desa ini terletak di selatan pulau Lembata, Kabupaten Lembata (sebelumnya masuk wilayah kabupaten Flores Timur), Kecamatan wulandoni, desa ini agak terisolasi, karena tekstur tanahnya yang berbukit-bukit[2].

Transportasi utama menuju Labala adalah angkutan laut dengan menggunakan perahu motor dan darat dengan menggunakan mobil angkutan pedesaan yang bentuknya sangat unik dikarenakan angkutan ini adalah sejenis mobil truk yang dimodifikasi menjadi angkutan umum, Walaupun kawasan ini masih cukup terisolir hingga saat ini, namun ternyata cukup banyak menyimpan sejarah.

Pada masa dulu, di daerah ini pernah berdiri kerajaan Labala. Bukti keberadaannya bisa dilihat dari peninggalan prasasti yang menggunakan huruf Kawi, yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai prasasti Berkah Kerama. Prasasti ini dianggap keramat, karena itu selalu diletakkan dalam posisi yang tinggi di rumah adat[3]. Dalam perkembangannya, desa Labala berganti nama menjadi Desa Gaya Baru Leworaja yang berarti “Lewo” dalam bahasa setempat adalah kampung menurut kamus besar bahasa Indonesia kampung adalah kesatuan administrasi terkecil yang menempati wilayah tertentu[4]. dan “Raja” adalah penguasa menurut kamus besar bahasa Indonesia Raja adalah penguasa tertinggi pada suatu kerajaan[5] (biasanya diperoleh sebagai warisan ), kemudian di artikan Leworaja adalah tempat berdiam para Raja . Hingga saat ini, nama yang terakhir masih tetap digunakan.

A. Latar belakang Masuknya Islam

Labala terletak di selatan pulau Lembata, Kabupaten Lembata (sebelumnya masuk wilayah kabupaten Flores Timur). Labala merupakan satu-satunya kerajaan di Kabupaten Lembata dan merupakan kerajaan bungsu dari beberapa kerajaan Islam di wilayah timur pulau Flores dan disekitarnya (seperti pulau Adonara, pulau Solor, pulau Lembata, pulau Alor dan Pantar) . Menurut sejarah, Kerajaan Labala masuk dalam komunitas kerajaan Solor Watan Lema (Lima Kerajaan Islam Bersaudara) seperti Kerajaan Terong, kerajaan Lemahala, Kerajaan Lohayong, Kerajaan Lamaker, dan Kerajaan Labala[6].

Kerajaan Labala merupakan satu-satunya kerajaan yang memiliki daerah otonom di Daratan Pulau Lembata yang kini menjadi Kabupaten Lembata. Sebelum masuknya agama Islam, sebagaimana masyarakat di kerajaan lain, masyarakat Labala menganut kepercayaan nenek moyang yaitu kepercayaan animisme dan dinamisme. Pada masa pra Islam (sebelum datangnya pengaruh agama Islam) Kerajaan Labala berturut-turut di pimpin oleh Raja Kiwan Mayeli (1833-1879), Raja Kiwan Gelu Ama (Atageha) (1879-1896). Sekadar catatan, Raja Kiwan Gelu Ama bernama asli Atageha (orang lain) karena Sang Raja berasal dari Klan/suku Lamarongan, bukan klan suku Mayeli. Dengan demikian dapat dikatakan, keturunan Raja Labala setelah Raja Kiwan Gelu Ama (Atageha) bukanlah asli suku Mayeli. Selanjutnya Raja Baha Mayeli (1896-1929).

Agama Islam masuk di Kerajaan Labala pada masa kekeuasaan Raja Baha Mayeli (1896-1929), namun mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Sang Anak Raja Ibrahim Baha Mayeli (1926-1954). Setelah itu system kerajaan oleh pemerintah Indonesia dilebur dalam system administrative kecamatan yaitu kecamataan Atadei, namun Raja Ibrahim Baha Mayeli masih diberi kekuasaan memerintah hingga wafat pada tahun 1965.Setelah wafatnya Raja Ibrahim Baha Mayeli, tata pemerintahan kerajaan dilebur kedalam tata pemerintahan Negara Republik Indonesia di bawah system pemerintahan kecamatan.

Kecamatan Atadei yang saat itu berpusat di wulandoni menjadi pusat system pemerintahan. Wulandoni juga adalah daerah kekeuasaan Kerajan Labala. Meski system pemerintahan sudah beralih tangan, tidak serta merta pengaruh Kerajaan Labala hilang begitu saja. Pemerintah Indonesia memberi kewenangan khusus kepada keturunan Raja Labala untuk mengatur tatalaksana adat istiadat dan budaya masyarakat di bekas daerah kekuasaan yang hingga kini masih dipertahankan. Keturunan dari Raja Ibrahim Baha Mayeli yang hingga kini memiliki kewenangan mengatur adat istiadat di antaranya, Muhammad Kabier Ibrahim Mayeli dan anaknya Syamsul Bahri Mayeli dari istri pertama Raja Ibrahim Baha Mayeli.

Daerah kekuasaan Kerajaan Labala sebelum masuknya Agama Islam, meliputi sebahagian wilayah yang kini masuk kecamatan Ata Dei dan kecamatan Wulandoni. Ada beberapa desa yang menjadi daerah kekusaan Kerajaan Labala di antaranya, Atawolo, Pewwut, Karangora, Waiwejak dan beberapa desa kecil yang kini masuk wilayah administrative kecamatan Atadei. Selain itu ada beberapa desa pesisir yang menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Labala diantaranya, Kahatawa , Mulandoro (Lamanunang), Leworaja (Pusaat Kerajaan Labala), Mulankera, Luki-Pantai Harapan, Nuhalela (wulandoni) dan Posiwatu yang kini menjadi wilayah administrative kecamatan Wulandoni. Dari bentang kekusaan Kerajaan Labala inilah masyarakat yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Labala di kemudian hari disebut atau diidentikkan sebagai orang Labala, termasuk mereka yang non muslim seperti masyarakat Kahatawa, Mulandoro, Mulankera, Nuhalela (wulan doni) dan Posiwatu.

B. Islam Jadi Agama Resmi Kerajaan Labala

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, Agama Islam masuk ke Kerajaan Labala dan di terima sebagai agama resmi di kerajaan Labala pada tahun 1896 pada masa pemerintahan Raja Baha Mayeli, dan mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Sang Putra Mahkota, Raja Ibrahim Baha Mayeli (1926).

Pada masa Raja Ibrahim Baha Mayeli (1926) ini untuk pertama kalinya dibangun mushallah sebagai tempat ibadah pertama yang diberi nama al-Muqarrabin Labala. Pilihan nama al-Muqarrabin sebagai nama mushallah dengan harapan, Raja dan Ribu-ratu (masyarakat) di Kerajaan Labala lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai Tuhan yang diimani dalam keyakinan baru mereka yaitu agama Islam. Mushallah al-Muqarrabin di kemudian hari dibangun menjadi Mesjid dengan nama yang sama hingga kini yaitu Mesjid al-Muqarrabin Labala di Desa Leworaja-Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata-NTT. Mesjid al-Muqarrabin Labala merupakan salah satu mesjid tertua di NTT yang dibangun pada tahun 1926[7].

Menurut penuturan sumber-sumber informasi terpercaya di Labala terkhusus pemuka-pemuka adat dan agama di dua desa yaitu Desa Leworaja dan Desa Luki-Pantai Harapan yang menjadi pusat kerajaan Labala, proses masuknya Agama islam di Kerajaan Labala di sebarkan oleh para pedagang dari Kerajaan Lamahala yang lebih dahulu menerima Islam. Namun proses penyebarannya masih terbatas pada kalangan kerabat yang memiliki hubungan dengan masyarakat di Kerajaan Labala. Perlu diketahui Kerajaan Lamahala merupakan salah satu komunitas kerajaan Islam, yang dikenal dengan Solor Watan Lema. Kerajaan Labala merupakan bungsu dari komunitas Solor Watan Lema setelah menjadi Kerajaan Islam.

Sebagai salah satu kerajaan yang mermiliki pengaruh, Kerajaan Labala selalu menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan tetangga seperti Kerajaan Lamahala, Kerajaan Teron, Kerajaan Lamakera dan juga Kerajaan Alor di kepulauan alor (kini Kabupaten Alor). Untuk itu pada tahun 1926 Raja Baha Mayeli mengirim anak sulungnya sebagai Putra Mahkota yang bernama Kiwan Mayeli ke Kalabahi ibu kota Kerajaan Alor untuk menuntut ilmu agama. Kerajaan Alor saat itu sudah menjadi kerajaan Islam. Di Kalabahi Kiwan Mayeli belajar ilmu agama kepada Raja sekaligus ulama kerajaan Alor yang bernama Marjuki Nampira. Atas bimbingan Raja Alor inilah kemudian kiwan mayeli memeluk Agama Islam dan berganti nama menjadi Ibrahim Baha Mayeli.

Setalah dirasa bekal ilmu agama yang dipelajari cukup memadai, Sang Putra Mahkota Kiwan Mayeli yang telah berganti nama menjadi Ibrahim Baha Mayeli mengirim surat, mengabarkan kepada Sang Ayah, Raja Baha Mayeli bahwa dirinya telah selesai menuntut ilmu dan telah memeluk Agama Islam. Kini dia siap kembali ke labala. Untuk itu sebagai syarat kepulangannya, dia meminta kepada Sang Ayah untuk membunuh binatang yang dilarang (haram) dalam ajaran Islam seperti babi dan anjing yang masih banyak dipelihara oleh masyarakat Labala saat itu. Bila syarat ini tidak dipenuhi, maka sang putra mahkota tak akan kembali ke Labala. Dia lebih memilih untuk merantau ke tempat jauh dari pada kembali ke Labala.

Setelah menerima surat dari Sang Anak dan mempertimbangkan kelanjutan nasib kerajaan yang di pimpinnya bila sang anak tak sudi pulang, Setelah mengadakan musyawara dengan tokoh adat kerajaan, Raja Baha Mayeli memerintahkan kepada segenap ribu-ratunya (masyarakatnya) untuk memusnahkan binatang anjing dan babi yang masih menjadi hewan ternak masyarakat Labala kala itu.

Setelah syarat yang di minta terpenuhi, Sang putra Mahkota, Ibrahim Baha Mayeli bersedia kembali ke Labala. Karena kondisi kesehatan Raja Baha Mayeli yang tak lagi memungkinkan memerintah di kerajaan Labala, Kiwan Mayeli atau lebih dikenal dengan nama Ibrahim Baha Mayeli kemudian diangkat dan di lantik menjadi Raja di kerajaan Labala menggantikan Sang Ayah yang sudah lanjut usia. Di masa pemerintahan Raja Ibrahim Baha Mayeli inilah Islam benar-benar menjadi agama resmi kerajaan. Hal ini terbukti dengan di bangunnya Mushallah pertama yang diberi nama al-Muqarrabin sebagai tempat ibadah dan pengajaraan syai’ar islam bagi masyarakat Kerajaan Labala yang seluruhnya sudah menjadi Muslim.

C. Tokoh Penyebar Islam

Masuknya Islam di Labala berjalan dengan Mulus Tanpa ada riak perlawanan dari masyarakat, diakibatkan Islam tidak Masuk melalui Jalur perang, akan tetapi Islam Masuk dari kerajaan, Raja yang terlebih dahulu memeluk Islam, Sehingga rakyat dengan sukarela mengikuti titah rajanya.

Karena kesibukan dalam pemerintahan, Raja Ibrahim mempercayakan bapak Lusi koli kemang untuk memimpin sholat dan mengajarkan agama pada umat, perlu diketahui bahwa bapak Lusi Koli Kemang adalah orang Lamahala dari suku Gorang. Karena profesi sebagai pedagang sehingga keberadaan Bapak Kemang tidak tetap dia sering pulang kelamaha. Keberadaannya musiman, kondisi ini menjadi masalah bagi kerajaan yang masih baru memeluk Islam.

Dengan kondisi seperti ini maka Raja Ibrahim memutuskan untuk pergi ke Waiwerang, Waiwaerang adalah Ibukota kerajaan Lamahala disana beliu menemui Raja Lamahala meminta bantuan seorang dai tetap untuk menetap di Labala. Setelah sepakat raja Labala menemui habbib Agel, beliau adalah seorang Imam kerajaan Lamahala, untuk menyiapkan seorang da’i yang bisa dapat menetap di Labala. Kebetulan pada saat itu ada seorang murid Habbib Agel yang tadinya beragama Nasrani keturunan Cina dan tinggal di Kupang. Setelah masuk Islam dan mengikuti Habbib Agel ke Waiwerang mendalami ajaran Islam. Habbib Agel menerima permohonan Raja Ibrahim dan mengutus muridnya yang bernama Baba Abdullah.

Kedatangan Baba Abdullah ke Kerajaan Labala membawa pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan Islam di Kerajaan ini, beliau kemudian diangkat menjadi Ulama dan Imam bagi masyarakat Labala. Beliau adalah Ulama kharismatik yang berjasa menyebarkan agama islam di kerajaan Labala. Karena jasa-jasanya inilah beliau dicintai oleh Masyarakat Labala sehingga saat meninggalnya, masyarakat tak sudi mengizinkan keluarganya membawa jasad Baba Abdullah untuk dimakamkan di tanah kelahirannya yaitu di kupang. Beliau di makamkan di Leworaja, Ibu Kota kerajaan Labala.

Daftar Pustaka



Kartodirjo, Sartono, Marwati dan Nurgoho, Sejarah nasional indonesia V . Jakarta: Offset P.T Grafitas, 1975.

“Kabupaten Lembata.” Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia bebas http://wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Lembata (8 Januari 2013).


Tanggal 8 Januari 2013)

[1] Sartono Kartodirjo, Marwati Djoened Poesponegoro, dan Nurgoho Noto Susanto, Sejarah nasional indonesia V ( Jakarta: Offset P.T Grafitas, 1975),h. 1

[2] “Kabupaten Lembata.” Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia bebas http://wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Lembata (8 Januari 2013).

[3] Putra Mayeli, http://leworaja.blogspot.com/2011_05_01_archive.html (diakses pada Tanggal 8 Januari 2013)

[4] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke III (Jakarta Balai pustaka, 2003), h. 498.

[5] Ibid., h. 617



Friday, 4 January 2013

Asal Usul Kerajaan Bone

Tanah Bone adalah gabungan dari unit-unit politik inti atau persekutuan masyarakat kaum yang disebut anang yang dipimpin oleh matoa anang (ketua kaum). Selanjutnya anang terbentuk menjadi wanua (negeri), seperti wanua Ujung, Tibojong, Ta’, Tanete Riattang, Tanete Riawa, Ponceng, dan Macege. Setiap pembentukan kelompok wanua didorong oleh ikatan rasa seketurunan dari satu nenek moyang yang sama dan membentuk persekutuan teritorial yang tertutup terhadapa persekututan teritorial hidup lainnya dalam sistem kehidupan patrimonial (garis keturuann dari pihak ayah). Hal seperti itu menciptakan permusuhan di antara satu wanua dengan wanua lainnya.

Seperti halnya kelahiran Kerajaan Gowa, proses sejarah berdirinya Kerajaan Bone juga diawali dengan kisah kehadiran Tomanurung. Jika Tomanurung di Kerajaan Gowa adalah wanita, Tomanurung di Kerajaan Bone adalah laki-laki. Kehadiran Tomanurung sebagai penguasa sentral di Kerajaan Bone diawali oleh sebuah ikrar antara Tomanurung dan penguasa unit-unit politik setempat. Sebelum kehadiran Tomanurung selalu ditandai dengan fenomena alam yang mengerikan. Tulisan dalam lontarak mengisahkan bahwa sebelum kedatangan Tomanurung, terjadi hujan dan petir sambung- menyambung tanpa putus selama tujuh hari tujuh malam. Setelah hujan reda, muncullah seseorang disuatu tempat. Orang tersebut mengenakan jubah putih dan berdiri ditengah-tengah padang Bone. Oleh karena mereka tidak mengetahui asal-usulnya; orang menyebutnya Tomanurung (orang yang turun dari kahyangan).maka berkumpullah orang Bone dan mengadakan perundingan demi sebuah kesepakatan untuk berangkat menemui orang tersebut dan diangkat menjadi Raja Bone.[1]

Setelah mereka sampai di hadapan orang tersebut, mereka memohon agar orang tersebut mau menjadi Raja di Bone. Akan tetapi, orang tersebut menolak untuk menjadi Raja, karena ia juga hanya seorang budak raja. Tapi orang terbut menawarkan jika rakyat Bone menginginkan Raja, maka ia bisa membawa mereka bertemu langsung dengan calon Raja tersebut. Selanjutnya, orang tersebut membawa mereka pergi ke daerah Matajang. Sesampainya disana, terlihatlah seorang lelaki duduk berpakaian kuning di batu ”napara” beserta tiga pengikutnya, yang masing-masing bertugas memang kipas, payung dan membawakan salendrang (tempat sirih).

Para pemohon dari Bone pun, langsung memohon kepada lelaki yang duduk di atas batu napara agar kiranya bersedia menjadi Raja di Bone. Maka raja itu menyahut, “teddua nawa-nawao” artinya “orang setia” dan “temmaballecoko” artinya tidak memungkiri segala janji”.

Sesudah perjanjian tersebut terlaksana, maka raja tersebutpun “nalekkeni ManurungE” artinya “memindahkan Manurung itu ke Bone. Dan menjadi Raja Bone I di sana. Sesampainya di sana, rakyat Bone lalu mendirikan istana untuk “ManurungE” (raja). Pendirian istana itu lekas selesai dimana “bulisa” artinya kayu “potongan belum kering”, raja sudah mendiami istana itu.

B. Proses Awal Perkembangan Pemerintahan Kerajaan Bone

Raja Bone I atau Arung Pone yaitu Tomanurung ri Matajang, yang bergelar MatasimpoE. Ia memerintah kurang lebih 40 tahun, dari tahun 1330 M sampai tahun 1370 M. MatasilompoE kawin dengan Tomanurung ri Toro, yang bernama Tenriawaru. Dari perkawinan ini lahirlah lima orang anak yang masing-masig bernama: La Umasa, Patanra Wanua, Tenri Salogo, We Arattiga dan Isamateppa.[2]

Setelah TomanurungE, menjadi penguasa di Bone, barulah ketertiban dapat ditegakkan dan kesejahteraan rakyat dapat dikembalikan. Ditetapkannya penguasa Tomanurung di Bone diikuti dengan pembentukan Dewan Penasehat, Ade’pitu (Adat Penguasa), yang terdiri dari pemimpin dari tujuh komunitas. Dengan bantuan Ade’pitu, ManurungE lalu membuat peraturan-peraturan bagi rakyatnya. Ia juga menegakkan hukum dan adat istiadat untuk mengatur ketertiban bagi masyarakat. Hingga suatu hari Arung Pone –MatasilompoE telah tiada; hilang atau gaib entah kemana (oleh masyarakat setempat disebut; Mallajang).[3]

Setelah Arung Pone tiada, beliau digantikan oleh La Ummase. Dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone, La Ummase (1358 – 1424), disebutkan bahwa Dialah yang menggantikan ManurungE ri Matajang sebagai Arung Mangkaue ri Bone. Beliau digelari Petta Panre Bessie’ karena Arumpone (Bugis : Raja Bone) inilah yang mula-mula menciptakan alat dan perkakas dari besi di Bone dan kalau bepergian, hanya dinaungi dengan kaliyao (tameng) untuk melindunginya dari teriknya matahari. Hal ini dilakukan karena tidak ada lagi payung (maksudnya : payung kerajaan) di Bone.

Dalam upayanya memperluas wilayah kekuasaannya, La Ummase’ menaklukkan wilayah – wilayah sekitarnya, Anro Biring, Majang, Biru, Maloi dan Cellu (Lontara Akkarungeng ri Bone). Politik ekspansinya berhasil menaklukkan kerajaan kecil tetangganya, “Maloi, Biru, Majang, Anrobiring, Cellu, Palakka dan Taneteriattang”.[4]

La Ummasa tidak memiliki putra mahkota yang kelak bisa menggantikan kedudukannya sebagai Mangkau’ di Bone. Dia hanya memiliki anak perempuan, To Suwalle dan To Sulewakka dari isterinya yang berasal dari to sama’ (orang biasa, bukan bangsawan). Oleh karena itu, setelah dia tahu bahwa We Pattanra Wanua akan melahirkan, La Ummasa menyuruh anaknya pergi ke Palakka ke rumah saudaranya yang diperisterikan oleh Arung Palakka La Pattikkeng.

Setelah La Saliyu Karempuala dewasa, maka beliau mengambil alih tampuk pemerintahan Bone dari kedua sepupunya itu. Dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone disebutkan bahwa La Saliyu Karempalua (1424 – 1496) adalah Arumpone (Raja Bone) yang menggantikan pamannya, La Ummase’.

La Saliyu Karampelua digelari pula MakkaleppiE – Massao LampeE Lawelareng atau Puatta Lawelareng. Sebagai Raja Bone III ini melanjutkan kegiatan ekspansi yang telah dirintis pendahulunya, bahkan lebih besar dan berhasil menduduki kerajaan – kerajaan kecil, seperti : Pallengoreng, Sinri, Melle, Sancereng, Cirowali, Apala, Bakke, Atta Salo, Soga, Lampoko, Lemoape, Parippung, Lompu, Limampanua Rilau Ale, Babauwae, Barebbo, Pattiro, Cinennung, Ureng, Pasempe, Kaju, Ponre, dan Aserabate Riawang Ale.

Data tersebut menunjukkan bahwa Bone pada masa itu telah menguasai wilayah yang cukup luas (menurut ukuran pada masa itu), sehingga organisasi pemerintahan perlu pula ditingkatkan. Untuk itu La Saliu membagi wilayah pemerintahan Kerajaan Bone menjadi tiga wilayah administratif, sesuai dengan pembagian warna bendera Kerajaan Bone. Pertama,Negeri – negeri yang memakai bendera Woromporongnge’ : Matajang, Mattoanging, Bukaka Tengah, Kawerrang, Pallengoreng, Maloi. Semuanya dibawah koordinasi Matoa Matajang. Kedua, Negeri – negeri yang memakai umbul merah di sebelah kanan Woromporongnge’ : Paccing, Tanete,. Lemo, Masalle, Macege, Belawa, Semuanya dibawah koordinasi Kajao Ciung dan Ketiga, Negeri – negeri yang memakai umbul merah di sebelah kiri Woromporongnge’ : Arasong, Ujung, Ponceng, Ta’, Katumpi, Padaccennga, Madello. Semuanya dibawah koordinasi Kajao Arasong”. (Lontaraq Akkarungeng ri Bone ; Kasim, 2002)[5]

Seiring perkembangan Kerajaan Bone, peraturan pertanahan dan hukum warisan diumumkan secara resmi pada waktu bersamaan untuk menjamin stabilitas hubungan di dalam komunitas. Setelah genap berusia 72 tahun Arung Pone III mengumumkan kepada rakyat Bone bahwa penguasa beikutnya adalah We Banrigau Daeng Marowa MakkaleppiE anaknya dari isteri keduanya We Tenri Roppo Arung Paccing.

Inilah untuk pertama kalinya Kerajaan Bone dipimpin oleh seorang perempuan. We Banrigau Daeng Marowa Makkaleppie’ naik takhta menggantikan ayahnya Arumpone La Saliyu Karampelua. We Banrigau digelari pula Bissu Lalempili. (Makkulau, 2009). Di masa pemerintahan Arumpone I Benri Gau Daeng Marowa Arung Matajang, Kerajaan Bone mencapai stabilitas dalam negeri yang mantap serta pertanian yang berhasil. Raja perempuan pertama Kerajaan Bone (1470 – 1489) ini tidak meneruskan pendahulunya dalam perluasan wilayah kekuasaan tetapi aktif dalam upaya mengintensifkan perluasan lahan pertanian. “Membeli bulu’ (gunung) Cina dengan menukarnya 90 ekor kerbau, dan sawah di sekitar Kampung Laliddong dengan menukarnya 30 ekor kerbau”.[6]

Akan tetapi terjadi pemberontakan pada masa pemerintahannya, yang dilakukan oleh La Dati Arung Katumpi karena persoalan pelaksanaan pembelian areal persawahan, namun pemberontakan tidak berlansung lama, karena beliau dapat mengatasinya. Dan setelah memerintah selama 20 tahun lamanya, ia kemudian menyerahkan kekuasan kepada putranya La Tenrisukki. Setelah pelantikan ia pun meninggalkan Kerajaan Bone bersama keluarganya dan pergi menetap di Cina bersama keluarganya hingga ia menghilang dan diberilah ia gelar Mallajang ri Cina.

Pada masa pemerintahan Raja Bone V, La Tenrisukki sebagai pewaris takhta dari ibunya, I Benriwa Gau. La Tenrisukki merupakan Arumpone (Raja Bone) pertama yang disebutkan memiliki hubungan dengan kerajaan besar lain di Sulawesi Selatan. Arumpone ini memerintah di akhir Abad XV sampai permulaan Abad XVI. Di masa kekuasaannya, La Tenrisukki berhasil memukul mundur serangan militer Pajung Luwu, Dewaraja Batara Lattu. Setelah perang selesai (Perang itu dikenal dengan ”Perang Cellu”, karena Angkatan Perang Luwu berlabuh di Cellu sebelum menyerang Bone. Perang Cellu dimenangkan oleh passiuno Bone.

Paska Perang Cellu, Arumpone mengadakan perjanjian dengan Datu Luwu To Serangeng Dewaraja yang disebut Polo Malelae’ ri Unnyi (Gencatan senjata di Unnyi), karena terjadi di Kampung Unnyi. Usai Perjanjian Polo MalelaE ri Unnyi ini, kedua raja ini, Arumpone dan Datu Luwu kemudian kembali ke negerinya. Keseluruhan substansi perjanjian Unnyi tersebut tidak mengandung unsur yang menetapkan tentang pembayaran kerugian perang dari pihak Luwu (yang kalah perang) kepada pihak Bone (yang menang perang). Dengan demikian perjanjian perdamaian tersebut menyimpang dari kelaziman perjanjian gencatan senjata, yang pada umumnya menetapkan sanksi kerugian perang yang harus dibayar oleh negara agresor yang kalah perang. Hal ini menunjukkan pendekatan kekeluargaan Arung Mangkaue La Tenrisukki kepada Datu Luwu, Dewaraja.

Berdasarkan substansi materi perjanjian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya Perjanjian Uunyi adalah perjanjian persekutuan antara Bone dan Luwu. Persekutuan semacam ini, baru untuk pertama kalinya terjadi dalam Sejarah Kerajaan Bone. Arti strategis Polo Malelae ri Unnyi bagi Bone, adalah suatu sukses di bidang politik dan militer. Dengan peristiwa tersebut menampatkan Bone dalam posisi strategis dan prestise yang kuat terhadap kerajaan – kerajaan kecil di sekitar Kerajaan Bone bahkan juga kerajaan – kerajaan lainnya di kawasan Sulawesi Selatan.

Setelah itu beliau juga menghadapi pemberontakan dari orang-orang Mampu – salah satu kerajaan di sekitar kerajaan Bone. Namun, sekali lagi pemberontakan tersebut dapat diselesaikan oleh La tenri Sukki. Setelah beliau memerintah kurang lebih 27 tahun lamanya ia pun wafat. Dan sebagi penggantinya ditunjuklah puteranya La Uliyo BoteE hasil perkawinanya dengan sepupunya We Tenri Songke sebagai Raja Bone VI. Digelari Bote’E karena Arumpone ini memiliki postur tubuh yang subur (gempal).

Di masa pemerintahan La Uliyo Bote’E, Luwu kembali menyerang Bone dan sekali lagi dikalahkan. Bone kemudian memperoleh bantuan Gowa untuk memerangi sekutu utama Luwu dan Wajo, namun persekutuan itu merupakan campur tangan tidak biasa bagi Gowa dalam usahanya untuk merebut hegemoni disebelah timur semenanjung, belakangan Gowa memang mengundurkan diri dan berkonsentrasi untuk mencapai harapannya di semenanjung barat Sulawesi Selatan. Pada masa pemerintahannya pulalah Bone mulai dilirik oleh Gowa.

Arumpone inilah yang pertama didampingi oleh Kajao Laliddong[7]. Dia pulalah yang mengadakan perjanjian dengan KaraengE ri Gowa Daeng Matanre Karaeng Tumapakrisika Kallonna. Peristiwa peresmian hubungan diplomatik pertama antara Bone dengan Gowa, diupacarakan dengan pergelaran senjata sakti kedua kerajaan, ”Sitettongenna SudengngE – Lateya Riduni” di Tamalate. Kunjungan Raja Gowa secara formal dalam kunjungan kenegaraan, dan berhasil membentuk hubungan persahabatan bilateral antara Gowa dengan Bone. Dengan upacara khidmat memperhadapkan senjata kebesaran Kerajaan Bone dan senjata kebesaran Kerajaan Gowa di Laccokang, Watampone, ibukota Kerajaan Bone (1538).

Setahun kemudian, Raja Bone, La Uliyo Bote’e melakukan pula kunjungan balasan ke Gowa dan berhasil membentuk dual alliance antara Bone dengan Gowa yang disebut, “Ulu Adae ri Tamalate” (Perjanjian Tamalate). Perjanjian tersebut berisikan bahwa Bone dan Gowa bersepakat untuk saling memberikan bantuan militer bilamana ada di antara mereka dalam keadaan bahaya ancaman militer. Ini merupakan sukses di bidang politik di masa kekuasaan La Uliyo Bote’e. Setelah genap 25 tahun sebagai Arung Mangkaue’ ri Bone ditunjuklah La Tenri Rawe BongkangE sebagai Raja Bone VII.

C. Perjanjian Tellumpoccoe

Perjanjian Tellumpoccoe adalah perjanjian yang melibatkan tiga kerajaan Bugis yaitu Bone, Soppeng dan Wajo. Perjanjian ini bermula atas keinginan mempersaudarakan ketiga kerajaan tersebut. Juga demi menentang agresi dari Kerajaan Gowa yang merupakan penguasa adidaya pada masa itu.

Sebelum perjanjian ini bermula, pada masa La Tenri Rawe BongkangE yang naik takhta sebagai Raja Bone VII menggantikan ayahnya La Uliyo Bote’E, Raja Bone VI, telah terjadi beberapa kali serangan dari Kerajaan Gowa yang pada mulanya disebabkan karena penggabungan TellulimpoE (tiga wilayah) memasukkan Bone sebagai anggota yakni Luwu, Gowa dan Bone.[8]

Ketika terjadi pertempuran antara Gowa dan Bone, Wajo sebagai sekutu Gowa ikut serta dalam pertempuran melawan Bone, setelah tiga hari lamanya pertempuran itu berlangsung pasukan Bone terdesak, namun semangat pasukan Bone bangkit mengadakan penyerangan dan akhirnya pasukan Kerajaan Gowa dan Wajo terpukul mundur.

Setelah itu Gowa kembali melakukan penyerangan, bersama dengan Raja Gowa Tonibata yang sebelumnya sakit, akan tetapi ia tewas setelah kepalanya dipancung oleh pasukan Bone. Lalu, Kajao lalidong mewakili Bone dan Karaeng Tallo mewakili Gowa mengaddakan pertemuan yang menghasilkan perjanjian “Ceppae ri Caleppa” berisi tentang batas wilayah kedua kerajaan di Selatan (Sungai Tangka).[9]

Raja Gowa Karaeng Bonto Langkasa memeberi perintah kepada Arung Matoa Wajo sebagai Abdi Gowa untuk mengangkut kayu dari pegunungan Barru ke pinggir laut untuk dipergunakan mendirikan istanan di Tamalate sebagai ibukota Kerajaan Gowa.

Namun Arung Matoa Wajo merasa tidak senang karena diperlakukan sewenang-wenang, maka hal tersebut disampaikan kepada Raja Bone. Setelah mengetahui hal tersebut Raja Bone merasa tidak senang, dan ia pun mengajak Arung Matoa dan Datu Soppeng untuk bersama-sama ke Barru.

Sesampainya disana Raja Gowa heran karena yang ia panggil hanya Raja Wajo, akan tetapi Raja Bone dan Raja Soppeng juga ikut. Tetapi, Raja Bone menjawab bahwa “Orang Wajo takut melewati daerah yang tidak didiami manusia”.[10] Kemudian Raja Bone, Soppeng dan Wajo sama –sama memotong tali pengikat kayu – kayu itu secara bergantian dengan menyanyikan lagu yang intinya sesama kerajaan yang terintimidasi menginginkan adanya perlawanan dengan menyatukan kekuatan.

Setelah kejadian itu, mereka bermusyawarah untuk menyerang Cenrana tujuh hari akan datang. Pada hari yang ditentukan mereka pun menyerang dan membakar Cendrana yang mana merupakan wilayah kekuasaan Gowa pada waktu itu. Lalu mereka sepakat kembali ke Timurung untuk mempererat persaudaraan mereka dalam menghadapi serangan-serangan dari Kerajaan Gowa.

Di Timurung mereka bertemu kembali dan mengadakan perjanjian persaudraan yang kemudian disebut dengan TellumpoccoE (tiga puncak) dengan bersama-sama menanamkan batu sebagai simbol persaudaraan di Timurung (Lamumpatue ri Timurung) pada tahun 1582 M.[11]

Dalam proses perjalanannya Raja Gowa yang mengetahui hal ini marah dan selalu melancarkan serangan terhdapa sekutunya (Wajo) yang berkhianat. Dua tahun setelah perjanjian TellumpoccoE diadakan, La tenri Rawe meninggal karena penyakit yang dideritanya. Sebagai penggantinya ialah saudaranya La Inca, yang ditunjuk sebagai Raja Bone ke VIII. Pada tahun 1585 terjadilah perang antara Bone dan Gowa dalam memperebutkan kekuasaan. Kepemimpina La Inca, tidak sebaik saudaranya, pemberontakan terjadi dimana-mana hingga ia akhirnya mati diatas tangga istana setelah menjabat selama 11 tahun lamanya. Sesuai anjuran Arung Majang, maka ditunjuklah La Pattawettu menggantikan La Inca sebagai Arumpone XI. Pada masa La Pattawettu tidak terlalu banyak disebut pemerintahannya, juga tidak diberitakan adanya serangan militer Gowa ke Bone. Hanya dikatakan bahwa setelah tujuh tahun menjadi Mangkau’ di Bone, ia pergi ke Bulukumba dan di situlah beliau sakit pada tahun 1602. Takhta raja pun diserahkan pada puterinya, We Tenri Tuppu (1602-1611) yang mengendalikan kerajaan Bone selama 9 tahun lamanya.

Pada tahun 1607, Raja Gowa mengirimkan armada perangnya untuk menyerang daerah-daerah bugis. Namum Tellumpoccoe berhasil mencegatnya dan terjadilah perang selama tiga yang dimenangkan oleh Tellumpoccoe. Selang tiga bulan, pasukan gabungan Tellupoccoe melancarkan serangan di Akkotengeng. Dan sekali lagi, Kerajaan Gowayang dibantu oleh sekutunya mengalami kekalahan.

Enam bulan setelahnya, Kerajaan Gowa tidak kehilangan semngatnya. Mereka memperkuat sekutu dan membuat benteng di daerah Rappeng, namun berselang tiga hari Raja Gowa meninggalkan benteng lalu kembali ke Makassar. Melihat hal tersbut, pasukan gabungan Tellumpoccoe mengepung dan menyerang sisi pertahanan Kerajaan Gowa di Rappang, namun pasukan gabungan Tellumpoccoe terdesak mundur dan mereka kembali ke negerinya masing-masing.

Mundurnya pasukan Tellumpoccoe merupakan gambaran bagi Kerajaan Gowa bahwa tidak terkoordinirnya pasukan Tellumpoccoe. Maka Raja Gowa terus meningkatkan pasukannya untuk penyerangan selanjutnya.

Lima bulan setelah itu, Raja Gowa melanjutkan ekspansinya dengan menyerang Kerajaan Soppeng, lalu dilanjutkan dengan serangan terhadap kerajaan Wajo, setelah itu dilanjutkan dengan serang terhadap kerajaan Bone. Dengan semuanya berakhir pada kemenangan di Kerajaan Gowa.

D. Islamisasi Bone

Proses Islamisasi di Bone tidak terlepas dari proses Islamisasi pada Kerajaan Gowa. Yang mana proses Islamisasi Kerajaan Gowa, dilakukan oleh Datu ri Bandang. Setelah Islamnya Kerajaan Gowa, penyebaran Islam pun dimulai. Sultan Alauddin melakukan penyebaran-penyebaran Islam secara damai. Pertama-tama ia lakukan dakwah Islam terhadap kerajaan-kerajaan tetangga. Alasan beliau berdasarkan perjanjian yang berbunyi “... bahwa barangsiapa menemukan jalan yang lebih baik, maka ia berjanji akan memberitahukan kepada raja-raja sekutunya”.[12]

Akan tetapi jalan damai tidak berlaku bagi Bone. Dalam hal ini Bone bersama sekutunya tidak mempercayai penyebaran Islam yang dilakukan kerajaan Gowa tidak berdasarkan ketulusan melainkan bersifat politis. Alasan tersbut beralasan, karena dalam sejarah sebelum masuknya Islam telah tejadi benturan-benturan terhadap kedua kerajaan. Menurut mereka ini adalah siasat Gowa untuk menguasai mereka.

Akhirnya terjadilah Perang yang dikenal dengan musu sellenge atau perang peng-Islaman. Seperti telah dituliskan sebelumnya telah terjadi perang pada tahun 1607-1611. Yang berangsur-angsur memaksa Soppeng memeluk Islam pada tahun 1609 M, Wajo pada tahun 1610 M dan Bone pada tahun 1611 M dengan perjanjian bahwa pemerintahan kerajaan tetap berada pada tangan mereka.

Islam masuk di Bone pada masa La Tenri Ruwa sebagai Raja Bone XI pada tahun 1611 M dan ia hanya berkuasa selama 3 bulan. Sebabnya, karena beliau menerima Islam sebagai agamanya padahal dewan adat Ade Pitue bersama rakyat menolak ajakan tersebut. Akhirnya beliau meninggalkan Bone, kemudian ke Makassar mempelajari agama Islam lebih mendalam dan meninggal di Bantaeng.[13]

Perlu diketahui sebelum Sultan Adam Mattindroe ri Bantaeng atau La Tenri Ruwa memeluk Islam. Sudah ada rakyat Bone juga yang telah memeluk Islam, bahkan Raja sebelumnya We Tenri Tuppu karena mendengar Sidendreng telah memeluk Islam ia pun tertarik untuk mempelajarinya dan wafat disana. Sehingga ia digelari Mattinroe ri Sidendreng.

Setelah dima’zulkannya La Tenrirua dan diangkat penggantinya La Tenripale Arung Timurung dalam tahun 1611. Arumpone La Tenri Pale To Akkeppeang Arung Timurung (1611 – 1625), adalah anak dari La Inca MatinroE ri Addenenna. Inilah Mangkaue’ yang membangkitkan kembali semangat orang Bone menolak Islam, yang menurut pemahamannya adalah pintu masuk Gowa mau menjajah Bone.

Akan tetapi, rakyat Bone dibawah Arumpone La Tenri Pale tak dapat berbuat banyak digempur dengan pasukan besar Gowa, segera setelah itu Bone resmi menjadi daerah takluk Gowa dan secara formal pula Bone memeluk Agama Islam (1611). Seluruh Arung Palili (Raja negeri bawahan Bone) diundang untuk mengucapkan syahadat tanda masuk Islam. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Islam masuk di Bone melalui tekanan militer Gowa.[14]

Setahun setelah orang Bone menerima Islam, Arumpone La Tenri Pale ke Tallo (Makassar) menemui Dato’ ri Bandang. Diberilah nama Islam, Sultan Abdullah dan diumumkan pemberian nama itu dalam suatu khutbah Jum’at. Selama masa pemerintahan La Tenripale Towakkapeyang (1611-1631), penaklukan Gowa atas Bone tidak terlalu membawa penderitaan bagi rakyat Bone, karena hubungannya dengan Sultan Alauddin terjalin dengan baik.

Lalu pada masa La Maddaremmeng (1625 – 1640) yang menggantikan pamannya La Tenripale Toakkeppeang Matinroe’ ri Tallo menjadi Arumpone XIII. La Maddaremmeng mengamalkan Islam lebih ketat dibanding kerajaan lain termasuk Gowa-Tallo, di antara gebrakannya yang terkenal adalah menghapus sistem perbudakan Ata, karena manusia dilahirkan tidak untuk diperbudak; juga menghukum berat para penyembah berhala atau mensakralkan tempat dan benda-benda tertentu; pelaku zina; pencurian; miras, dan berbagai bentuk kemungkaran lainnya. Inilah sejarah awal penerapan syariat Islam secara formal. Maka terjadilah perlawanan dari para bangsawan Bone bahkan perlawanan tersebut dipimpin langsung oleh Ibu La Maddaremmeng sendiri yaitu Datu Pattiro we Tenrisolorengbeliau menolak ajaran Islam versi anaknya karena diangganya keras dan tidak toleran, ibunya lebih tertarik dengan ajaran Islam versi kerajaan Gowa-Tallo karena lebih sufistik dan klop dengan ajaran kepercayaan pra-Islam di Bone. [15]

Tercatat dalam Sejarah Bone tentang kepatuhan La Maddaremmeng dalam menjalankan ajaran Islam dan mengimplementasikannya dalam pemerintahannya. Bahkan diusahakan pula agar kerajaan tetanggnya seperti Soppeng, Wajo dan Ajattapareng menirunya, khususnya dalam memerdekakan hamba sahaya, kecuali yang memang budak turun temurun, sedang mereka inipun harus diperlakukan manusiawi. Baginda bertindak keras tanpa pandang bulu terhadap siapapun yang melanggar kebijaksanaannya. Meski begitu, tak sedikit pula bangsawan dalam Kerajaan Bone sendiri yang menentang penghapusan perbudakan.

Dengan dalih menciptakan stabilitas keamanan dalam negeri Bone dan penentangan terhadap penghapusan perbudakan, Gowa dibawah pemerintahan Karaenge’, Sultan Malikus Said kembali menyerang Bone (1644). Ini berarti Gowa sendiri tidak mau dan tidak menyetujui penghapusan perbudakan. La Maddaremmeng menghadapi perang tersebut dengan dibantu saudaranya, La Tenriaji Tosenrima, namun serangan Gowa secara besar – besaran tersebut tak dapat ditahan pasukan Bone, Arumpone akhirnya menyingkir ke daerah Larompong. Di Cimpu, Arumpone ditawan lalu dibawa ke Gowa, diasingkan di suatu kampung bernama Sanrangang (1644). Rakyat dan Hadat Bone akhirnya mengangkat La Tenriaji To Senrima sebagai Arumpone untuk melanjutkan perjuangan melawan Gowa. La Maddaremmeng dikembalikan ke Bukaka dan disanalah Arumpone ini meninggal, hingga digelari Matinroe ri Bukaka.

E. Arung Palakka dan Kolonial
Berbicara mengenai Kerajaan Bone, tidak sah rasanya tanpa membahas Arung Palakka. La Tenri Tatta Arung Palakka MalampeE Gemme’na Petta To RisompaE (1667 - 1696) adalah Raja Bone XV dicap pemerintah sebagai pengkhianat. Oleh sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan yang tak memahami sejarah yang sebenarnya memang akan mudah tergiring opini Arung Palakka sebagai Pengkhianat berdasar fakta bahwa Arung Palakka-lah yang bersekutu dengan Belanda menyerang Kerajaan Gowa. Sejarah itu kemudian terlukis dalam Perang Makassar (1667) dan menjadi penyebab jatuhnya Kerajaan Gowa sebagai imperium besar di Nusantara bagian timur.

Dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone disebutkan bahwa La Tenri Tatta Arung Palakka baru berusia 11 tahun, ketika Kerajaan Bone dibawah kepemimpinan La Tenri Ruwa diserang dan dikalahkan oleh Kerajaan Gowa (1611) di masa kekuasaaan I Mangerangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin. Orang tuanya La Pottobune ditangkap dan ditawan bersama Arumpone La Tenri Ruwa serta bangsawan Bone lainnya. Penaklukan Bone oleh Gowa tersebut dikenal dalam sejarah bernama Musu’ Pasempe (Perang di Pasempe). Paska Perang inilah, rakyat Bone bersama raja dan bangsawannya digiring ke Gowa, dijadikan tenaga kerja paksa dalam membangun Benteng - benteng Makassar.[16]

Singkat cerita, La Tenri Tatta Arung Palakka dan semua bangsawan Bugis Bone Soppeng merasakan siri’ yang luar biasa, rasa malu dan harga dirinya tercabik - cabik diperlakukan tak berperikemanusiaan. Arung Palakka menggabungkan diri dan bekerja juga sebagai penggali parit dan pembuat benteng.[17] Ia ikut merasakan bagaimana penderitaan bangsanya disiksa oleh punggawa dan bangsawan Gowa yang mengawasi pekerjaan itu. Ayah Arung Palakka, La Pottobune’ meninggal di Gowa paska diadakannya perburuan rusa di Tallo oleh Karaeng Gowa dan para pengawalnya. La Pottobune’ Datu Lompulle mengamuk karena membela dua pelarian kerja paksa bangsanya yang tidak tahan dilihatnya disiksa dan dipukuli. Dalam lontaraq disebut bahwa sejak kejadian itu, La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka tidak bisa lagi tidur. Setiap saat yang dipikirkannya adalah bagaimana menegakkan kembali kebesaran Tanah Bone.

Kisah selanjutnya, dalam Lontaraq Bone disebutkan bagaimana kisah Arung Palakka melarikan diri bersama bangsawan bugis Bone Soppeng lainnya dari barak - barak kerja paksa, terjadinya pengejaran terhadap dirinya, perjalanannya ke kerabatnya Bangsawan Bone Soppeng dalam meminta dukungan, sumpah Arung Palakka ketika akan menyeberang dari Tanah Bugis ke Tanah Buton (1660). Dan dari Buton, perjalanannya diteruskan ke Batavia (1663) untuk mencari sekutu dalam memerangi Gowa. Ketika Arung Palakka menawarkan persekutuan kepada Belanda, Belanda sempat ragu namun setelah melihat sendiri kehebatan Arung Palakka dan pasukan pelariannya dalam Perang Pariaman di Sumatera Barat maka yakinlah Belanda akan dapat memenangkan pertempuran melawan Gowa dengan bantuan pasukan Bugis. Kerajaan Gowa sendiri ketika itu telah menjadi negara yang modernis, sebagai imperium besar di Nusantara Bagian Timur dengan pasukan militer darat dan laut yang tangguh.

Dalam sejarah kemudian dikenal, terjadi Perang Makassar (1667) yang menjadi malapetaka runtuhnya dinasti Kesultanan Gowa. Posisi Arung Palakka selanjutnya dipertanyakan banyak sejarawan, namun seiring dengan semakin membaiknya pemahaman masyarakat akan sejarah dalam konteks sejarah lokal, dapat dipahami alasan Arung Palakka memerangi Gowa. Sejarawan asal Amerika, Dr Leonard Y Andaya dalam buku “Warisan Arung Palakka - Sejarah Sulawesi Selatan Abad XVII” mengurai betapa terkunkungnya dominasi Belanda menguasai daratan Sulawesi Selatan selama Arung Palakka masih hidup dan menjadi penguasa atasan atas semua negeri taklukan paska Perjanjian Bungaya (1668).[18]

Sepeninggalnya, Arung Palakka telah meletakkan dasar - dasar hegemoni politik dengan cara mengawinkan mawinkan kemenakannya, La Patau Matanna Tikka dengan Gowa dan Luwu, yang diangkatnya menjadi Raja Bone XVI. Arung Palakka pun kini di mata masyarakat Bugis, khususnya Bone - Soppeng dijuluki sebagai “Sang Pembebas”, bukan sebagai pengkhianat. Andi Sultan Kasim (2002) menyebut julukan tersebut adalah hal yang pantas, karena ketika itu Bone adalah sebuah negara (kerajaan) yang merdeka dan berdaulat, sama halnya dengan Gowa, wajar jika seorang Arung Palakka menuntut dan memperjuangkan kemerdekaan atas bangsanya.

F. Runtuhnya Kerajaan Bone

Sejak runtuhnya Kerajaan Gowa pasca munculnya Perjanjian Bongaya, Kerajaan Bone bangkit menjadi satu-satunya kerajaan yang memiliki pengaruh paling besar. Hingga awal XX, Kerajaan Bone memainkan peran penting dalam sejarah politik di Sulawesi Selatan.

Pada abad XIX Kerajaan Bone menjadi saingan Belanda dalam memperluas kekuasaan dalam bidang ekonomi dan politik. Akibatnya, kedua penguasa ini pernah terlibat dalam perang besar. Dalam sejarah daerah ini, perang itu terjadi pada tahun 1824-1825 yang bermula setelah Sultan Bone meninggal pada tahun 1823, dan digantikan oleh saudarinya Aru Datu (bergelar I-Maneng Paduka Sri Ratu Sultana Salima Rajiat ud-din), pemerintah kesultanan mencoba merevisi Perjanjian Bongaya, beserta semua anggota persekutuan itu, yang jatuh atas pemerintahan itu, hukum yang sama harus diberlakukan. Antara tanggal 8 Maret sampai 21 September 1824, GubJend. G.A.G.Ph. van der Capellen mengadakan lawatan ke Sulawesi dan Kepulauan Maluku; semua penguasa datang memberikan penghormatan (juga perwakilan Ratu Bone), kecuali penguasa Suppa dan Tanete. Van der Capellen berharap bahwa perundingan dengan negara-negara tersebut tidak akan membawa keuntungan apapun; sekembalinya ke Batavia, sebuah ekspedisi dipersiapkan dan sekitar 500 prajurit diberangkatkan dengan membawa 4 meriam, 2 howitzer, beserta 600 prajurit pembantu pribumi untuk menghukum Bone.[19]

Sultan yang kini terguling lari ke pedalaman dan penduduk tetap melancarkan serangan atas Belanda namun masalah di Tanete cepat dibereskan dengan baik. Meskipun Suppa masih kuat; Letkol. Reeder melancarkan serangan bersama 240 prajurit yang dipersenjatai sejumlah moncong senjata; pada tanggal 14 Agustus serangan diperbaharui: orang Bugis membiarkan pasukan Belanda mendekat tanpa ancaman apapun hingga di kaki sebuah bukit dan barulah mereka melancarkan serangan; setelah kehilangan sepertiga pasukannya, Belanda harus mundur. De Stuers menyerbu bersama komisaris pemerintahan Tobias ke Suppa dan makin mendekat; pada pagi hari tanggal 30 Agustus, operasi itu berhasil diselesaikan, setelah tembakan meriam peringatan ke benting musuh, namun kekuatan yang dibawa De Stuers tak cukup kuat. Dengan korban tewas sebanyak 14 jiwa dan 60 korban luka-luka, pasukan Belanda harus kembali dan harus melancarkan ekspedisi lain.[20]

Lalu berturut-turut perang terjadi pada tahun1859-1860 dan perang yang terjadi pada tahun 1859-1860. Hingga Serangan yang dilancarkan pemerintah Kolonial pada tahun1905 yang menandai berakhirnya Kerajaan Bone pada masa La Pawawoi Karaeng Segeri.

Sekali lagi Pemerintah Kolonial ingin meneggakkan supremasinya terhadap seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Kolonial Belanda menganggap Bone telah melanggar perjanjian sebelumnya bahwa Bone tidak boleh memperluas wilayah kekuasaanya, hingga munculnya bukti invasi militer Bone di Tana Toraja dan Wajo 1897-1900. Gubernur Hindia Belenda Baroon van Hoevell mengeluarkan surat perintah penghapusan penguasa pribumi Bone pada Maret 1903.[21]

Akhirnya pada Julli 1905 dilancarkanlah serangan terhdapa Kerajaan Bone oleh Belanda melalui pelabuhan Bajoe. Dengan berakhir pada kemenangan Belanda. Akan tetapi, Karaeng Segeri mengusngsi menuju pedalaman, untuk mengumpulkan pasukan dan menyemangati para pejuang yang tersisa.

Sementara pengejaran terhadap La pawawoi terus dilakukan, Tomarilalang bersama lima anggota Dewan Adat Bone menyatakan tunduk terhadap Belanda. Ditambah semakin terdesaknya para pejuang Bone hampir disetiap pertempuran dan kematian Panglima tertinggi perang Kerajaan Bone Petta Ponggawae Baso Pangilingi Abdul Hamid. Perang pun berakhir, Raja Bone La pawawoi sudah tidak memiliki daya lagi untuk mempertahanya pada kerajaan. Ia pun akhirnya harus ditahan, dan diputuskan dikirm ke Bandung, dimana ia kemudian mengehmbuskan nafas terkhirnya pada Januari 1911.[22]

KESIMPULAN

  1. Seperti halnya kelahiran Kerajaan Gowa, proses sejarah berdirinya Kerajaan Bone juga diawali dengan kisah kehadiran Tomanurung. Jika Tomanurung di Kerajaan Gowa adalah wanita, Tomanurung di Kerajaan Bone adalah laki-laki. Dan ditunjukkalah ia sebagai Raja Bone I atau Arung Pone yaitu Tomanurung ri Matajang, yang bergelar MatasimpoE. Ia memerintah kurang lebih 40 tahun, dari tahun 1330 M sampai tahun 1370 M
  2. Pada Proses awal Perkembangan Kerajaan Bone yang pada tiap-tiap Raja Bone mulai dari Raja Bone I atau Arung Pone yaitu Tomanurung ri Matajang, hingga Raja Bone VI yaitu La Uliyo Bote’E inilah Bone membentuk sistem pemerintahannya, sistem sosial dan ekonomi. Bahkan hubungan politik mulai dibentuk pada proses awal ini.
  3. Perjanjian Tellumpoccoe adalah perjanjian yang melibatkan tiga kerajaan Bugis yaitu Bone, Soppeng dan Wajo. Perjanjian ini bermula atas keinginan mempersaudarakan ketiga kerajaan tersebut dan juga demi menentang agresi dari Kerajaan Gowa yang merupakan penguasa adidaya pada masa itu.Perjanjian ini ada pada masa La Tenri Rawe BongkangE sebagai Raja Bone VII.
  4. Proses Islamisasi di Bone tidak terlepas dari proses Islamisasi pada Kerajaan Gowa. Islamisasi pada Kerajaan Bone tidak ditempuh dengan jalan damai, melainkan melalui musu asselengeng yaitu perang peng-Islaman. Pada tahun 1611 M setelah Wajo dan Soppeng masuk Islam, Bone pun turut mengikuti berkat agresi militer Gowa. Hingga secara resmi tahun1611 pada masa La Tenripale Arung Timurung. Lalu pada masa La Maddaremmeng (1625 – 1640) yang menggantikan pamannya La Tenripale Toakkeppeang Matinroe’ ri Tallo menjadi Arumpone XIII. La Maddaremmeng mengamalkan Islam lebih ketat dibanding kerajaan lain termasuk Gowa-Tallo.
  5. Berkat bantuan dari Pasukan Hindia Belanda Gowa berhasil ditaklukkan oleh persekutuan Bone-Belanda dibawah pimpinan Arung Palakka. Yang mana setelah Perjanjian Bongaya, Kerajaan Bone memainkan peran penting dalam sejarah politik di Sulawesi Selatan.
  6. Runtuhnya Kerajaan Bone setelah serangan militer Belanda pada tahun 1905 pada masa pemerintahan Raja terakhir Bone La Pawawoi Karaeng Segeri. Yang akhirnya meninggal dalam tahanannya di Bandung pada tahun 1911 M. 


DAFTAR PUSTAKA

................, Laporan Penelitian Sejarah Sulawesi Selatan (Biografi Aru Palakka), Cet I; Ujung Pandang, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 1993

Azhar Nur, Trilianci Tellumpoccoe Cet I: Yogyakarta, Cakrawala, 2009


http://blogbone.blogspot.com// Perangbone (1859-1905)/

L. Edward dkk., et.al. Sejarah Sulawesi Selatan Jilid I dan II, Cet I; Makassar, Balitbangda, 2004-2005.

Mattullada, Bugis – Makassar, Manusia dan Kebudayaannya Jakarta: Terbit Khusus Fakultas Sastra UI, 1974.

Rasyid, Darwas Latenri Tatta Aru’ Palakka dalam Konteks Sejarah Sulawesi Selatan Cet I: Ujung Pandang, Badan Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional 1994
Sewang. Ahmad M., Islamisasi Kerajaan Gowa abad XVI sampai abad XVII, Cet II: Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2005

Footnote
[1] Edward L dkk., et.al. Sejarah Sulawesi Selatan Jilid I, (Cet I; Makassar, Balitbangda, 2004) h. 32-33
[2]Drs. Darwas Rasyid M.S, Latenri Tatta Aru’ Palakka dalam Konteks Sejarah Sulawesi Selatan (Cet I: Ujung Pandang, Badan Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional 1994) h.59
[4] Drs. Darwas Rasyid M.S., Op.cit., h. 61
[5] Ibid., h.62
[6] Ibid. h.63
[7] Kajao lalidong adalah sebuah gelar bagi seorang pemikir politik dan negarawan dari tanah bugis. Kajao lalidong pula yang mencoba menanamkan nilai-nilai atau sifat-sifat yang harus dimiliki oleh raja dan rakyat,yaitu:Lempu’ (kejujuran), Acca (kepandaian), Asitinajang (kepatutan), Getteng (keteguhan), Reso(usaha,kerja keras), Siri’ (harga diri).
[8] Mattullada, Bugis – Makassar, Manusia dan Kebudayaannya (Jakarta: Terbit Khusus Fakultas Sastra UI, 1974), h.5
[9] Azhar Nur, Trilianci Tellumpoccoe (Cet I: Yogyakarta, Cakrawala, 2009) h. 64
[11] Azhar Nur, Op.Cit h.67-68
[12] Prof. DR. Ahmad M. Sewang, Islamisasi Kerajaan Gowa abad XVI sampai abad XVII, (Cet II: Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2005), h. 112
[13] Edward L dkk., et.al. loc. cit. h. 92
[14] Drs. Darwas Rasyid. loc. cit. h. 90
[16] Ibid
[17] ................, Laporan Penelitian Sejarah Sulawesi Selatan (Biografi Aru Palakka), (Cet I; Ujung Pandang, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 1993). h. 2-3
[19] Edward L dkk., et.al. Sejarah Sulawesi Selatan Jilid II, (Cet I; Makassar, Balitbangda, 2005) h. 24
[20] http:www.blogbone.blogspot.com// Perangbone 1859-1905)
[21] Edward L. Op .Cit. h.25
[22] Ibid., h 32

Chairul Mundzir
HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html