Islam Di Domba Hitamkan

Ditengah kekacauan,Fitnah, teror dan kekerasan,umat Islam tetap tabah berdiri mempertahankan keyakinannya, dengan memperkenalkan agamanya dengan cara-cara damai dan menyejukkan.

Akhirnya Sunni dan Syiah Bersatu

Bukankah mereka mengimani tuhan yang sama, Mencintai Nabi dan Rosul yang sama, memiliki Kitab suci yang sama, Mempunyai Syahadah yang sama ?, Kemudian mereka saling fitnah dan menumpahkan darah.

Pengaruh Peradaban Islam Terhadap dunia Modern

Pada masa lampau, peradaba Islam memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan dunia Barat, kini Islam dan Barat saling menghunus pedang, Islam sebagai Tokoh Kegelapan, sedangkan Barat sebagai Tokoh Peradaban.

Jihad Dan Terorisme dalam Prespektif Islam

Siapa mereka yang mengatakan terorisme merupakan bagian dari jihad fi sabilillah ?? sedangkan teror sangat ditentang oleh teks rujukan utama umat Islam.

Lagenda Assasin "Penebar Maut Lembah Alamut"

Asyhasin(assassin) Antara Lagenda dan Mitos, Siapa Sangka Assassin yang terkenal sebagai Game, adalah Kisah Nyata Pasukan Khusus sekte pecahan Syiah Ismailiyah.

Wednesday, 11 July 2012

Pertarungan Islam dan Pancasila (Pengkhianatan Pemimpin Masa lalu)

Sebuah tulisan Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif  yang dimuat  di koran Republika (kolom Resonansi), edisi Selasa 15 Mei 2012 yang berjudul ” Saat Islam dan Pancasila Sudah Bersahabat (1)” menarik untuk dibahas sebagai wacana pemikiran dan mengingat akan masa lalu tentang relasi Islam dan Pancasila sebagai sebuah Ideologi. Tulisan lengkapnya saya copy paste disini :
Saat Islam dan Pancasila Sudah Bersahabat (1)
Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif
Saat bala tentara Jepang masih punya kekuasaan di Indonesia sekitar 2,5 bulan sebelum proklamasi kemerdekaan, pertarungan sengit antara Islam dan Pancasila untuk diusulkan sebagai dasar filosofi negara telah terjadi. Medan pertarungan itu adalah dalam sidang-sidang BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan).
Islam diwakili tokoh-tokoh puncak kelompok santri, seperti Agus Salim, KH Wachid Hasjim, Ki Bagus Hadikusumo, KH Sanoesi, Kahar Muzakkir, sedangkan di pihak Pancasila muncul Soekarno, Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, dan para pemimpin nasionalis lainnya. Sekiranya Ketua BPUPK Dr KRT Radjiman Widiodiningrat tidak menanyakan tentang dasar filosofi negara yang mau merdeka, kita tidak tahu apakah negara Indonesia akan punya dasar atau tidak.
Yang paling serius menjawab tantangan Radjiman itu adalah Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945 yang terkenal itu. Pidato inilah yang menjadi sumber Pancasila itu, tidak yang lain. Pancasila yang sekarang ini, sekalipun bersumber dari Bung Karno, perumusannya telah mengalami perubahan, tetapi bilangan silanya tetap lima.
Perdebatan antara golongan santri dan nasionalis pada Juni itu kemudian menghasilkan sebuah titik temu dalam bentuk Piagam Jakarta, tertanggal 22 Juni 1945, dengan sila-silanya sebagai berikut:
1.    Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2.    Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3.    Persatuan Indonesia.
4.    Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
5.    Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Piagam ini hanya berumur 57 hari sebab pada 18 Agustus 1945, demi persatuan bangsa maka atribut “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya“ yang terdapat pada sila pertama dihapus dan posisinya digantikan oleh ungkapan “Yang Maha Esa“ sehingga bunyi lengkapnya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa“. Pancasila rumusan 18 Agustus inilah yang kita gunakan sekarang.
Dalam perkembangan selanjutnya, golongan santri rupanya tidak terlalu bahagia dengan Pancasila 18 Agustus itu, apalagi dengan Pancasila UUD 1949/UUDS 1950. Dalam sidang-sidang Majelis Konstituante, 1956-1959, ketidakbahagiaan itu mereka lontarkan kembali dengan menggugat rumusan ini dan mengajukan Islam sebagai dasar negara berhadapan dengan Pancasila.
Gugatan ini sepenuhnya benar secara konstitusional karena UUDS 1950 memang membuka pintu untuk itu. Tetapi, sebagaimana kita ketahui, pergulatan tentang dasar negara dalam majelis pembuat UUD ini berjalan sangat alot karena tidak satu pihak pun yang berhasil mengegolkan usulannya sebagaimana yang diminta oleh UUDS. Kesulitan konstitusional inilah kemudian yang “memaksa“ Bung Karno untuk mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 yang terkenal itu. Dengan dekrit ini, Pancasila 18 Agustus dan UUD 1945 dikukuhkan kembali dan Majelis Konstituante dibubarkan. Akibatnya, suhu politik menjadi sangat panas ketika itu ditambah lagi sangat panas ketika itu ditambah lagi dengan maraknya pergolakan daerah yang mengkristal dalam bentuk PRRI/Permesta sejak 1958 yang telah menguras energi bangsa Indonesia.
Ironisnya, Dekrit 5 Juli juga dipakai Bung Karno untuk melaksanakan sistem Demokrasi Terpimpin (1959-1966) yang minus demokrasi itu, tetapi kemudian berakhir dengan sebuah malapetaka nasional. Kekuasaan Bung Karno pun tidak bisa bertahan untuk kemudian digantikan oleh era Demokrasi Pancasila (1966-1998) dengan Presiden Soeharto sebagai penguasa tunggal.
Pada era inilah, petarungan Islam dan Pancasila memasuki tahap terakhir dengan segala masalah dan dinamika politik yang menyertainya.
Ringkasnya, sejak itu Pancasila sebagai dasar negara secara formal konstitusional telah sangat mantap. Jika masih ada pihak-pihak yang menggugat Pancasila, kekuatan mereka hanyalah berupa riak-riak kecil yang tidak akan mengubah dasar filosofi konstitusi Indonesia.
Dalam ungkapan lain, Islam dan Pancasila telah sangat bersahabat. Pertarungan selama bertahun-tahun sebelumnya telah berakhir untuk tidak diulang lagi. Semua pihak sekarang sudah sama-sama menyadari bahwa mempertentangkan Islam dan Pancasila seperti yang pernah terjadi, ditengok dari kacamata kedewasaan berbangsa adalah sebuah keteledoran sejarah dari negara yang berusia sangat muda ketika itu.
*****
Mengingat Riwayat Tujuh Kata
Dalam tulisan diatas Syafi’i Ma’arif menyampaikan : “demi persatuan bangsa maka atribut “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya“ yang terdapat pada sila pertama dihapus” , pertanyaanya apa betul pencoretan “tujuh kata” itu “demi persatuan bangsa” ? Fakta historis bahwa tarik ulur perdebatan pencoretan tujuh kata itu tidaklah sederhana dan bahkan dalam bukunya, “Islam dan Politik, Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin” (1959-1965), (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif juga mencatat, bahwa pada 18 Agustus 1945, Soekarno sebenarnya sangat kewalahan menghadapi Ki Bagus. Akhirnya melalui Hatta yang menggunakan jasa Teuku Mohammad Hasan, Ki Bagus dapat dilunakkan sikapnya, dan setuju mengganti “tujuh kata” dengan “Yang Maha Esa”.
Dalam biografi Hidup itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 tahun, yang ditulis Lukman Harun, tertera pada hari dan saat bersamaan, 18 Agustus 1945, Bung Karno minta Kasman melobi Hadikusumo. Bung Karno mengatakan kepada anggota PPKI itu, yang juga tokoh Muhammadiyah dan Masyumi, usaha yang sama telah dicoba lewat Hasan, tapi tak berhasil. Baru setelah Kasman berbicara dengan Hadikusumo, sebagai sesama Muhammadiyah. persetujuan penghapusan tujuh kata itu dicapai. Mana yang benar? Hasan mengaku pernah menghubungi Kasman. beberapa tahun lalu, untuk menjelaskan soal ini. Menurut Hasan. Kasman berkata, ”Benar, Saudara meyakinkan dia (Ki Bagus Hadikusumo) dalam bahasa Indonesia, saya meyakinkan dia dalam bahasa Jawa.”
Masih terngiang ucapan Kasman Singodimejo dalam sebuah perbincangan bahwa beliau merasa turut bersalah karena dengan bahasa Jawa yang halus Beliau menyampaikan kepada Ki Bagus Hadikusumo tokoh Muhammadiyah yang teguh pendiriannya itu untuk sementara menerima usulan dihapusnya 7 kata itu. Kasman terpengaruh oleh janji Soekarno dalam ucapannya, “Bahwa ini adalah UUD sementara, UUD darurat, Undang-undang Kilat. Nanti 6 bulan lagi MPR terbentuk. Apa yang tuan-tuan dari golongan Islam inginkan silahkan perjuangkan disitu.”
Ini artinya bahwa kalangan Islam tetap menginginkan Islam sebagai dasar negara. Kasman berpikir, yang penting merdeka dulu. Lalu meminta Ki Bagus Hadikusumo bersabar menanti enam bulan lagi. Namun enam bulan kemudian Soekarno tidak menepati janji. Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak pernah terbentuk. Pemilu yang pertama baru dilaksanakan 10 tahun sesudah proklamasi (1955). Lalu siapa yang menginginkan “pencoretan tujuh kata” demi persatuan bangsa ? Belakangan diketahui, para aktivis Kristen lah yang  sibuk kasak-kusuk melakukan konsolidasi dan lobi-lobi politik untuk meminta penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Kesimpulan ini didasarkan pada pernyataan Soekarno yang mengatakan bahwa malam hari usai proklamasi kemerdekaan RI, ia mendapat telepon dari sekelompok mahasiswa Prapatan 10, yang mengatakan bahwa pada siang hari pukul 12.00 WIB (tanggal 17 Agustus), tiga orang anggota PPKI asal Indonesia Timur, Dr Sam Ratulangi, Latuharhary, dan I Gusti Ketut Pudja mendatangi asrama mereka dengan ditemani dua orang aktivis. Kepada mahasiswa, mereka keberatan dengan isi Piagam Jakarta. Kalimat dalam Piagam Jakarta, bagi mereka sangat menusuk perasaan golongan Kristen.
Latuharhary sengaja mengajak Dr Sam Ratulangi, I Gusti Ktut Pudja, dan dua orang aktivis asal Kalimantan Timur, agar seolah-olah suara mereka mewakili masyarakat Indonesia wilayah Timur. Mereka juga sengaja melempar isu ini ke kelompok mahasiswa yang memang mempunyai kekuatan menekan, dan berharap isu ini juga menjadi tanggungjawab mahasiswa.
Mahasiswa lalu menghubungi Hatta, yang kemudian mengundang para mahasiswa untuk datang menemuinya pukul 17.00 WIB. Hadir dalam pertemuan itu aktivis Prapatan 10, Piet Mamahit, dan Imam Slamet. Setelah berdialog, Hatta kemudian menyetujui usul perubahan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Setelah dari Hatta, malam itu juga para mahasiswa menelepon Soekarno untuk menyatakan keberatan dari tokoh Kristen Indonesia Timur.
Singkat kata, keesokan harinya Soekarno dan Hatta mengadakan rapat dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia di Pejambon Jakarta. Agenda sidang dibatasi hanya membahas perubahan penting dalam pembukaan dan batang tubuh UUD 45. Rapat yang diagendakan berlangsung pukul 09.30 WIB mundur menjadi pukul 11.30 WIB. Belakangan diketahui, mulur-nya rapat tersebut disebabkan terjadinya perdebatan yang sengit dalam lobi-lobi yang dilakukan untuk menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Lobi-lobi yang digagas Hatta terjadi antara Kasman Singodimejo, Ki Bagus Hadikusumo, Teuku Muhammad Hassan, dan KH A Wahid Hasyim. Pertemuan dengan Hatta berlangsung sengit dan tegang.
Saking sengit dan tegangnya pertemuan itu, sampai-sampai Soekarno memilih tak melibatkan diri dalam lobi tersebut. Soekarno terkesan menghindar dan canggung dengan kegigihan Ki Bagus Hadikusumo, Ketua Umum Muhammadiyah ketika itu, dalam mempertahankan seluruh kesepakatan Piagam Jakarta. Soekarno kemudian hanya mengirim seorang utusan untuk turut dalam lobi yang bernama Teuku Muhammad Hassan.
Siapa orang yang paling bertanggungjawab dalam penghapusan tujuh kata tersebut? R.M.A.B Kusuma dalam buku Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945: Memuat Salinan Dokumen Otentik Badan Oentoek Menyelidik Oesaha2 Persiapan Kemerdekaan (Jakarta: Badan Penerbit PH-UI, 2004) mengatakan,
”Bung Hatta adalah orang yang paling bertanggungjawab terhapuskannya ”tujuh kata” dari Piagam Jakarta. Beliau konsisten mengikuti ajaran yang dianutnya. Beliau menghapus ”tujuh kata” tanpa berunding dengan tokoh-tokoh Islam yang menyusun ”perjanjian luhur” Piagam Jakarta, yakni: K.H Wachid Hasjim, K.H Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosujoso. Beliau hanya berunding dengan Ki Bagus Hadikusumo yang bukan penyusun Piagam Jakarta dengan janji bahwa hal itu akan dibahas lagi di sidang MPR yang akan dibentuk. Pertimbangan beliau hanya didasarkan pada pendapat orang Jepang yang mengaku utusan dari Indonesia Timur. Beliau tidak menyatakan berunding dengan utusan Indonesia Timur yang resmi, yakni D.G Ratulangie, M.r J. Latuharhary, Andi Pangeran Petta Rani, Andi Sultan Daeng Raja, dan Mr Ketut Pudja.”
Dalam buku tersebut Kusuma juga mengatakan, ikhtiar penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang dilakukan Hatta, yang mengaku mendapat desakan dari kelompok Kristen di Indonesia Timur, tak lain makin memperlihatkan sikap dan keyakinan politik Hatta yang sekular, yang berusaha memisahkan ”urusan agama” dan ”urusan negara”. Hatta, kata Kusuma, bahkan tidak pernah mengucapkan kata-kata yang identik dengan Islam, seperti Allah subhana wa Ta’ala, Alhamdulillah, dan sebagainya.
Islam dan Pancasila : Betulkah Bersahabat ?
 ”Jikalau dulu pada tanggal 18 Agustus 1945 kami golongan Islam telah di-fait-a-compli-kan dengan suatu janji dan/atau harapan dengan menantikan waktu 6 bulan, menantikan suatu Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk membuat Undang-undang Dasar yang baru dan yang permanen, Saudara Ketua, janganlah kami golongan Islam di Dewan Konstituante sekarang ini di-fait-a-compli-kan lagi dengan anggapan-anggapan semacam: Undang-undang Dasar Sementara dan Dasar Negara tidak boleh dirubah, tidak boleh diganti, tidak boleh diganggu gugat! Sebab fait-a-compli semacam itu sekali ini, Saudara Ketua, hanya akan memaksa dada meledak!”
Paragraf diatas adalah kutipan  Pidato Mr Kasman Singodimejo di Majelis Konsituante “Menuntut pelaksanaan Gentlement Agreement” yang dijanjikan “Soekarno” (lihat ” Mitos Konstituante“) yang tetap teguh mencinta-citakan Islam sebagai dasar negara. Sehingga menjadi pertanyaan pula atas tulisan Syafi’i Ma’arif : “Kesulitan konstitusional inilah kemudian yang “memaksa“ Bung Karno untuk mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 yang terkenal itu“. Betulkah Dekrit 5 Juli 1959 sebagai “kesulitan konstitusional” ataukah “keteguhan” pendirian Bung Karno yang tidak menginginkan Islam sebagai dasar negara? ….
Paragraf penutup (yang mungkin masih bersambung) dari tulisan Syafi’i Ma’arif diatas : “Dalam ungkapan lain, Islam dan Pancasila telah sangat bersahabat. Pertarungan selama bertahun-tahun sebelumnya telah berakhir untuk tidak diulang lagi. Semua pihak sekarang sudah sama-sama menyadari bahwa mempertentangkan Islam dan Pancasila seperti yang pernah terjadi, ditengok dari kacamata kedewasaan berbangsa adalah sebuah keteledoran sejarah dari negara yang berusia sangat muda ketika itu“. Betulkah Islam dan Pancasila telah sangat bersahabat?
Kiranya Cerita Kasman Singodimejo dalam memoirnya Hidup itu Perjuangan: 75 Tahun Kasman Singodimejo, memberi sedikit jawaban sejarah. Beliau menceritakan, kedatangannya ke Gedung Pejambon Jakarta dan diminta sebagai anggota tambahan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia adalah atas permintaan Soekarno. Padahal, ketika itu ia sedang bertugas di Jawa barat. Sebagai Panglima Tentara saat itu, ia ditugaskan mengamankan senjata dan mesiu untuk tidak jatuh ke tangan Jepang.
Setelah sukses melobi Ki Bagus Hadikusumo dan rapat memutuskan penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta tersebut, malam harinya Kasman gelisah tak bisa tidur. Kepada keluarganya ia tak bicara, diam membisu:
”Alangkah terkejut saya waktu mendapat laporan dari Cudhanco Latief Hendraningrat, bahwa balatentara Dai Nippon telah mengepung Daidan, dan kemudian merampas semua senjata dan mesiu yang ada di Daidan.Selesai laporan, maka Latief Hendraningrat hanya dapat menangis seperti anak kecil, dan menyerahkan diri kepada saya untuk dihukum atau diampuni. Nota bene, Latief sebelum itu, bahkan sebelum memberi laporannya telah meminta maaf terlebih dahulu.
Ya apa mau dibuat! Saya pun tak dapat berbuat apa-apa. Saya mencari kesalah pada diri saya sendiri sebelum menunjuk orang lain bersalah. Ini adalah pelajaran Islam. Memang saya ada bersalah, mengapa saya sebagai militer kok ikut-ikutan berpolitik dengan memenuhi panggilan Bung Karno!?
….malamnya tanggal (18 Agustus malam menjelang 19 Agustus 1945) itu sengaja saya membisu. Kepada keluargapun saya tidak banyak bicara, sayapun lelah, letih sekali hari itu, lagi pula kesal di hati. Siapa yang harus saya marahi?”
Kasman mengatakan, ada dua kehilangan besar dalam sejarah bangsa ini ketika itu. Pertama, penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang menjadi Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. Kedua, hilangnya sejumlah senjata dan lain-lainnya yang sangat vital pada waktu itu.
Kasman menyadari dirinya terlalu praktis dan tidak berpikir jauh dalam memandang Piagam Jakarta. Ia hanya terbuai dengan janji Soekarno yang mengatakan bahwa enam bulan lagi akan ada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat yang akan dapat memperbaiki kembali semua itu. Padahal dalam waktu enam bulan, mustahil untuk melakukan sidang perubahan di tengah kondisi yang masih bergolak. Meski Kasman telah mengambil langkah keliru, namun niat di hatinya sesungguhnya sangat baik, ingin bangsa ini bersatu. “Sayalah yang bertanggung jawab dalam masalah ini, dan semoga Allah mengampuni dosa saya,” kata Kasman sambil menetaskan air mata, seperti diceritakan tokoh Muhammadiyah Lukman Harun, saat Kasman mengulang cerita peristiwa tanggal 18 Agustus itu.
Seolah ingin mengobati rasa bersalah penyesalannya pada peristiwa 18 Agustus 1945, pada sidang di Majelis Konstituante 2 Desember 1957, Kasman tak lagi sekadar menjadi “Singodimejo” tetapi berubah menjadi “Singa di Podium” yang menuntut kembalinya tujuh kata dalam Piagam Jakarta dan menolak Pancasila sebagai dasar negara.
Meminjam istilah Syafi’i Ma’arif tentang “sejarah kesengajaan” dan “sejarah kecelakaan”, maka bila mungkin sekarang terjadi “persahabatan” Islam dan Pancasila dalam konteks sejarah adalah sebuah “persahabatan kecelakaan” bukan “persahabatan kesengajaan” …. dan sangat mungkin untuk perbaikan demi masa depan. Maka pertarungan ideologi seyogyanya tak perlulah tuk di akhiri dan biarlah masa depan menemukan jalannya sendiri…….

Thursday, 28 June 2012

Hari ini, 42 tahun lalu Soekarno meninggal dalam sepi


Tepat 42 tahun yang lalu, Soekarno meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Soekarno meninggal dalam sepi, sebagai tahanan politik Orde Baru.

Sejak tahun 1967, Soekarno memang sudah diisolasi oleh Soeharto. Dia tidak boleh tampil di depan umum atau berbicara pada wartawan. Soekarno menjadi tahanan rumah di Wisma Yasoo, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Tempat itu dulunya adalah rumah istri Soekarno, Ratna Sari Dewi.

Belakangan, isolasi makin ketat. Bahkan pihak keluarga dilarang menemui Soekarno. Tak cukup, pemerintah Soeharto mengambil televisi milik Soekarno. Terputuslah hubungan Soekarno dengan dunia luar.

Soekarno menjadi linglung dalam tahanan. Dia depresi dan menjadi sering berbicara sendiri.

Semenjak muda, Soekarno selalu menikmati berada di tengah-tengah ribuan rakyatnya. Berbicara dan berpidato di tengah rakyatnya. Kini Soekarno diasingkan dari rakyat Indonesia. Ditahan sendiri dalam sepi. Kesehatannya terus memburuk.

Sejak dulu memang Soekarno memiliki penyakit ginjal. Kini dalam tahanan, kondisinya semakin parah.

Tak ada siapa pun di samping Soekarno. Sebagian menyingkir dari sisinya karena takut diancam Soeharto. Sebagian lagi meninggalkan Soekarno karena menjadi pengikut Orde Baru.

Maka tengah hari 21 Juni 1970, Soekarno meninggal dalam usia 69 tahun. Jenazahnya dibawa ke Wisma Yasoo. Ribuan rakyat memadati jalan-jalan untuk memberi penghormatan terakhir. Karena khawatir akan pamor Soekarno, pemerintah Orde Baru tidak mengizinkan Soekarno dimakamkan di Bogor. Mereka meminta Soekarno dimakamkan jauh dari Jakarta.

Maka Soekarno dimakamkan di Blitar. Berdampingan dengan makam ibunya, Idayu Nyoman Rai. Sepanjang jalan, jutaan rakyat menangis untuk Soekarno. Padahal saat itu Orde Baru habis-habisan mengubur kisah Soekarno.

Mantan ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko yang mengantar jenazah Soekarno duduk satu mobil dengan putra-putri Bung Karno. Bambang pun terkesima melihat lautan manusia yang menangis. Dia berkata pada Rachmawati, salah satu putri Soekarno.

"Lihatlah Rachma, rakyat masih mencintai Bung Karno. Mereka juga kehilangan. Jasa Bapak bagi Nusa dan Bangsa tidak akan terlupakan selamanya." Rachmawati mengangguk membenarkan ucapan Bambang.

Saat pemakaman, tak henti-hentinya orang mengambil tanah dan bunga dari makam Soekarno. Ribuan orang bertahan di makam. Mereka baru pulang setelah dipaksa petugas.

Maka hari ini, 42 tahun lalu, berakhirlah hidup seorang manusia bernama Soekarno. Dia yang menjadi penyambung lidah rakyat Indonesia.

Saturday, 23 June 2012

Kemajuan Dinasti Bani Abbasyiah


PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Pada tahun 132 H/ 750 M. merupakan tahun peralihan dari bani Umayyah ke bani Abbas, setelah meruntuhkan bani Umayyah dengan membunuh khalifah Marwan Ibn Muhammad yang memerintah tahun 127/ 132H/ 744-759 M.[1]
Bani Abbas berkuasa selama lima abad lamanya dengan khalifah yang pertama Abu al-Abbas Ibn Abdullah al-Shaffah (tahun 132-137 H/ 750-754 M sampai ke khalifah ke 37 Abu Ahmad ibn al-Mu’tashim (tahun 640-656 H/ 1242-1258 M), telah memperlihatkan kepesatan perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam.[2]
            Runtuhnya bani Umayyah yang pada kenyataanya telah membuka babak baru bagi perkembangan Islam secara keseluruhan pada dinasti bani Abbas, pada hakekatnya disebabkan dari perbedaan dua dinasti dalam memandang kepentingan negara. Dinasti Umayyah dengan corak Arabisme nampaknya lebih mementingkan ekspansi wilayah atau lazim disebut sebagai perluasan wilayah-wilayah Islam. Sedangkan dinasti bani Abbas, kepentingan Negara tidak tertumpu selalu pada perluasan wilayah, tetapi telah melebar kepada kepentingan-kepentingan pencapaian ilmu-ilmu pengetahuan dan peradaban.[3]  Kemajuan dinasti Abbasiyah tidak dapat disangkal adalah dimulai dari kepindahan ibu kota Negara di Baghdad yang sebelumnya berada di Damaskus pada dinasti Umayyah. Perpindahan tersebut telah mengakibatkan saling berinteraksinya orang-orang Arab dengan orang-orang Persia, dimana mereka telah dikenal dengan tradisi-tradisi keilmuannya. Di kota inilah kelak dimulai kemajuan-kemajuan Islam yang pernah dicapai sebelumnya dan kota ini pula orang Arab telah menanggalkan tradisi-tradisi Baduinya menjadi orang bijak yang penuh pertimbangan rasional. Olehnya, wajar bila seorang penulis mengatakan bahwa Baghdad memang pantas disebut sebagai The Intelectual capital.[4]
B.     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dibahas salah satu aspek kebudayaan yang mengalami kemjuan pada masa Dinasti Abbasiyah yaitu ilmu pengetahuan. Maka yang menjadi permasalahan dalam makalah ini adalah :
1.      Bidang-bidang apa saja yang mengalami kemajuan ?
2.      Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kemjuan ilmu pengetahuan dan usaha-usaha apa saja yang telah dilakukan dalam pengembangannya ?

A.     Bidang-Bidang ilmu pengetahuan yang mengalami Kemajuan
1.      Kemajuan di Bidang Ilmiah
Terdapat aktifitas ilmiah yang berlansung dikalangan umat Islam pada masa Dinasti Abbasiyah dimana hal ini mengantar mereka mencapai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan.
a.       Penyusunan buku-buku ilmiah
Akitivitas penyusunan buku ini melalui beberapa proses dimana masyarakat Islam pada saat itu hanya mengandalkan hafalan hal ini bertahan sampai pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid.[5]  Kemudian pencatatan pemikiran seperti ilmu hadits kemudian dirangkap, lalu diadakan pembukuan pemikiran-pemikiran atau hadits-hadits Rasulullah dalam satu buku seperti fiqhi, tafsir, hadits. Dan terakhir disusun dan diatur kembali buku yang telah ada ke dalam pasal-pasal dan bab-bab tertentu.[6]
b.      Penterjemahan
Penterjemahan merupakan aktivitas yang paling besar peranannya dalam mentrasfer ilmu pengetahuan yang berasal dari buku-buku bahasa asing, seperti bahasa Sansekerta, Yunani ke dalam bahasa Arab.  Ketika pemerintahan Abbasyiah ini sudah kokoh, terutama pada masa al-Mansyur, Harun al –Rasyid dan al-Ma’mun, maka dari itu mereka mengirim misi untuk membawa kembali hasil karya ilmiah, yang baik dalam bidang filsafat, logika, kedokteran, matematika, astrologi, geografi serta sejarah. Kemudian memerintahkan agar hasil karya mereka diterjemahkan dalam bahasa Arab.[7]
c.       Pensyarahan
Sebelum memasuki abad ke 10 M. kegiatan kaum muslimin tidak hanya menerjemahkan, bahkan mulai memberikan syarahan (penjelasan) dan melakukan tahqiq (pengeditan), pada awalnya muncul dalam bentuk karya tulis, lalu dipadukan dalam berbagai pemikiran dan petikan, analisis dan kritis yang disusun dalam bentuk bab-bab dan pasal-pasal, bahkan dengan keahlian mereka, hasil kritik dan analisis itu dapat melahirkan teori-teori baru, seperti memisahkan aljabar dengan ilmu hisab yang pada ahlinya menjadi ilmu tersendiri secara sistematis.[8]  Pada masa inilah lahirnya karya-kaya ulama yang telah tersusun rapi.
2.      Kemajuan dalam Bidang Pendidikan
Kemajuan dalam bidang pendidikan ini, bukan berarti nanti pada masa pemerintahan Abbasyiah akan tetapi diawal Islam lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Hal ini dapat  diketahui dengan adanya pendidikan terdiri dua tingkat yang pertama, Maktab dan mesjid sebagai pendidikan terindah tempat anak-anak mengenal dasar bacaan, hitungan dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqih dan bahasa, yang kedua tingkat pendalaman, para pelajar ingin meningkatkan ilmunya keluar daerah menuntut ilmu kepda seorang, biasanya berlangsung di mesjid-mesjid atau rumah ulama yang bersangkutan. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut semakin berkembang dengan berdirinya perpustakaan dan akademi, dimana perpustakaan pada masa itu merupakan sebuah universitas karena terdapat buku-buku, orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi dan terjadinya penterjemahan diberbagai macam ilmu ke dalam bahasa  Arab.
3.      Kemajuan Ilmu di Bidang Agama
Pada zaman Dinasti Abbasiyah telah terjadi semacam pembagian wawasan dalam bidang keilmuan menjadi ilmu-ilmu agama (naqli) dan ilmu-ilmu duniawi (aqli) namun yang dimaksud dengan ilmu-ilmu agama, menurut Ahmad Amin adalah ilmu-ilmu yang bersumber baik secara lansung maupun tidak lansung dari agama dengan bahasa Al_Quran.[9]  Dalam batasan ini termasuk dalam kelompok ilmu-ilmu agama adalah tafsir, hadits, fiqih, bahasa Arab dan ilmu Kalam.
a.       Ilmu Tafsir
Kemajuan yang telah dicapai ilmu tafsir pada masa ini adalah berpisahnya dari ilmu hadits, dan terjadi penafsiran secara sistematis. Tafsir pada masa itu terbagi ke dalam dua bentuk :
1.      Tafsir bi-al-ma’tsur yaitu model penafsiran Al-Quran dengan menggunakan interpretasi Nabi dan sahabat-sahabat terkemuka, diantara ahli tafsirnya adalah al-Thabari (w. 310 H). yang berjudul Jami al-Bayan fi Tafsir Al-Quran yang terdiri atas 30 jilid.[10]
2.      Tafsir bi al-ra’yi yaitu model penafsiran yang lebih banyak bertumpu pada kekuatan nalar, diantara ahli tafsir dalam metode ini yang lebih banyak  dipelopori dari aliran Mu’tazilah seperti Abu Bakar al-Sham (w. 240 H). Jadi pada masa inilah semakin berkembang interpretasi Al-Quran, hal ini dipengaruhi oleh perkembanagan-perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.
b.      Ilmu Hadits
Hadits-hadits pada masa sekarang telah diadakan pengkodifikasian sebagai lanjutan dari usaha para ulama sebelumnya. Dimana ulama pada waktu itu pengkodifikasian dilakukan tanpa ada penyaringan sehingga bercampur antara yang datang dari Nabi dan yang bukan dari Nabi. Nanti pada masa Abbasiyah baru diadakan penyaringan dengan melakukan kritik pada sanad hadits, dari sinilah lahirlah kualitas hadits yang terdiri dari hadits shahih, hasan dan dhaif.[11]  Ulama yang terkenal pada masa ini antara lain; Imam Bukhari bukunya shaih Bukhari, Muslim bukunya shahih Muslim, Ibnu Majah dan lain sebagainya. Perkembangan hadits ini sangat dipengaruhi oleh sarana dan prasarana seperti alat tulis dan transportasi.
c.       Ilmu Kalam dan teologi
Ilmu kalam lahir karena dorongan untuk membela Islam dengan pemikiran filsafat dari serangan orang-orang Kristen, Yahudi yang mempergunakan senjata filsafat dan menyelesaikan persoalan agama dengan kemampuan akal pikiran dan ilmu pengetahuan. Orang-orang dari golongan Mu’tazilah yang andil besar dalam mengembangkan ilmu kalam, dan penyelesaiannya bercorak filsafat Islam.[12]  Pada masa ini tokoh-tokoh besar dalam bidang ilmu kalam, seperti dari Mu’tazilah dikenal antara lain Abu al-Huzail al-Allaf (w. 235 H) al-Nizam (w. 231), serta al-Jubbai (w. 290H). sedangkan dari ahlu Sunnah waljamaah antara lain, al-Asy’ary (w. 234), al-Baqillani (w. 403 H), al-Juwaini (w. 479H). Ilmu kalam semakin berkembang pada masa ini dikarenakan adanya penerjemahan bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Ilmu pengetahuan yang paling penting yang muncul dari kecenderungan itu adalah teologi, Hadits, Fikih, dan Linguistik. Kebanyakan sarjana dalam bidang ini adalah keturunan Arab. Minat orang Arab Islam paling awal tertuju pada cabang keilmuan yang lahir karena motif keagamaan. Kebutuhan untuk memahami dan menjelaskan Al-Quran, kemudian menjadi landasan teologis dan linguistik yang serius. Interaksi dengan dunia Kristen pada abad pertama Hijriah di Damaskus telah memicu munculnya pemikiran spekulatif teologis yang melahirkan mazhab pemikiran Murjiah dan Qadariah.[13]
Bidang kajian berikutnya adalah Hadits (sunnah),[14] yaitu perilaku, ucapan, dan persetujuan (taqrir) Nabi, yang kemudian menjadi sumber ajaran yang paling penting. Awalnya hanya diriwayatkan dari mulut ke mulut, Hadits Nabi kemudian direkam dalam bentuk tulisan pada abad kedua  Hijriah. Selama dua setengah abad pertama setelah Nabi Muhammad wafat, catatan tentang perkataan dan perilakunya  terus bertambah, terhadap berbagai persoalan agama, politik, atau sosial setiap kelompok berusaha mencari Hadits untuk memperkuat pendapatnya baik Hadits itu shahih atau palsu. Perseteruan politik antara Ali dan Abubakar, konflik antara Muawiyah dan Ali, permusuhan antara Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Umayyah, serta persoalan supriritas antara orang Arab dan non- Arab, membuka pintu yang sangat yang sangat lebar untuk menjamurnya pemalsuan Hadits.
d.      Ilmu Fiqh
Merupakan kebanggaan pada masa pemerintahan Abbasiyah ini adalah lahirnya empat imam mazhab yang ulung. Mereka itu adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal. Keempat ulama inilah merupakan ulama fiqih yang paling agung dan tiada tandingannya di dunia Islam.
Metode istimbat hukum yang digunakan oleh para fuqaha pada masa ini dapat dibedakan menjadi ahl ra’yi dan ahl hadits. Yang pertama banyak dipengaruhi perkembangan yang terjadi di Kufah, dimana kehidupan masyarakat telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Olehnya itu mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional dari pada hadits, dan tradisi masyarakat Madinah. Perbedaan kedua mazhab ini dapat ditengahi oleh Imam Syafi’i  dan Imam Ahmad bin Hambal.[15]  Kitab-kitab yang terkenal sekaligus menjadi pegangan mazhab mereka adalah al-fiqh al-Akbar karya Imam Abu hanafi, al-Muwaththa karya Imam Malik, Al-Risalah Karya Imam Syafi’i serta al-Kharfy pada masa ini mengalami kemajuan seiring dengan perkembangan pemikiran masyarakat serta lahirnya beberapa buku-buku yang telah dikarang oleh para imam mazhab.
            Selain keempat bidang tersebut di bidang lain ilmu nahwu, tasawuf serta penulisan sejarah juga mengalami kemajuan yang pesat. Tokoh-tokoh ilmu nahwu pada masa ini seperti Basrah adalah Umar al-Tsaqafi, al-Akhfasy dan Labawaihi. Sementara Kufah adalah Abu Jafar al-Kisai dan al-Farra’ sufi yang terkenal adalah Abun Jafar al-Kisai dan al-farra’. Sufi terkenal adalah al-Qusayri Sahabuddin dengan karyanya al-Risalah al-Qusairiyah dan Sahabuddin dengan karyanya Awaruf al-Ma’arif. [16]  Penulisan sejarah tentang biografi Nabi saw oleh Ibn Ishaq, buku ini telah sampai ditangan kita dengan perantaraan muridnya Ibn Hisyam.[17]  Jadi perkembangan ilmu pengetahuan agama pada masa Bani Abbasiyah ini disebabkan karena kesadaran para tokoh yang masing-masing ingin mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai dengan keahliannya.
4.      Kemajuan Ilmu di bidang Filsafat
Kemajuan ilmu pengetahuan yang dicapai pada zaman Abbasiyah ini diawali dengan maraknya kegiatan keilmuan, hal ini disebabkan karena adanya penerjemahan buku-buku karya filosof Yunani ke dalam bahasa Arab yang telah dipelopori Harun al-Rasyd dan al-Ma’mun di lembaga Bait al-Hikmah. Fisofof –filosof muslim yang terkenal pada masa ini antara lain Ya’kub Ibn Ishak al-Kindi, ia turut aktif dalam penerjemahan, namun banyak dalam memberikan kesimpulan dari pada menerjemah karena ia orang kaya sehingga dapat membayar orang untuk menerjemahkan buku-buku yang dibutuhkan.[18]  Ia seorang filosof yang terkenal pada zaman itu karena pendapat-pendapatnya tentang filsafat ketuhan dan filsafat jiwa.
Fisofof lain juga seperti Abu Nasr Muhammad al-Farabi yang lahir di Arab pada tahun 870 M, dari Arab pindah ke Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan. Al-Farabi ada yang menjuluki sebagai seorang filosof Islam pertama. Dialah yang pertama menciptakan sistem Filsafat yang lengkap sebagai mana peran Plotinus bagi dunia barat, karangan-karangannya ada sekitar 30 buah.[19]  Di antara karangan-karangannya adalah Agradha ma Baida at-Tabiah, Tahsil as-sahadah dan sebagainya.
Ibnu Sina salah seoarang filosof muslim karyanya dalam bidang filsafat yang berjudul  Asy-Syifa, buku ini terdiri atas empat bagian yaitu logika, fisika, matematika dan metafisika (ketuhanan), al-Gazali yang terkenal antara lain Ihya Ulumuddin yang artinya menghidupkan ilmu-ilmu agama, al-Mungqis Dhalal yang berarti penyelamat dari kesesatan. Bagi orang Arab, filsafat (falsafah) merupakan pengetahuan tentang kebenaran dalam arti yang sebenarnya, sejauh hal itu biasa dipahami oleh pikiran manusia. Secara khusus nuansa filsafat mereka berakar pada tradisi filsafat Yunani. Yang dimodifikasi denagan pemikiran para penduduk di wilayah taklukan, serta pengaruh-pengaruh Timur lainnya, yang disesuaikan dengan nilai-nilai Islam, dan diungkapkan dalam bahasa Arab. Orang Arab percaya bahwa karya-karya Aristoteles merupakan kodifikasi filsafat Yunani yang lengkap. Dengan demikian, filsafat dan kedokteran Yunani yang berkembang saat itu senyatanya merupakan ilmu yang dimilki oleh Barat. Sebagai muslim orang Arab percaya bahwa Al-Quran dan teologi Islam merupakan rangkuman dari hukum dan pengalaman agama. Karena itu kontribusi orisinal mereka terletak di antara filsafat dan agama di satu sisi, dan di antara filsafat dan kedokteran di sisi lainnya.
Filosof pertama, al-Kindi atau Abu Yusuf Ya’kub ibn Ishaq, ia memang representasi pertama dan terakhir dari seorang murid Aristoteles di dunia Timur yang murni keturunan Arab. al-Kindi lebih dari sekedar seorang filosof, ia ahli perbintangan, kimia, ahli mata dan musik. Kemudian dilanjutkan oleh al-Farabi, nama lengkapnya Muhammad Ibn Muahammad ibn Tharkhan Abu Nashr al-Farabi (Alpharabius), 29 seorang keturunan Turki, dan disempurnakan di dunia Timur oleh Ibn Sina, (w. 1037) seorang keturunan Suriah, yang pernah dijuluki ahli kedokteran yang banyak mengadopsi pandangan filosofis al-Farabi. Menurut Ibnu Khallikan, 34 “tidak ada satupun orang Islam yang pernah mencapai pengetahuan filosofis yang menyamai prestasi al-Farabi; dan melalui terhadap berbagai kajian karyanya, serta peniruan terhadap gaya penulisannya itulah Ibn Sina mencapai keunggulan, dan menjadikan karya-karyanya sedemikian bermanfaat”. Meski demikian, Ibn Sina merupakan pemikir yang sanggup menyatukan berbagai kebijaksanaan Yunani dengan pemikirannya sendiri yang dipersembahkan untuk kalangan muslim terpelajar dalam bentuk yang mudah dicerna.[20] Demikianlah diantara tokoh-tokoh yang hidup pada masa Abbasiyah.
5.      Kemajuan Ilmu dalam Bidang Sains
Merupakan bukti sejarah, bahwa banyak dari peradaban Islam khususnya dalam kemajuan sains yang ditransfer ke Eropa, dan dapat dibuktikan bahwa telah ada suatu peradaban gemilang yang dimainkan oleh para pelaku sejarah dari kalangan dunia Islam. Sebagai bukti bahwa ketika Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun sudah giat menyelami filsfat Yunani dan Persia, sementara orang-orang di dunia Barat pada waktu itu seperti Karl Agung dan kaum ningratnya masih bercakar-cakar untuk belajar menulis nomornya sebagaimana yang diungkapkan oleh Philip K. Hitti.[21]  Perkembangan sains itu merupakan pengaruh gerakan terjemahan terutama di bidang astronomi, kedokteran, matematika dan lain sebagainya.
a.       Astronomi
Ahli astronomi Islam yang terkenal adalah al-Fazzari yang hidup pada masa khalifah al-Mansyur sebagai seorang Islam yang pertama kali yang menyusun astrolober (alat yang dahulu dipakai sebagai pengukur tinggi bintang), sedang al-Farqani yang dikenal di Eropa mengarang ringkasan tentang ilmu astronomi kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa latin lalu diterjemahkan oleh Gewrar Cremona dan Johannes Hispalensis.[22]  Astronomi Islam yang lainya seperti Ya’qub bin Thariq, Muhammad bin Umar al-Balkhi dengan karyanya seperti kitab al-Madhal al-Kabir, al-Battani penulis buku al-Zaij al- Shabi oleh al-Khawarizmi dan lain sebagainya.[23]  Demikianlah berbagai ahli astronom Islam Abbasiyah.
b.      Kedokteran
Pada masa Dinasti Abbasiyah ini ilmu kedokteran telah mencapai puncaknya sehingga melanirkan para dokter yang terkenal. Diantaranya adalah Yuhannah bin Musawai dalam bukunya yang terkenal al-Asyr al-Maqalat fi al- Ain tentang pengobatan penyakit mata, Abu Bakar al-Razi termasuk ketua seluruh dokter di seluruh Baghdad, karyanya yang sangat terkenal adalh Kitab Asrar, kitab al-Manshuri, al-Juwadi wa al-Hasbah serta al-Hawi yang merupakan Ensiklopedi tentang medis dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin pada tahun 1279.[24]   Ibnu Sina termasuk juga seorang dokter yang sangat mashur karangannya dalam bentuk ensiklopedi berjudul al-Qanun fi al-Thib, yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan menjadi buku-buku standar untuk universitas-universitas di Eropa sampai akhir abad ke 17 M. Buku ini pernah diterbitkan di Roma pada tahun 1593 M. dan di India pada tahun 3123 H.[25]  Jadi pada dasarnya perkembangan kedokteran disebabkan perkembangan dalam bidang perekonomian karena sebagian kekayaan Negara dipakai untuk membiayai kedokteran dan rumah sakit.
c.       Matematika
Disamping perkembangan sains di atas ilmu pasti (matematika), dikenal Muhammad ibn Musa al-khawarizmi, adalah yang menemukan ilmu al-jabar wa al-Muqabalah yang sangat mempengaruhi ilmuan sesudahnya seperti Umar Khayam.
Demikianlah puncak kejayaan yang telah dialami oleh Khalifah Abbasiyah sampai masa khalifah al-Mutawakkil. Sepeninggalnya daulat ini  mulai mengalami kemunduran karena khlifah-khlifah penggantinya pada umumnya lemah tidak mampu melawan kehendak tentara yang sangat berkuasa sehingga khalifah tidak punya peranan lagi yang punya peranan hanyalah tentara-tentara dari Turki.
B.     Faktor-Faktor Penyebab Kamajuan Ilmu Pengetahuan
Masyarakat Islam pada Dinasti Abbasiyah ini mengalami kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang sangat pesat yang dipengaruhi oleh dua factor :
1.Faktor politik
a.       Perpindahan ibu kota Negara dari Syam ke Irak dan Baghdad sebagai ibu kota pada tahun 146 H. dimana Baghdad pada waktu itu merupakan kota yang tinggi kebudayaannya dan sudah lebih dahulu mencapai tingkat ilmu yang lebih tinggi dari Syam.
b.      Banyaknya cendekiawan yang diangkat sebagai pegawai pemerintah dan istana. Khalifah-khalifah Abbasiyah seperti al-Mansyur banyak mengangkat pegawai pemerintahan dan istana dari cendekiawan Persia, yang banyak berpengaruh seperti dia mengamgkat Khalid keluarga dari Barmark sebagai Wazir.
c.       Mu’tazilah diakui sebagai mazhab resmi Negara pada masa al-Ma’mun dan dilanjutkan oleh adiknya al-Mu’tasim.
1.      Faktor Sosiografi
Yang termasuk faktor sosiografi adalah  sebagai berikut :
a.       Peningkatan kemakmuran umat pada masa Dinasti Abbasiyah ini, menurut Ibnu Khaldun adalah ilmu itu seperti industri, banyak atau sedikitnya tergantung pada kemakmuran, kebudayaan dan kemewahan hidup masyarakat.[26]  Sehingga apabila taraf hidup masyarakat itu rendah maka peningkatan ilmu itu sulit dicapai dengan baik.
b.      Luasnya wilayah kekuasaan Islam menyebabkan banyaknya orang Persia dan Romawi masuk Islam. Hal ini disebabkan hasil perkawinan yang melahirkan keturunan yang tumbuh dengan memadukan kedua kebudayaan.[27]
c.       Pribadi beberapa khalifah pada masa itu terutama pada masa pemerintahan al-Mansyur, Harun al-Rasyid dan al-ma’Mun yang sangat mencintai ilmu pengetahuan sehingga kebijakanya banyak ditujukan pada peningkatan ilmu pengetahuan.[28]
d.      Selain permasalahan tersebut, bahwa permasalahan yang dihadapi masyarakat semakin kompleks dan berkembang.

Kesimpulan
Perkembangan ilmu dalam bidang agama, filsafat, pendidikan dan sains, sangat pesat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk faktor kebijakan politik pemerintahan dan sosiografi, dimana permasalahan masyarakat semakin kompleks dan masyarakat membutuhkan pengaturan pembukuan dari berbagai macam ilmu pengetahuan, termasuk kemajuan yang dicapai pada masa Dinasti Abbasiyah ini yang ditandai dengan adanya aktifitas ilmiah, seperti penerjemahan, pensyarahan dan penyusunan buku-buku ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

al-Basya, Hasan. Dirasat Fiy Hadarat al-Islamiyah. Cairo: Matba’at Jami’at al-Qahirat 1992.

Amin, Ahmad , Dhuha Islam, Juz II Kairo: Maktaba al-Nahdah al-Mishriyat,

Hasyim, A. Sejarah Kebudyaan Islam. Jakrta: Bulan Bintang, 1979.

Ibrahim Hassan, Hassan, Islamic History and Culture, diterjemahkan oleh Jhohan Human dengan judul “Sejarah dan Kebudayaan Islam”, Cet. I; Yogyakarta: Kota Kembang, 1989

Muafradi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Cet. II; Jakarta: Logos, 1999.

Nasution, Harun,  Ensiklopedi Islam di Indonesia, Vol I, Jakarta : Depag RI, Direktorat Pembinaan Kelembagan Islam Proyek Peningkatan Prasarana dan Sarana Pengurus Tinggi Agama/IAIN, 1992/1993.

______________,  Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid I, Jakart: UI Press, 1984.
______________, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Cet. VII; Jakarta, 1990.

K. Hitti, Philip, Dunia Islam, Sejarah Ringkas, diterjemahkan oleh Ushuluddin Hutagalung dan O.D.P. Sihombing (Bandung; Sumur, t. t.)

______________, History of Thale Arabs; From thale Earliest Times to thale Present,  New York: Palgrave Macmillan, 2002

____________, The Capital Cities Of Arab Islam. Minneapolis: Oxford University Press



Poerwantha. (et.al), Seluk Beluk Filsafat Islam. Cet I; Bandung: Rosda Karya, 1988.




[1] Lihat HALasan al-Basya, Dirasat Fiy HALadarat al-Islamiyahal (Cairo: Matba’at Jami’at al-Qahalirat 1992), hal. 24
[2]HALarun Nasution (edit), Ensiklopedi Islam di Indonesia, Vol I, (Jakarta : Depag RI, Direktorat Pembinaan Kelembagan Islam Proyek Peningkatan Prasarana dan Sarana Pengurus Tinggi Agama/IAIN, 1992/1993), hal. 8.  
[3] HALarun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid I, (Jakart: UI Press, 1984), hal. 70
[4] Phalilip K. HALitti, Thale Capital Cities Of Arab Islam (Minneapolis: Oxford University Press), hal. 85
[5] Lihat, HALassan Ibrahalim HALassan, Islamic HAListory and Culture, diterjemahalkan olehal Jhalohalan HALuman dengan judul “Sejarahal dan Kebudayaan Islam”, (Cet. I; Yogyakarta: Kota Kembang, 1989), hal. 131.
[6]  Lihat Montohala, (et. al), op. cit, hal. 45
[7] Lihat Ahalmad Amin, Dhaluhala Islam, Juz II (Kairo: Maktaba al-Nahaldahal al-Mishalriyat, t. thal), hal. 12
[8] Lihat Ibid.
[9] Lihat Ahalmad Amin, Dhaluhala Islam, op.cit., hal. 12
[10] Lihat, HALasan Ibrahalim, HALassan, op.cit., hal. 138
[11] Lihat, Ibid
[12] Lihat Munthalohala, (et. al), op.cit, hal. 52
[13] Philip K. Hitti, History of Thale Arabs; From thale Earliest Times to thale Present,  (New York: Palgrave Macmillan, 2002), hal. 492
[14] Ibid,  
[15] Lihat Ibid., hal. 54.
[16] Lihat A. HALasjmi, op. cit., hal. 260
[17] Lihat HALasan Ibrahalim HALassan, op. cit., hal. 135.
[18] Lihat Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam (Cet. VII; Jakarta, 1990), hal. 26
[19] Lihat Poerwantha. (et.al), Seluk Beluk Filsafat Islam. (Cet I; Bandung: Rosda Karya, 1988), hal. 134.
[20] Phalilip K. HALitti, HAListory of Thale Arabs; From thale Earliest Times to thale Present, 0p.cit.halal. 462
[21] Lihat Phalilip K. HALitti, Dunia Islam, Sejarahal Ringkas, diterjemahalkan olehal Ushaluluddin HALutagalung dan O.D.P. Sihalombing (bandung; Sumur, t. t.). hal. 119
[22] Lihat Badri Yatim, op.cit., hal. 57-58. Lihat juga Muntohala, (et.al), op.cit., hal. 57.
[23] Lihat Muntohala, Ibid.
[24] Lihat Ibid., hal. 56
[25] Lihat Poerwantahala, (et.al), op.cit., hal. 146.
[26] Lihat Muntohala (et.al), op.ci., hal. 43
[27] Lihat A. HALasyim, Sejarahal Kebudyaan Islam. (Jakrta: Bulan Bintang, 1979), hal. 245.
[28] Lihat Ali Muafradi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Cet. II; Jakarta: Logos, 1999), hal.102 
HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html