Home » , » Islam Di Filipina

Islam Di Filipina

Youchenky Salahuddin Mayeli | Minggu, November 11, 2012 | 0 komentar
Muslimin di Filipina merupakan salah satu umat minoritas yang ada di kawasan Asia Tenggara. Mereka merupakan sisa-sisa umat Islam yang pernah jaya di masa silam. Islam Filipina selama ini cenderung dituding sebagai teroris, karena mereka memilih jalan untuk melawan pemerintahan yang tidak Islam. 

Hal ini mereka lakukan, demi perjuangan Islam yang dulunya sempat jaya, akan tetapi kemudian runtuh akibat serbuan bangsa Barat yang terjadi di kawasan Asia Tenggara. 

Pada saat bangsa Barat datang ke Asia Tenggara, mereka berusaha untuk menyebarkan agama Kristen di samping mereka mencari rempah-rempah. 

Sebenarnya, sebelum bangsa Barat datang, Islam sudah terlebih dahulu ada di tanah Filipina. Meskipun demikian Islam di Filipina masih belum tersebar luas. Oleh karena itu, setelah bangsa Barat datang, merekapun memanfaatkan mayarakat Filipina yang belum masuk Islam untuk memeluk agama Kristen dan di doktrin untuk memerangi saudaranya sendiri yang beragama Islam. Dengan demikian, maka terjadilah peperangan saudara yang akhirnya dimenangkan oleh kaum Kristen. 

1. Sejarah Islam Filipina 

Islam tersebar di wilayah ini pada abad ke-6 H/12 M. Saat itu penjajah Portugis telah sampai di wilayah ini. Kemudian disusul oleh Belanda dan Inggris yang datang pada tahun 1211H/1796 M. Terjadilah perlawanan dan revolusi di negeri ini sejak tahun 1305 H. Negeri ini berada dibawah perlindungan Inggris sejak tahun 1367 H/ 1947 M, dan mengumumkan diri sebagai negara republik yang merdeka pada tahun 1385 H/ 1965 M. Adapun di Filiphina, Islam tersebar hampir mencapai seluruh kepulauannya, pula telah berdiri pemerintahan Islam. [1]

Pada tahun 1380 Karimul Makhdum yang pertama mubaligh Islam Arab mencapai Kepulauan Sulu dan Jolo di Filipina dan mendirikan Islam di negara ini. Pada 1390 di Putera Minangkabau Raja Baguinda dan para pengikutnya mengajarkan Islam di pulau-pulau. The Sheik Karimal Makdum Masjid adl masjid pertama kali didirikan di Filipina pd Simunul di Mindanao pd abad ke 14. Perkampungan seterusnya oleh mubaligh Arab bepergian ke Malaysia & Indonesia membantu menguatkan Islam di Filipina dan penyelesaian masing-masing diperintah oleh seorang Datu, Raja dan Sultan. Wilayah-wilayah Islam didirikan di Filipina termasuk Kesultanan Maguindanao, Kesultanan Sulu dan bahagian lain dari Filipina Selatan.[2]

Selama masa yang hampir mencapai 4 abad, telah terjadi upaya penjauhan ajaran Islam dari generasi kaum muslim secara berturut-turut lewat jalan peperangan yang menghancurkan kaum muslimin dan memaksa mereka untuk memeluk agama Nasrani denagn ancaman kekerasan. Sekalipun demikian, mereka tidak juga mampu mengalahkan pemerintahan-pemerintahan Muslim, sehingga disana masih tersisa beberapa pemerintahan. Spanyol belum berhasil sepenuhnya menguasai Filipina khususnya kepulauan Mindanao dan Sulu. 

Amerika Serikat kemudian menguasai kepulauan Filipina pada tahun 1317 H/ 1899 M. Maka timbulah perlawanan menentanganya dan berlangsung hingga tahun 1339 H/ 1920 M. Setelah itu kaum Muslimin menyerah, karena mereka tealh ditimpa penyakit “wahn”(penyakit cinta dunia dan takut mati). Kemudian tersebarlah berbagai penyakit, kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan diantara mereka. 

2. Letak Geografis 

Filipina adalah negara kepulauan dengan 7.107 buah pulau. Penduduknya yang berjumlah 47 jiwa menggunakan 87 dialek bahasa yang berbeda-beda yang mencerminkan banyaknya suku dan komunitas etnis.[3]

Luas Mindanao ialah 94.630 km², lebih kecil 10.000 km² dari Luzon. Pulau ini bergunung-gunung, salah satunya adalah Gunung Apo yang tertinggi di Filipina. Pulau Mindanao berbatasan dengan Laut Sulu di sebelah barat, Laut Filipina di timur dan Laut Sulawesi di sebelah selatan. Pada saat itulah orang-orang salib menawarkan berbagai bantuan, hingga akhirnya Islam surut kembali di negeri itu.[4]

Kepulauan Moro kaya akan sumber daya alam dan pertambangan, juga kesuburan tanahnya, namun sangat tertinggal dalam pembangunan ekonomi karena diabaikan oleh pemerintah Manila. Faktor inilah yang kemudian menjadi salah satu pemicu sering terjadinya pergolakan di Filipina Selatan akibat ketidakpuasan masyarakat yang diperlakukan secara tidak adil oleh pemerintahnya sendiri.[5]

3. Muslim Moro 

Orang-Orang Islam di Filipina menamakan diri mereka Moro. Namun, nama ini sebenarnya lebih bersifat politis, karena dalam kenyataannya Moro terdiri dari dari banyak kelompok etnolinguistik, umpamanya Maranao, Maguindanao, Tausug, Samal, Yakan, Ira Nun, Jamanapun, Badjao, Kalibugan, Kalagan dan Sangil. Jumlah masyarakat Moro sekitar 4.5 juta jiwa atau 9% dari seluruh penduduk Filipina.[6] Istilah Bangsa Moro kombinasi dari Bahasa Melayu Kuno - Bahasa Sepanyol kata Moro diwarisi dari al-Andalus di Sepanyol.[7]

Kepulauan Sulu di Filipina selatan terletak sepanjang rute perdagangan antara Malaka dan Filipina, karenanya pedagang Arab dikenal sebagai orang yang membawa Islam ke wilayah ini. Kepulauan Sulu merupakan jalur perdagangan penting yang menghubungkan antara pedagang Arab dan Cina selatan. Menurut sebagian ahli, ada kemungkinan telah terjadi Islamisasi oleh Cina Muslim. Disamping kepulauan Sulu, pulau Mindanao adalah tempat tinggal Muslim. Di Mindanao, Islam dibawa oleh Sharif Kabungsuwan yang berasal dari Johor yang merupakan keturunan Nabi saw. dan ibu seorang Melayu. Dia menikahi Putri Tunina.[8]

Mayoritas orang-orang Moro adalah nelayan dan petani. Orang Moro merasa berbeda dengan orang Filipina. Perbedaan tersebut sesungguhnya bukan pada faktor etnis, karena jumlah kelompok etnis mendekati 100 di Filipina tetapi lebih pada faktor sejarah politik, wilayah, agama,dan kondisi sosial ekonomi.[9]

Dilihat dari aktivitas kerja, orang-orang Islam Moro ada yang bekerja di sektor pemerintahan sebagai guru, administratur, personil angkatan bersenjata, pegawai kantor kehakiman dan bahkan ada pula yang terpilih sebagai gubernur. Kaum Muslim yang mendapat pendidikan sekular enderung mudah menyatu dengan negara Filipina. Sebaliknya yang tidak mau menerima pendidikan sekular dan hanya mendapatkan pendidikan agama secara tradisional, biasanya tidak menghendaki integrasi dengan Filipina, terutama kelompok elit lokal yang mendapat pendidikan di Timur Tengah. Antara kelompok elit tradisional dan massa terdapat jurang pemisah yang cukup lebar di kalangan masyarakat Moro. Identifikasi dan kesadaran etnik yang terjadi karena pembagian komunitas-komunitas Muslim secara geografis, tampaknya sangat kuat. Namun, meskipun terdapat variasi dan perbedaan itu, terdapat perasaan persaudaraan keagamaan terutama menghadapi persoalan yang sama.[10]

4. Perkembangan Islam di Filipina 

Keadaan darurat pada 1972 yang diberlakukan oleh Presiden Marcos mengarah pada semakin memburuknya pelaksanaan hukum. Masyarakat baru yang ingin dibangun oleh Marcos merupakan upaya untuk memperbaiki kebobrokan yang melanda Filipina sebagai negara. Kaum Muslim tentu saja terpengaruh; namun pada tingkat pemerintahan mereka telah diberi konsensi. Pemberontakan kaum Muslim dilihat sebagai sesuatu yang terlalu mahal dan tidak perlu. Perjanjian Tripoli yang diupayakan untuk menghentikan pertempuran antara pihak MNLF dengan pemerintah diadakan. Langkah-langkah positif telah dilakukan pemerintah untuk menunjukkan perhatian dan iktikad baik. Diantaranya adalah dengan pembentukan Filipine Pilgrimage Authority, yaitu agen pembangunan dan kesejahteraan Muslim dan pelaksanaan hukum keluarga bagi kaum Muslim.[11]

Pada 28 Mei 1981, Pemerintah membentuk Kementrian Urusan Agama Islam atau Office of the Commiisionerfor Islamic Affair (OCIA) dengan tugas menerapkan kebijakan yang menjamin penyatuan masyarkat Muslim ke dalam masyarakat Filipina secara keseluruhan. Salah satu program yang secara langsung berkaitan dengan masalah perekonomian umat Islam adalah didirikannya Philippine Amanah Bank. Bank ini merupakan kombinasi dari bank finansial, pembangunan komersial dan tabungan dengan sistem Islam dengan tujuan untuk membiayai dan melaksanakan pengembangan pertanian, pabrik, pertambangan, transportasi dan industri lainnya di wilayah Selatan. 

 Kesimpulan 

Masyarakat Muslim di Filipina merupakan komunitas minoritas dari keseluruhan rakyat Filipina. Oleh karena itu, kaum Muslim Moro amatlah sentimen terhadap pemerintah Filipina yang mayoritas beragama Katholik. Meskipun demikian, Islam Filipina juga memiliki dua karakter, ada yang dapat berbaur dengan pemerintah seperti Islam sekular, akan tetapi bagi Muslim yang hanya belajar secara tradisional tentunya akan menolak pemerintah Filipina. 

Pemerintah Filipina sejauh ini telah mengambil upaya-upaya untuk mempersatukan Muslim dengan masyarakat Filipina pada umumnya. Hal ini diwujudkan dengan dibentuknya bank-bank yang berbasis Islam. 

Meskipun pemerintah telah berupaya untuk mempersatukan kaum Muslim dengan masyarakat Filipina pada umumnya, akan tetapi masyarakat Moro tampaknya masih agak menolak. Hal ini dikarenakan Masyarakat Moro menganggap bahwa mereka berbeda dengan masyarakat Filipina pada umunya. 

Dengan demikian, solusi yang harus ditempuh kedua belah pihak menurut saya tidak lain mereka harus saling memahami, utamanya masyarakat Moro yang harus menghilangkan anggapan bahwa mereka berbeda dengan masyarakat Filipina, sehingga mereka dapat berbaur dan hidup berdampingan dengan aman dan tenteram. 


DAFTAR PUSTAKA 


A. Majul, Cesar. Dinamika Islam Filipina. Cet. 1; Jakarta : LP3ES, 1989. 

Musthofa, S. The science of islam. http://www.ilmuilmuislam.com (13 Juni 2012) 

Al-Mawardi, Abu Al-Hasan,Tt. Cendikiawan Muslim. http://id.wikipedia.org (13 Juni 2012) 

Syafi’I Arkom. Blogs Ilmuan Muslim. http://id.wordpress.com/tag/ilmuwan-muslim/ (13 Juni 2012) 

Thohir, Ajid. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. Cet. 1; Jakarta: Rajawali Pers, 2009. 

http://www.rahasiasunnah.com/393/islam-di-filipina.htm (13 Juni 2012) 

http://www.materiislam.com/2011/05/21/perjuangan-muslim-di-filipina-selatan 


[1] Al-Mawardi, Abu Al-Hasan,Tt, Cendikiawan Muslim. http://id.wikipedia.org (13 Juni 2012) 


[2] http://www.rahasiasunnah.com/393/islam-di-filipina.htm (13 Juni 2012) 


[3] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam (Cet. 1; Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h. 275. 


[4] Syafi’I Arkom. Blogs Ilmuan Muslim. http://id.wordpress.com/tag/ilmuwan-muslim/ (13 Juni 2012) 


[5] http://www.materiislam.com/2011/05/21/perjuangan-muslim-di-filipina-selatan 


[6]Ajid Thohir, Op.cit . h. 276 


[7] http://www.rahasiasunnah.com/393/islam-di-filipina.htm (13 Juni 2012) 


[8] Musthofa, S. The science of islam. http://www.ilmuilmuislam.com (13 Juni 2012) 


[9] Ajid Thohir, loc.cit. 


[10] Cesar A. Majul, Dinamika Islam Filipina (Cet. 1; Jakarta : LP3ES, 1989), h. 36-63 


[11] Ibid.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Racik Meracik Ilmu - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger