Sunday, 1 December 2013

Cerita Sejarah (Sejarah Sebagai Kisah)

Peristiwa sejarah tidak pernah berulang."jika memang demikian, bagaimana generasi berikutnya mengetahui peristiwa masalah lalu?" pertanyaan ini menuntut peran sejarawan untuk menghadirkan kembali peristiwa itu dalam bentuk cerita sejarah dalam konteks ini sejarawan berperan sebagai pengawal warisan budaya dan penutur kisah sejarah perkembangan umat manusia. [1]
Masa lalu yang di teliti oleh sejarawan bukanlah masa lalu yang mati, akan tetapi masa lalu  dalam suatu pengertian yang masih hidup pada masa sekarang.[2] Ketika sejarawan mencoba mengkisahkan kembali peristiwa masalah lalu, terkadang mungkin anggapan bahwa sejarah sebagai bagian dari sastra. Karya sastra merupakan sesuatu deskripsi tentang suatu objek tertentu, yang kondeskripsianya mengandalkan semata-mata kemanpuan sastrawan. Kisah yang dilukiskan didesain sedemikian rupa dengan menggunakan keindahan bahasa, sehingga sang pembaca seakan merasakan atau menyaksikan langsung apa yang di lukiskan penulisnya. Apakah memang demikian? Antara sejarah dan sastra disamakan atau sebaliknya harus di pisahkan antara satu dengan yang lainnya.
A.  Konsep Cerita Sejarah
Banyak orang mengira dan menganggap bahwa cerita tentang masa lalu itu adalah sejarah. Padahal, tidak semua cerita masa lalu itu dapat dikatakan sebagai sejarah, sebab objek kajian/kisah sejarah adalah manusia dan tindakan manusia. Umumnya, hal yang sudah terjadi di kategorikan sebagai sejarah jika peristiwa itu menunjukkan perubahan sebagai pada kurun waktu tertentu dari kehidupan umat manusia. Agar tidak terjadi kesimpang-siuran dalam memahami tentang apa yang telah terjadi sebagai sejarah atau bukan. Maka perlu di bedakan antara cerita sejarah dan cerita yang mengandung unsur sejarah.
Cerita sejarah berisi tentang suatu kejadian yang telah terjadi yang digambarkan apa adanya. Manusia dilukiskan berdasarkan sifat-sifat kemanusiaanya. Seperti susah senang, jatuh cinta, hidup mati, dan sebagainya[3].
B.     Membuat cerita sejarah
Dalam membuat cerita sejarah, ada empat yang penting yang harus diperhatikan, yaitu: perang, isi, susunan, dan pembabakan cerita sejarah. Uraian mengenai keempat elemen penting ini, dapat dilihat sebagai berikut.
Pertama, peran cerita sejarah, yakni menggambarkan tentang peristiwa yang telah terjadi sesuai dengan sumber sejarah dan sudut pandang sajarawan. Cerita sejarah dalam konteks ini, merupakan upaya menghubungkan antara history as objective dengan history as subjective.
Kedua, isi cerita sejarah. Tidak semua peristiwa menjadi cerita sejarah . ada dua yang harus diperhatikan yaitu peristiwa itu melukiskan tentang perjuangan manusia kearah kehidupan yang lebih sempurna (2) perisatiwa yang di ceritakan itu menpunyai arti atau bagian penting dari suatu perjuabngan suatu Negara, kota , daerah, desa, atau lingkungan kehidupan kenengaraan misalnya napoleon bona parte perjanjian , tordessilas, keruntuhan malaka 1511, peristiwa pembunuhaan peristiwa pembunuhan putra mahkota Austria. Secara khusus di Indonesia seperti lahirnya Budi utomo 1908, sumpah pemuda 28 Oktober 1928,proklamasi 17 Agustus 1945, dan seterusnya.
Ketiga, susunan cerita sejarah di seleksi sesuai dengan sikap penulis. Namun demikian ia harus memperhatikan aspek-aspek metode serialisasi dalam cerita sejarah yang meliputi: (1)Koronologi atau berurutan sesuai dengan waktu kejadiannya, sebab susunan cerita sejarah yang koronologi akan menghidarkan para pengulangan-pengulangan dalam alur cerita (2) hubungan sebab akibat, biasanya dalam menjelaskan peristiwa sejarah sebab selalu mendahului akibat sehingga tampak suatu dialog yang menarik bagi pembacanya. Ketiga daya imajinasi dalam menghadirkan kembali peristiwa sejarah yang telahb terjadi dalam bentuk kisah atau cerita sejarah[4]
Keempat pereodisasi (pembabakan waktu) cerita sejarah tergantung pada sikap sejarawan sesuai dengan sumber-sumber sejarah yang diperoleh, dengan tujuan untuk mengarahkan (focus) cerita sejarah pada periode tertentu. Pembabakan ini penting untuk memudahkan pengertian, melakukan penyederhanaan, mengetahui peristiwa sacara kronologi, dan memudahkan klasifikasi dalam ilmu sejarah.[5]
C.    Orientasi Cerita Sejarah
Cerita sejarah pada dasarnya adalah upayah menghadirkan peristiwa yang terjadi. Tetapi, tidak dalam arti membalikan arah perputaran waktu sehingga peristiwa itu dapat dilihat kembali. Hal yang dimaksud adalah bahwa sejarawan mencoba mengkisahkan kembali peristiwa itu untuk diketahui oleh generasi sekarang. Pengkisahan tentang masa lalu dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu:
Pertama, pandangan hidup sangat mempengaruhi orientasi kisah sejarah. Sebab sejarah adalah jumlah pengalaman manusia dalam proses waktu dan ruang (lingkungannya). Pendirian ilmuan abad pertengahan terkaid dengan gerak sejarah berbeda dengan sudut pandang sejarawan Abad Modern. Bagi sejarawan golongan pertama, tuhan adalah pusat dari segalah perubahan dalam kehidupan masyarakat manusia sebut saja runtuhnya imperim Romawi di sebabkan karnah tuhan berkehendak. Hal itu ditengarai oleh sifat manusia dalam memimpin  imperium itu telah melampaui kekuasaan ilahi. Karna itu dengan jalan keruntuhan, maka supremasi tuhan dapat ditegakkan untuk menyadarkan pada manusia. Sebaliknya, kehendak tuhan mengenai penyelenggaraan kehidupan tidak dapat berjalan. Singkatnya manusia dengan akal pikirannya adalah segalanya dan karya sejarah seperti ini disebut sebagai sejarah Profan.
Kedua, aspek keyakinan seperti pendirian sejarawan baik langsung ataupun tidak langsung, mempengaruhi karya yang dihasilkannya. Demikian juga dengan peristiwa yang terkait dengan agama, seperti perang salib dilihat secara berbeda oleh sejarawan muslim dan sejarawan Kristen. Kecenderungan untuk mengungkap secara berlebihan perang kaum muslimin, termasuk pula rangkaian peristiwa yang terjadi adalah warna utama dalam ekspalanasi sejarawan. Sebaliknya, cara pandang dan karya sejarah dari ilmuwan Islam, sejarah Kristen pun juga mendominankan peran kaum nasrani dalam sejarah Perang Salib.Keyakinan sebagai sebuah lensa bagi sejarawan untuk menoropong kejadian-kejadian masa lalu, harus juga disempurnakan dengan lensa lainnya: Ketiga, lensa kejujuran. Kejujuran merupakan suatu keharusan dalam menyusun cerita sejarah agar tidak sepenuhnya subyektif. Sering di persoalkan mengenai objektifitas dan subjektifitas karya para sejarawan. Semua karya sejarah pasti mengandung dua hal ini, namun yang penting keduanya harus di tempatakan sesuai dengan konteksnya. Sebab, manusia disamping sebagai objek, ia juga adalah subjek. Dengan demikian hal itu turut mewarnai segala tindakannya, termasuk cerita sejarah yang dibuatnya.Selain ketiga aspek tersebut, perseptif atau cara pandang sejarawan pun mempengaruhi alur Cerita sejarah yang dihasilkan. Cari pandang tersebut tentukan oleh dari mana sejarawan itu melihat objek sejarah (tempat). Jauh dan dekatnya (jarak) antara sejarawan dengan peristiwa akan mempengaruhi karya sejarah kedekatan yang dimaksud di tinjau dari dua sisi, yaitu waktu dan kedekatan emosional. Apakah peristiwa itu telah lama terjadi? Atau belum lama sebab, kedekatan waktu akan mempengaruhi kemanpuan imajinasi sejarawan atas objek sejarah. Semakin jauh jarak waktu, maka hasil imajinasinya pun akan jauh dari kenyataan yang sesungguhnya, kecuali jika terdapat sejumlah dokumen (arsip) yang memadai yang memberikan informasi tentang oeristiwa apa yang dilukiskan dengan oelaky sejarah dalam oeristiwa dalam repolysi Indonesia (1945-1949) akan berbeda dengan pandangan generasi muda sekarang.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada pembahasnan di atas maka kesimpulan yang dapat dipaparkan dalam makalah ini adalah:
1.    Cerita sejarah adalah cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian dan peristiwa dalam kenyataan sekitar kita.
2.     Dalam membuat cerita sejarah, ada empat hal penting yang harus diperhatikan, yaitu: peran, isi, susunan, dan pembabakan cerita sejarah.




 1 Louis Gootschalk, 1986. Mengerti Sejarah (Diterjemahkan oleh Nugroho Noto susanto).Jakarta; UI Press, hal 57.
 2  Collingwood. 2004. Filsafat Sejarah:Investigasi Historis dan Arkeologis (Diterjemahkan oleh arselinus kepata). Yogyakarta: Insight reference,hlm. 119.

 3 P. Swantoro. 2002. Dari Buku ke Buku.Sambung Menyambung Menjadi Satu. Jakarta.Kepustakaan Populer Gramedia, hal 122-124.
[4] G.J.Renier.1997. Lac. Git; Louis Gootschalk. 1986. Lac. Git.
[5] Rustan Effendy Tamburaka. 1999.Pengantar bIlmu Sejarah.Teori Filsafat Sejarah ,
Sejarah Filsafat dan Iptek ..Jakarta:Rineka Cipta, hlm 22-23.

0 komentar:

HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html HTTPS://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html